Ada Transfer ala Pemain Bola di Industri Kerupuk Rumahan, 1 Penjual Keliling Harganya Ratusan Juta

Di industri pabrik kerupuk rumahan, pemain itu berarti pedagang, sedangkan pabriknya sama dengan pemilik klub.

Editor: Ravianto
Tribun Jabar/Seli Andina
kerupuk melarat 

TRIBUNJABAR.ID, JAKARTA - INDUSTRI sepak bola adalah salah satu industri yang menggiurkan dan dipenuhi gelimang uang.

Transfer pemain dari satu ke klub lain bisa melibatkan uang ratusan juta, miliaran, hingga triliunan rupiah. transfer pedagang kerupuk, penjual keliling harganya bisa ratusan juta

Transfer Neymar da Silva Santos Júnior dari Barcelona ke Paris Saint-Germain (PSG) pada bursa transfer musim panas 2017 contohnya.

Baca juga: Kabar Gembira Buat Bobotoh, Striker Andalan Persib Bandung Hari Ini Mendarat di Bandung

Baca juga: VIDEO AKSI Zachary Herivaux, Pemain Berstatus Timnas yang Kabarnya Dibidik Persib Bandung

Pada saat itu, PSG harus menebus Neymar dengan harga fantastis yakni mencapai 222 juta euro atau setara dengan Rp 3,8 triliun (kurs sekarang)

Mirip dengan industri sepak bola, di industri kerupuk ternyata juga ada bursa transfer yang melibatkan ’pemain’ dan ’pemilik klub’.

Di industri pabrik kerupuk rumahan, pemain itu berarti pedagang, sedangkan pabriknya sama dengan pemilik klub.

Dalam industri kerupuk, pabrik biasanya hanya menyediakan produknya.

Urusan pemasaran diserahkan kepada para pedagang kerupuk keliling. Para pedagang inilah yang menjadi ujung tombak pemasaran.

Setiap pagi para pedagang kerupuk keliling itu sudah mulai keluar dari pabrik.

Mereka baru kembali pada siang hari untuk menyiapkan kerupuk untuk diantarkan lagi keesokan harinya.

Biasanya, setiap hari pedagang kerupuk keliling itu akan menempuh rute yang berbeda. Mereka memiliki jadwal untuk mengantarkan kerupuk ke para langganannya.

Elfin Syahrul Anwar (35), penerus pabrik kerupuk Erna Jaya di kawasan Pancoran, Jakarta Selatan, mengatakan, para pengusaha yang terjun di industri kerupuk banyak yang rela membeli pedagang kerupuk dengan harga tinggi demi memperbanyak jumlah pelanggannya. Elfin mengatakan, jual beli pedagang antarpemilik pabrik kerupuk itu sudah biasa.

Para pemilik pabrik kerupuk biasanya tak sembarang menerima karyawan yang bertugas menjual kerupuk ke warung-warung. Riwayat kerja, jumlah pelanggan, dan cara berkomunikasi jadi faktor utama pemilik pabrik kerupuk untuk mematenkan pedagang menjadi karyawan.

Berapa banyak kaleng dimasukkan ke rumah, warung atau perkantoran juga jadi pertimbangan yang tak kalah penting.

Halaman
123
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved