Breaking News:

Coffee Break

Coffee Break Tribun Jabar Minggu Ini: Maju-Mundur Larangan Mudik

KETIKA berangkat ke Bandung dari kota kecil kami Bumiayu, beberapa waktu lalu, saya naik bus dengan jumlah penumpang di bawah sepuluh orang.

Penulis: Hermawan Aksan | Editor: Hermawan Aksan
Coffee Break Tribun Jabar Minggu Ini: Maju-Mundur Larangan Mudik
istimewa
Hermawan Aksan, Wartawan Tribun Jabar

Oleh Hermawan Aksan

KETIKA berangkat ke Bandung dari kota kecil kami Bumiayu, beberapa waktu lalu, saya naik bus dengan jumlah penumpang di bawah sepuluh orang. Di perjalanan penumpang memang bertambah, tapi hitungannya beberapa orang saja. Total tidak sampai dua puluh orang hingga ke Bandung.

Jika dirata-rata tiap orang membayar seratus ribu rupiah, penghasilan kotor bus itu kurang dari dua juta rupiah. Dipotong biaya beli bensin dan uang buat sopir, kenek, dan kondektur, uang yang tersisa mungkin tinggal satu juta. Sebagian dari sisa uang itu akan dipakai buat biaya pemeliharaan karena dalam sekali jalan pergi-pulang dari Bandung menuju kota tujuan dan kembali ke Bandung, pasti terjadi keausan pada ban, perlu penggantian oli mesin, dan sebagainya.

Itu dengan penumpang yang terhitung “lumayan” pada musim pandemi ini. Ketika kemudian saya pulang ke Bumiayu, saya naik bus perusahaan yang sama dan total penumpangnya dari Bandung sekitar sepuluh orang. Itu pun tidak semuanya turun di kota tujuan, tapi sebagian ada yang turun di daerah Brebes dan Tegal.

Baca juga: Coffee Break Tribun Jabar Minggu Ini: Menuju El Clasico ala Indonesia

Baca juga: Coffee Break Tribun Jabar Minggu Ini: Aing Persib, Aing Persija

Apakah penghasilan mereka, para kru bus dan pemilik perusahaan, memadai? Sudah begitu, jika pada keadaan normal sebelum pandemi dalam sehari bisa sembilan atau sepuluh bus yang jalan, pada musim pandemi ini dalam sehari paling banyak lima bus. Jadi, total bus yang ada tidak jalan setiap hari, tapi bergantian. Dengan begitu, para kru pun tidak setiap hari bertugas.

Sopir memang tidak boleh bertugas tiap hari karena mereka harus dalam keadaan fisik yang fit mengingat dalam sekali bertugas mereka melakukan perjalanan malam ke tempat tujuan, istirahat sekitar tiga jam, lalu melakukan perjalanan siang kembali ke Bandung.

Kondektur dan kernet bisa jalan tiap hari, tapi karena jumlah kondektur dan kernet disesuaikan dengan jumlah bus, mereka pun tidak tiap hari bertugas. Mereka bertugas sesuai dengan bus yang berangkat.

Ilustrasi bus
Ilustrasi bus (ISTIMEWA)

Saya pernah berbincang dengan salah seorang kru yang mengeluhkan kebijakan pemerintah melarang mudik Lebaran pada tahun ini. “Dalam keadaan begini, satu-satunya harapan untuk menutupi kerugian perusahaan dan kurangnya penghasilan kru adalah momen sekitar Lebaran. Jika mudik dilarang, apa yang akan kami dapat?” katanya.

Pertanyaan kru bus itu sesungguhnya adalah pertanyaan kita semua: sebuah pertanyaan yang sulit dicari jawabannya. Di satu sisi, mudik adalah tradisi atau kebutuhan masyarakat. “Orang-orang ingin sowan kepada orang tua di kampung, kenapa dilarang?” tanya kru bus itu pula.

Lagi pula, mudik tidak terjadi hanya pada momen Lebaran atau hari raya lainnya. Banyak orang yang “terpaksa” secara rutin melakukan perjalanan jarak jauh dengan transportasi bus, kereta api, atau pesawat terbang karena pekerjaan. Saya, misalnya, sampai tahun lalu masih menjadi penumpang setia bus dan mobil travel dua minggu sekali karena bekerja di Bandung tapi keluarga di Bumiayu.

Mulai tiga bulan terakhir 2020 saya bisa lebih lama di Bumiayu karena bisa bekerja dari rumah sehingga pernah dalam waktu dua bulan saya tidak ke mana-mana. Dalam sebulan terakhir pun saya ke Bandung bukan dalam urusan pekerjaan, melainkan karena terdaftar untuk menerima vaksin Covid-19 di Balai Kota Bandung. Jika tidak, selama bulan Ramadan mungkin saya akan tetap diam di rumah.

Kebijakan larangan mudik Lebaran tentu saja sangat dimaklumi. Pandemi ternyata masih terus mencengkeram negeri ini dan belum bisa diprediksi kapan akan berakhir dan bagaimana cara mengatasi berbagai persoalan yang muncul. Boleh jadi saking bingungnya, pemerintah pun terkesan maju-mundur mengenai larangan mudik ini.

Beberapa waktu lalu, Gubernur Jabar Ridwan Kamil, misalnya, mengatakan bahwa sekarang apa pun boleh asal mematuhi protokol kesehatan. Frasa “apa pun boleh” itu bisa ditafsirkan mudik pun boleh. Tapi ternyata kemudian dilarang. Larangan pun tidak pasti: 6—20 Mei atau 22 April—27 Mei?

Anda bingung?

Selamat berpuasa bagi yang menjalankannya. (*)

Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved