Breaking News:

Opini

Teknis Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ); Tambal Sulam di Tengah Gelombang

Teknis PJJ dilematis, secara metode dan capaian tidak efektif, namun secara kebijakan tidak bisa melaksanakan pelaksanaan belajar tatap muka.

Editor: Kisdiantoro
Istimewa
Ahmad Riyadi S. Leky 

Oleh Ahmad Riyadi S. Leky *

Dalam perkembangan sejarah, setiap perubahan global selalu berawal dari revolusi industri.

Namun, era 21 ini nyaris tak terprediksi, Covid-19 pada akhir tahun 2019 hadir secara mengejutkan melanda hampir semua negara di dunia sehingga WHO pada Januari 2020 menyatakan bahwa dunia masuk ke dalam darurat global.

Bahkan hingga tulisan ini hadir (12/3), virus Corona yang menyerang sistem pernapasan ini sejak kemunculannya secara global telah menginveksi 118.545.934 kasus baru dan 2.629.240 meninggal dunia (arcgis.com), begitu pula di Indonesia terjadi 1,4 juta kasus, sembuh 1, 22 juta kasus, 37, 932 meninggal dunia (JHU CSSE Covid 19).

Darurat global ini tidak hanya berdampak pada sektor kesehatan, namun juga memunculkan revolusi dan disrupsi pada sektor budaya, baik cara hidup, maupun life style, dengan berpedoman pada protokol kesehatan. Bahkan, disrupsi itu terjadi juga di sektor strategis seperti pendidikan.

Baca juga: 47 Orang Positf, Sumber Paparan Covid-19 Klaster Senam Aerobic Puspahiang Tasik Belum Diketahui

Baca juga: SD di Bandung Siap Gelar KBM Tatap Muka Juli Nanti, Tunggu Kebijakan Pemerintah

Di sektor pendidikan, kebijakan yang diambil banyak negara termasuk Indonesia diimplementasikan melalui sistem pendidikan jarak jauh (PJJ)/ e learning. 

Sistem ini memunculkan paradigma baru, yakni dari tatap muka menjadi virtual, dari guru/ dosen sebagai narasumber menjadi fasilitator dan siswa/ mahasiswa menjadi peserta aktif. Hal ini didukung oleh Surat Edaran Nomor 4 Tahun 2020 tentang Pelaksanaan Kebijakan Pendidikan Dalam Masa Darurat Penyebaran Coronavirus Disease (Covid-19).

Prinsip yang diterapkan dalam kebijakan masa pandemi COVID-19 adalah “kesehatan dan keselamatan peserta didik, pendidik, tenaga kependidikan, keluarga, dan masyarakat merupakan prioritas utama dalam menetapkan kebijakan pembelajaran”. Karenanya, terdapat perombakan besar besaran dalam cara mengajar dan proses belajar, termasuk media dan kerangka paradigmatik yang digunakan.

Selama satu tahun terakhir, siswa, tenaga pengajar, orang tua, dan stakeholder terkait dipaksa untuk keluar dari pola konvesional menjadi pola digital, sejalan dengan konsep revolusi industri 4.0 yang lebih mengedepankan internet of thing dan teknologi digital.

Sebagai sebuah program, berbagai riset di lapangan menyatakan bahwa PJJ/ e learning bisa diterapkan. dengan adanya fasilitas internet, keterlibatan orang tua (untuk siswa sekolah), PJJ cukup bisa melakukan adaptasi sistem pendidikan yang lebih mengedepankan partisipatoris, misalnya tugas mandiri, mengedepankan aspek psikomotorik siswa, dan  membuat pendidikan lebih praktis, fleksibel, dan santai.

Halaman
123
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved