Breaking News:

Gempa Bumi

Indonesia Punya Aturan Standar Bangunan Tahan Gempa, Jepang Terapkan Gedung Antigempa Sejak 1981

"Seperti di Sulawesi, gedung pemerintah malah runtuh ya. Itu kan seharusnya cukup kuat.

Tribun Timur/Nurhadi
Bangunan yang runtuh akibat gempa M 5,9 di Mamuju Sulawesi Barat 14 Januari 2021 

TRIBUNJABAR.ID – Belajar dari gempa bumi Kobe pada 1981, Pemerintah Jepang menetapkan standar bangunan tahan gempa hingga skala 6 modified mercalli inensity (MMI).

Dilansir dari Badan Meteorologi dan Geofisika (BMKG), skala 6 MMI adalah kategori gempa kuat yang akan membuat plester dinding jatuh atau cerobong asap suatu pabrik rusak.

Karena sejak lama menerapkan standar bangunan tahan gempa, saat gempa bumi kembali mengguncang Jepang Sabtu 13 Februari 2021 tidak ada kerusakan berarti pada bangunan apalagi menimbulkan korban jiwa.

Gelombang tsunami menghantam Kota Miyako di Prefektur Iwate setelah gempa 9,0 magnitudo mengguncang wilayah Tohoku, 11 Maret 2011.
Gelombang tsunami menghantam Kota Miyako di Prefektur Iwate setelah gempa 9,0 magnitudo mengguncang wilayah Tohoku, 11 Maret 2011. (HO NEW/REUTERS)

Padahal gempa bulan lalu itu berkekuatan magnitudo (M) 7,3  yang guncangannya terasa kuat dari wilayah Fukusima hingga Tokyo.

Gempa 7,3 M tersebut  tidak berisiko tsunami. Kehancuran bangunan-bangunan di Jepang umumnya bukan karena guncangan gempa tapi akibat terjangan tsunami.

Baca juga: Konstruksi Sarang Laba-laba, Bangunan Tahan Gempa Bumi Karya Anak Bangsa, Perlu Makin Dikembangkan

Hal tersebut pula membuat Jepang giat membangun tembok penahan tsunami atau penahan terjangan banjir akibat tsunami di sejumlah daerah di pesisir Samudra Pasifik.

Salah satu tembok penahan banjir tsunami di tepi pantai pernah Tribun Jabar tinjau beberapa tahun silam di Shizuoka. Tinggi tembok itu 8 meter sepanjang 251 kilometer dengan 58 pintu air dan 450 pintu gerbang yang dapat menutup dalam waktu satu menit setelah tsunami berpotensi terjadi

Kota Rikuzentakata di Prefektur Iwate, Jepang yang rusak dihantam tsunami akibat gempa berkekuatan 9 SR pada 11 Maret 2011
Kota Rikuzentakata di Prefektur Iwate, Jepang yang rusak dihantam tsunami akibat gempa berkekuatan 9 SR pada 11 Maret 2011 (wikipedia)

Mengomentari gempa Februari lalu itu, Kepala Bidang Mitigasi Bencana Gempa bumi dan Tsunami BMKG, Daryono melalui akun twitternya seperti dilansir Kompas.com mengatakan,  

"Cukup menakjubkan, dampak gempa magnitudo 7,1 ini hanya menimbulkan kerusakan ringan, karena seluruh bangunan di Jepang saat ini sudah mendesain sesuai  aturan bangunan tahan gempa yang diberlakukan oleh pemerintah".

Kekuatan gempa hingga M 7,3  di Jepang dengan bangunan yang masih kokoh tentu berbeda dengan yang terjadi saat gempa Majene, Sulawesi Barat, 14 Januari 2021. Gempa berkekuatan M 5,9 itu menimbulkan banyak kerusakan bangunan termasuk Kantor Gubernur Sulawesi Barat di Mamuju yang runtuh.

Baca juga: Mengapa Belum Ada Teknologi yang Dapat Menentukan Kapan Gempa Datang? Begini Kata Ahli

Halaman
123
Penulis: Adityas Annas Azhari
Editor: Adityas Annas Azhari
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved