Breaking News:

Gempa Bumi

Setelah 10 Tahun Rusak, Jam Berumur 100 Tahun di Kuil di Jepang Mendadak Hidup Lagi Karena Gempa

Jam tua itu rusak setelah dilanda tsunami di pantai timur laut Jepang setelah gempa bumi dahsyat, yang menewaskan 18.000 orang lebih pada Maret 2011.

Editor: Hermawan Aksan
Istimewa
Gempa dan tsunami 2011 yang meluluhlantakkan wilayah Miyagi, Jepang. 

TRIBUNJABAR.ID – Sebuah keajaiban terjadi di salah satu kuil di Jepang.

Jam berusia 100 tahun yang tersimpan di kuil yang rusak dalam gempa bumi dan tsunami pada 2011 mulai berdetak lagi.

Jam tua itu rusak setelah dilanda tsunami di pantai timur laut Jepang setelah gempa bumi dahsyat, yang menewaskan lebih dari 18.000 orang pada Maret 2011.

Baca juga: Baru Saja Terjadi, Gempa Bumi Tektonik Dirasakan di Kabupaten Bandung, BMKG Ingatkan Hal Ini

Baca juga: Selepas Magrib Tadi Sumbawa Barat Diguncang Gempa 5,5 M, Berpusat di Laut, Ini Unggahan BMKG

Jam itu kemudian dievakuasi oleh Bunshun Sakano, kepala Kuil Fumonji di Yamamoto, di wilayah Miyagi, Jepang.

Dia berupaya memperbaiki jam tersebut, tapi tidak berhasil.

Karena tidak berhasil, jam tersebut disimpan saja di kuil itu sebagaimana dilansir BBC, Rabu (14/4/2021).

Namun, 10 tahun kemudian, ketika gempa yang lebih kecil terjadi pada 13 Februari 2021, Sakano mengatakan jam itu mulai bekerja lagi.

Cerita bermula pada 2011.

Kala itu, Miyagi dan Fukushima dilanda gempa bumi dahsyat dan tsunami yang parah.

Pada 11 Maret 2011, kuil Fumonji yang berjarak beberapa ratus meter dari bibir pantai itu dilanda gelombang tsunami.

Kuil tersebut luluh lantak, hanya pilar dan atapnya yang terhindar tersisa akibat diterjang tsunami.

Setelah bencana tersebut usai, Sakano melihat dan menyelamatkan jam tua itu di antara puing-puing.

Dia mencoba memperbaikinya, tetapi tidak berhasil berdetak hingga akhirnya jam itu cuma ditempelkan ke dinding saja.

Kemudian 10 tahun berselang, tepatnya pada 13 Februari, wilayah yang sama dilanda gempa bumi dahsyat lainnya.

Ahli meteorologi meyakini bahwa gempa itu adalah gempa susulan dari gempa besar 2011.

Keesokan paginya, 14 Februari, Sakano memeriksa aula utama kuil untuk melihat apakah ada kerusakan di kuil.

Tak disangka, dia mendengar suara berdetak dan melihat bahwa jam tua tersebut mulai bekerja lagi.

Dua bulan berselang, pada April, jam itu masih berfungsi.

Jam tersebut dibeli Sakano dari toko barang antik di dekat Fukushima beberapa tahun sebelum bencana 2011.

Seorang perwakilan perusahaan jam Seiko mengatakan kepada surat kabar Mainichi, ada kemungkinan pendulum yang berhenti mulai bergerak lagi karena guncangan gempa bumi.

“Atau bahwa debu yang menumpuk di dalamnya terlepas (karena gempa bumi)," kata perwakilan perusahaan tersebut.

Sakano, yang kuilnya sempat berfungsi sebagai markas sukarelawan setelah gempa bumi, mengatakan bahwa dia telah mendapat inspirasi dari jam yang kembali berdetak itu.

"Mungkin itu mendorong saya untuk bergerak maju dengan tekad baru. Ini seperti tanda dorongan bahwa pemulihan yang sebenarnya akan datang,” kata Sakano. (*)

Sumber: Kompas
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved