Breaking News:

Larangan Mudik, Pengusaha Ini Gigit Jari, Terpaksa Jual Sawah unutuk Bayar Cicilan Puluhan Juta

Larangan mudik memberatkan para pengusaha ini karena harus membayar cicilan hingga puluhan juta hingga terpaksa jual sawah untuk menutupi cicilan

Tribun Jabar/Hilman Kamaludin
ilustrasi 

TRIBUNJABAR,ID,CIAMIS – Sama dengan lebaran tahun lalu, pemerintahpun melarang mudik untuk lebaran tahun ini. Alasannya karena masih masa pandemi Covid-19.

Untuk kedua kalinya para pengusaha bus menghadapi kenyataan sulit, gagal panen saat lebaran

“Sudah setahun ini pengusaha bus menghadapi masa sulit, Apalagi sekarang, mudik lebaran kembali dilarang. Mudik ditiadakan,” ujar H Tatang Aceng Kendar, pengusaha bus PO Aladin kepada Tribun dan wartawan lainnya Rabu (31/3).

Baca juga: Siap-siap, Akan Ada Penyekatan Kendaraan di Bandung Selama Larangan Mudik Lebaran

Selama masa pandemi Covid-19 katanya kendaraan harus tetap beroperasi sementara penumpang sepi.

Setiap hari terpaksa nombok untuk biaya operasional, BBM maupun spare part (suku cadang).

“Belum lagi cicilan ke bank yang harus dibayar tiap bulan. Aladin masih punya kewajiban bayar cicilan 4 bus ke leasing. Awalnya Rp 51 juta/bulan, sekarang setelah direstrukturisasi jadi Rp 31 juta/bulan,” katanya.

Baca juga: Polda Jabar Akan Lakukan Penyekatan di Perbatasan untuk Antisipasi Pemudik Lebaran Tahun Ini

Karena terus menerus nombok, terlebih adanya kewajiban pembayaran cicilan 4 bus tiap bulan tersebut, menutut H Tatang Aladin, pihaknya terpaksa menjual aset yang ada.

“Sejumlah aset sudah dilepas. Sekarang dua bidang sawah juga terpaksa dijual. Sesuai dengan wasiat orang tua saya, bus Aladin harus tetap dipertahankan. Banyak yang mencari penghidupan dari bus, tidak hanya sopir dan kernet. Tetapi juga pengurus-pengurus di terminal, di jalur. Ratusan orang jumlahnya, semuanya punya keluarga. Punya anak dan isteri,” tutur H Tatang Aladin panggilan akrab H Tatang Aceng Kendar.

Dua petak sawah yang sudah ditawarkan untuk dijual tersebut menurut H Tatang Aladin masing-masing di Blok Segel Sadananya seluas 177 bata (1 bata = 14 meter persegi) serta di Pulo Erang Lakbok seluas 400 bata.

Baca juga: Bupati Pangandaran : Dilarang Mudik Gak Masalah tapi Orang Boleh Wisata atau Tidak?

“Semula berharap, lebaran ini akan panen. Tapi mudik ditiadakan. Mau tidak mau, dua aset tersebut terpaksa dilepas. Dua petak sawah terpaksa dijual, cicilan mobil harus tetap dibayar,” katanya.

Sementara itu Sekretaris DPC Organda Ciamis, R Ekky Bratakusumah berharap pemerintah tidak hanya meniadakan mudik.

Tetapi juga harus ada solusinya yang bisa meringankan beban pengusaha angkutan umum.

Baca juga: Larangan Mudik, Daerah Ini Perketat Pengawasan di Setiap Perbatasan

“Tetapi harus ada solusinya. Pengusaha angkutan juga harus dibantu. Mereka punya banyak kewajib-kewajiban yang harus dilaksanakan. Tidak hanya menanggung beban operasional, spare part, tetapi juga menanggung kesejahteraan kru armada,sopir, kernet dan sebagainya,” ujar R Ekky Bratakusumah.       

Ketika pengusaha angkutan umum (PO Bus) tidak bisa menikmati panen karena  mudik lebaran ditiadakan, Menurut Ekky, pemerintah juga harus tegas terhadap munculnya  travel ilegal (travel pelat hitam) yang diperkirakan akan memanfaatkan momen lebaran.

“Travel-travel ilegal tersebut juga harus ditertibkan. Keberadaan mereka bukan rahasia lagi, termasuk di Ciamis,” katanya.

Penulis: Andri M Dani
Editor: Siti Fatimah
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved