wayang golek

Seniman Wayang Golek Ini Meneruskan Warisan Orang Tuanya, Ingin Membuat Museum di Cibiru

SEORANG pria di sebuah kamar kontrakan, terlihat mengukir kepala wayang golek. Dia adalah seniman wayang golek.

Tribun Jabar/Lutfi Ahmad Mauludin
Risnandar mengukir kepala wayang golek. Dia adalan seniman wayang golek asal Cibiru Wetan. 

"Namun, tak langsung membuat kepala wayang, tapi tangan wayang dulu," ujarnya.

Baru mulai berani membuat kepala wayang, kata Risnandar, pada 2009, itu pun banyak salahnya dan hasilnya dibuang.

"Bikin jelek, salah buang, bikin salah buang, kata si Bapak mah bikin apa ini. Alhamdulillah akhirnya bisa," kata Risnandar.

Risnandar menjelaskan, dari delapan bersaudara yang menjadi pembuat wayang hanya ia dan kakaknya Yudi, yang meneruskan jejak ayahnya sebagai seniman pembuat wayang golek.

"Yang bikin bajunya, kakak juga Yanti sama Enung. Bapak tak memaksa anaknya untuk meneruskan jejaknya," katanya.

Baca juga: Wayang Jokowi Pernah Dibuat oleh Duyeh, Dia Pernah Juga Membuat Wayang Ahok dan Pejabat Lainnya

Risnandar mengaku, dia memiliki hati ingin meneruskan jejak ayahnya sebagai seniman pembuat wayang golek. "Alhamdulillah, orang-orang juga percaya (dengan hasil karyanya)," katanya.

Saat disinggung, apakah pernah juga ke luar negeri untuk mengenalkan wayang golek, Risnandar mengaku, sempat akan pergi namun tak jadi.

"Baru pernah keliling Indonesia (mengenalkan wayang golek), sebelum adanya Covid 19 mau diajak ke London (Inggris), lalu ada Covid 19, jadi tak jadi. Yang ke sana jadi hanya wayangnya saja," kata dia.

Risnandar mengaku, sangat ingin bisa membuat museum dan padepokan wayang golek. "Kasihan si Bapak, namanya dikenal alhamdulillah (besar), tapi keadaannya seperti ini," tuturnya.

Memang tempat pembuatan wayangnya, memanfaatkan dua kamar kontrakan, yang sangat sederhana. Sehingga tak ada tempat untuk memajang hasil karyanya.

Baca juga: HASIL Indonesian Idol 1 Maret 2021, Gadis Asal Purwakarta Ini Tereliminasi, Begini Komentarnya

Dulu Risnandar, ayahnya itu maju, kata ayahnya terperosok setelah adanya krisis moneter.

"Emut abi ker alit turis seeur nu dongkap oge, abi ker alit can sakola (ingat waktu saya kecil turis banyak yang datang, saat saya belum sekolah). Wayangnya juga, mungkin ada ribuan," kata dia.

Kini kata Risnandar, hanya menerima pesanan karena tak memiliki modal yang cukup, untuk memajang atau membuat stok wayang.

"Jadi nunggu yang pesan, adakala dari uang mukanya itu dipakai belanja barang-barangnya atau dibuat modalnya," ujarnya sambil tersenyum.

Halaman
123
Sumber: Tribun Jabar
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved