Breaking News:

Cerita Pendek

Cerpen Tribun Jabar Minggu Ini: Laki-Laki Bermata Tajam

Aku membayangkan makamku kelak. Terpencil di kebun bambu, tak ada seorang pun yang berziarah, tidak keluargaku sekalipun.

Penulis: Hermawan Aksan | Editor: Hermawan Aksan
Tribun Jabar
Ilustrasi Cerpen 

"Kita akan berhenti kalau ada warung makan di depan nanti," kata Wa Ujan tanpa melihatku. Gila! Apa yang akan dilakukan Wa Ujan? Apa dia akan mengeluarkan aku dari rombongan ini? Dan apa yang harus kulakukan? Kembali lagi ke kotaku? Sendirian? Keterlaluan. Pikiranku mulai kacau.

Mataku kembali menatap laki-laki di depanku. Atau barangkali laki-laki itu penyebar bau busuk itu? Aku mulai berprasangka. Matanya masih lekat di tubuhku.

Tak lama kemudian, sang sopir mendapati warung kopi. Dan benar dugaanku. Wa Ujan memohon agar aku mengalah dan mau turun demi menghindari amukan penumpang lain. Melihat wajah memelas Wa Ujan, aku tak bisa berbuat apa-apa, padahal alasannya tak masuk akal. Waktu Wa Ujan berdekatan denganku, ia pun tak mencium bau busuk dari tubuhku.

"Barangkali laki-laki itu yang mengeluarkan bau busuk itu Wa Ujan. Laki-laki yang duduk di depanku." Wajah Wa Ujan tampak pucat pasi. Semenjak virus itu mewabah, ia tak pernah mengisi mobil elf itu sepenuh seperti biasanya. Ia takut kena razia di perjalanan. Selain 3M yang ketat ia terapkan, ia hanya mengisi lima puluh persen penumpang.

"Tak ada laki-laki di depanmu, Teh. Bangku di depanmu kosong. Tak ada yang mendudukinya," kata Wa Ujan. Aku melongok ke dalam mobil, laki-laki itu memang tidak ada. Ada apa dengan pikiranku?

Wa Ujan tetap memintaku turun dan tak melanjutkan perjalanan.

Aku terdiam di sisi warung, memesan secangkir kopi hitam.

Siapa laki-laki itu? Katanya tadi, ia berasal dari masa lalu. Apakah ia manifestasi dari dosa-dosaku?

"Duh bau apa ini?" tanya ibu pemilik warung.

Aku terenyak. Dan menoleh ke arah samping, laki-laki itu ada di sana, menatapku tajam. Si ibu pemilik warung pun memandangiku lekat.

Aku memegang kepalaku sendiri. Ada apa di dalam kepalaku?

***

Tati Y. Adiwinata, lahir di Cicalengka, tanggal 6 Juni. Beberapa tulisannya dimuat di Pikiran Rakyat, Tribun Jabar, Majalah Femina, dan Tabloid Lokal, terlibat dalam 50 lebih buku bersama penulis lain dalam antologi puisi/cerpen/haiku. Novel perdananya Rembulan dan Matahari menjadi juara kedua dan diterbitkan oleh Penerbit Rumah Imaji (2019).

 
 

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved