Breaking News:

Potensi Gempa Bumi 7,2 SR dari Sesar Lembang dan Bahaya Pengulangan Gempa Besar 500 Tahun

potensi maksimum dari magnitude kekuatan gempa yang mungkin terjadi dari Sesar Lembang ini ada di rentang angka magnitude 6,5 hingga 7,2

Penulis: Cipta Permana | Editor: Ravianto
Tribunjabar/Mega Nugraha
Tebing Keraton, Merasakan Kesejukan Bandung dan Memandang Sesar Lembang dari Tepi Jurang 
TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Munculnya informasi terkait hasil riset mengenai potensi hadirnya gempa megathrust dengan Magnitude 8,7 atau 8,7 skala magnitude di bagian selatan Pulau Jawa dari Prof. Sri Widyantoro dari ITB pada beberapa waktu lalu, sempat menghebohkan masyarakat di Pulau Jawa, khususnya Jawa Barat. 
Terlebih, gempa bumi berkekuatan dahsyat tersebut dikaitkan dengan aktivitas Sesar Lembang, bahkan isu lain menyebutkan bahwa gempa bumi tersebut berpotensi memunculkan tsunami setinggi setinggi 20 meter, yang bukan hanya dapat merusak berbagai infrastruktur, tapi juga mengancam keselamatan masyarakat.
Meskipun, skenario terburuk tersebut tidak diketahui kapan akan terjadi, namun bila mengingat bahwa sepanjang Samudera Hindia selatan Jawa terdapat tiga segmentasi megathrust, yaitu Segmen Jawa Timur, Jawa Tengah - Jawa Barat, dan Segmen Banten - Selat Sunda, maka upaya mitigasi harus dipersiapkan sedini mungkin.
Untuk mengulas apa itu megathrust dan keterkaitannya dengan aktivitas dari beberapa sesar yang ada di Jawa Barat,  Tribun Jabar, berkesempatan untuk mewawancarai secara eksklusif Ketua Pusat Unggulan IPTEK (PUI), Sains, dan Teknologi Kegempaan, yang juga menjabat sebagai Dekan Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian (FITB) ITB, Dr. Irwan Meilano.
Berikut isi wawancara wartawan Tribun Jabar, Cipta Permana dengan Irwan Meilano di sela aktivitasnya, Jumat (12/2/2021).
 Akhir-akhir ini gempa mulai masif mengguncang bumi Indonesia, bahkan, gempa berkekuatan magnitude 6,2 di Majene dan Mamuju, Provinsi Sulawesi Barat sampai memporak-porandakan sejumlah bangunan, dan sedikitnya 42 orang dilaporkan turut menjadi korban jiwa dalam musibah yang terjadi pada 15 Januari lalu, apakah gempa sebesar ini tidak terprediksi sebelumnya? 
"Jadi kalau kita berbicara tentang gempa bumi, tidak terlepas dari kondisi Indonesia yang memiliki kekhasan kondisi tektonik. Kami di peneliti selalu mencoba memahami kondisi potensi kegemapaan, sebelum gempa itu terjadi. Bahkan, para peneliti yang tergabung dalam Pusat Studi Gempa Nasional (PuSGeN), dimana saya merupakan salah satu Ketua Pokjanya telah mempublikasi buku Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia pada 2017, yang membahas juga adanya potensi gempa di dua wilayah Sulawesi Barat ke tengah ini. Laporan PuSGeN menjadi masukan dalam SNI 1726:2019 Tata Cara Perencanaan Ketahanan Gempa untuk Struktur Bangunan Gedung dan Nongedung,  karena di wilayah ini banyak sesar yang naik dan mengakibatkan banyak gempa terjadi disana," ujarnya.
Plang sesar Lembang dekat lokasi pembangunan waterboom di Pagerwangi, Lembang.
Plang sesar Lembang dekat lokasi pembangunan waterboom di Pagerwangi, Lembang. (Tribun Jabar/Hilman Kamaludin)
 Selain potensi atau prediksi gempa di Majene dan Mamuju, apa saja isi dari peta sumber dan bahaya gempa yang diterbitkan oleh Pusgen tahun 2019 tersebut ? 
“Kami para peneliti menghindari istilah prediksi gempa, tetapi lebih pada mengestimasi potensi gempa yang ditanyakan dalam peta gempa Nasional. Dalam peta tersebut disebutkan bahwa ada sekitar lebih dari 295 sesar aktif dan juga  zona subduksi di Indonesia yang terus kami perbaharui secara berkala. Termasuk kami pun mengkarakterisasi mulai dari magnitudenya, mekanisme kegemapaan, hingga dampak yang mungkin terjadi apabila gempa tersebut muncul. Meski kami mampu memetakan potensi-potensi tersebut, yang bermafaat bagi upami pengurangan risiko bencana gempa tapi tidak ada yang pernah tahu kapan waktu sebuah gempa itu akan terjadi," ucapnya.
 Dengan ketidakpastian kapan sebuah gempa akan terjadi, bagaimana upaya mitigasi kebencanaan dapat dilakukan
"Inilah yang menjadi persoalan, sehingga tidak mudah bagi kami (peneliti) untuk dapat meyakinkan para pengambil kebijakan di level daerah, termasuk masyarakat agar mereka dapat mempersiapkan diri dalam menghadapi situasi potensi gempa yang sangat besar, yang sewaktu-waktu akan terjadi. Inilah yang menjadi tantangan bagi kita semua, yang memprioritaskan upaya pengurungan risiko bencana gempa jangan sampai karena hal ini justru membuat masyarakat tidak meningkatkan kewaspadaannya terhadap potensi-potensi bencana gempa, seraya kami terus berupaya mendetilkan sumber gempa secara lebih baik," ujar Irwan.
 Bagaimana upaya pendetilan terhadap potensi gempa ini dapat dilakukan secara maksimal, sehingga pemangku kebijakan dan masyarakat dapat mengetahui kapan mereka dapat mempersiapkan diri ?
"Upaya mitigasi merupakan tanggung jawab semua pihak dan harus di lakukan sedini mungkin sebelum suatu bencana terjadi. Namun, karena terbatasnya jumlah para peneliti yang berkecimpung dalam hal potensi kebencanaan di Indonesia, maka Pemerintah dapat mendorong agar setiap kampus atau perguruan tinggi dapat melakukan riset - riset mengenai potensi bencana setiap daerah di Indonesia, guna memperoleh detil potensi gempa yang lebih spesifik. Dengan begitu, para pengambil kebijakan dapat menginformasikannya, agar  masyarakat dapat memahami potensi gempa secara lebih baik," ujar Pria kelahiran Bandung, 18 Mei 1974 tersebut.
Sesar Lembang
Sesar Lembang (Google Maps)
 Mengukur besarnya potensi kegempaan di Indonesia, seberapa jauh perbandingan kelengkapan sarana mitigasi yang dimiliki negara kita dengan negara lain?
"Perbandingan upaya mitigasi negara kita dengan negara lain yang memiliki potensi yang sama, salah satunya tempat saya belajar dulu yaitu Jepang, dengan luas negara yang sekitar hanya sebesar Pulau Sumatera, namun mereka memiliki jaringan pengamatan kegempaan, seperti GPS itu sepuluh kali lebih banyak dengan apa yang negara kita miliki. Dengan jaringan yang lebih baik, maka kemampuan para peneliti dalam memahami potensi gempa dalam konteks probabilitas itu, tentu jauh lebih maksimal. 
Bahkan, dengan kelengkapan itu rentang kemungkinan dari probabilitas itu bisa di buat semakin pendek pada saat data pengamatannya semakin baik, sehingga masyarakat disana tidak selalu kaget bila gempa itu terjadi," ucapnya.
 Bagaimana dengan kondisi di dimiliki negara kita ?
"Karena kita tidak memiliki kemampuan jaringan pengamatan potensi gempa seperti negara maju (mis Jepang), maka sebagai ilustrasi, saat terjadi gempa di Ambon tahun 2019 lalu. Dimana kita dapat mengetahui bahwa Pulau Ambon memiliki potensi gempa sesar geser, sesudah gempa Ambon betul-betul terjadi pada tahun 2019. Begitu pula kita baru paham adanya potesi gempa di daerah Pidie Jaya, sesudah gempa 2016 terjadi disana, sehingga bila berkaca pada aspek keilmuan, hal tersebut tidak boleh terjadi, karena seharusnya kita bisa mengetahui potensi gempa secara mendetail sebelum bencana terjadi, sehingga kita sempat melakukan upaya mitigasi  bagi masyarakat," ucapnya.
 Apa upaya yang seharusnya dapat dilakukan pemerintah agar mitigasi dapat lebih maksimal ?
"Kita sebetulnya selama ini berharap akan adanya dukungan yang kuat dari para pengambil kebijakan, karena mereka pun perlu menyadari bahwa untuk dapat sampai ke tahap kemampuan mitigasi di masyarakat dalam upaya mengurangi risiko dampak bencana, sebelumnya peneliti harus diberikan kesempatan melakukan riset sumber gempa .
Kemudian hasil riset tersebut menjadi dasar pemerintah membuat kebijakan mitigasi termasuk diantaranya penataan ruang yang memasukan unsur kebencanan, dan penerapan pendidikan kebencanaan melalui kurikulum di sekolah. Kalau upaya itu belum clear dan kuat dilakukan di masyarakat oleh semua stakeholder, maka, upaya mitigasi masyarakat kita tidak akan pernah maksimal," ujar peraih gelar magister dan doktor ilmu kebumian di Nagoya University, Japan tersebut.
Setiap gempa yang terjadi di wilayah Jawa Barat, selalu di kaitkan masyarakat dengan  aktifnya Sesar Lembang, bagaimana sebenarnya kondisi Sesar Lembang itu?
"Sesar Lembang itu adalah salah satu dari lima sesar aktif potensi sumber gempa yang ada di wilayah Jawa Barat, selain Sesar Cimandiri, Sesar Cipamingpis, Sesar Garsela, dan Sesar Baribis.
Riset tentang Sesar Lembang itu telah ada cukup lama, salah satunya di publikasikan oleh Prof. Cia sekitar tahun 1968 lalu, dimana dalam papernya dijelaskan dengan sangat baik, bagaimana proses terbentuknya Gunung Api Sunda Purba, yang kemudian berkembang menjadi sebuah sesar aktif dengan memiliki pola geser mendatar mengiri dan pola turun dengan perbandingan 2:1.
Menariknya setelah paper Prof. Cia publish kami tidak menemukan adanya literatur lain selengkap yang di buat beliau, dengan kondisi kehilangan itu, menurut saya inilah mengapa banyak sekali pertanyaan dan ketidakyakinan bahwa sesar Lembang adalah sebuah sesar aktif," ujarnya.
Publikasi detail mengenai sesar Lembang baru terbit kembali pada tahun 2000an, dengan tulisan lengkap yang ditulis oleh Dr. Mudrik Daryono dari LIPI pada tahun 2019.
Bagaimana dengan hasil penelitian dari peneliti lain terkait Sesar Lembang, akankah menjadi sebuah pertanyaan yang tidak terjawab kondisinya ?
"Para peneliti hingga kini terus mencoba menggali berbagai informasi potensi terkait kondisi dari kondisi Sesar Lembang dan empat sesar aktif lainnya di Jawa Barat.
Seperti peneliti dari LIPI, Pak Mudrik Rahmawan Daryono berhasil menggali bahwa pada 500 tahun lalu pernah terjadinya sebuah gempa besar di jalur Sesar Lembang dan menemukan adanya beberapa offset atau pergeseran di permukaan juga di bagian bawah permukaan, dengan penggalian kondisi tanah di jalur Sesar Lembang juga pengambilan foto dengan lidar, bahkan foto itu menjadi Lidar terbaik yang pernah ada di Indonesia menjadi bukti bahwa pernah terjadinya gempa besar di masa lalu.
Sehingga penelitiannya dapat melengkapi apa yang dilakukan oleh Prof. Cia puluhan tahun lalu, dengan data terbarukan." ucapnya.
Sejak isu Sesar Lembang muncul di masyarakat dan berbagai hasil riset yang dipublikasikan para peneliti, pernahkah Sesar Lembang itu aktif atau menunjukkan wujudnya? 
"Selain gempa magnitudo 3,3 pada tahun 2011 lalu  yang merusak 384 rumah warga  aktivitas kegempaan di Sesar Lembang betul-betul terjadi meskipun magnitudenya kecil, tapi gempa-gempa serupa pun sebenarnya terus terjadi hingga saat ini, dalam penelitiannya, 
Pak Mudrik berhasil menunjukkan bahwa adanya potensi pengulangan periodik dari aktivasi Sesar Lembang ini dengan range 200-600 tahun.
Dengan hasil penelitian ditambah kemampuan jaringan yang lebih baik dimiliki BMKG saat ini, kita dapat menjawab keraguan masyarakat terkait aktivasi Sesar Lembang dengan sangat jelas.
Jadi kalau pertanyaan apakah riset di sesar Lembang itu sudah baik, saya pastikan sudah jauh lebih baik, dan progres perkembangannya bergerak sangat cepat dalam lima tahun terakhir," ujarnya,
Dengan kepastian akan terjadinya gempa di Sesar Lembang, meski tidak di ketahui kapan waktu pasti hal itu akan terjadi, apa yang harus dilakukan dalam upaya meningkatkan kesadaran akan kewaspadaan terhadap potensi datangnya situasi tersebut?
"Bagi saya yang berkecimpung di bidang gempa bumi,  pengetahuan akan potensi bahawa sesar Lembang saat ini sudah cukup sebagai dasar pengambil kebijakan untuk melakukan upaya mitigasi.
Adapun waktu pasti sampai tahun, hari, jam sampai saat ini masih menjadi rahasia alam, yang belum bisa kita pecahkan.
Maka, yang harus kita yakini bahwa rahasia alam dalam konteks kemungkinan ini pasti terjadi, itu jauh lebih baik untuk dapat mempersiapkan diri sebaik dan sedini mungkin dalam mengantisipasi datangnya bencana itu," ujarnya.
Beberapa artikel menyebutkan bahwa Sesar Lembang akan menyebabkan terjadinya sebuah gempa dengan magnitude 6,8, bagaimana gambaran kondisinya?
"Beberapa hasil riset yang telah ada, termasuk yang kami lakukan selama ini bahwa potensi maksimum dari magnitude kekuatan gempa yang mungkin terjadi dari Sesar Lembang ini ada di rentang angka magnitude 6,5 hingga 7,2.
Jadi di dalam rumus gempa, semakin besar magnitude yang akan dihasilkan, maka kejadiannya semakin jarang, dan sebaliknya, semakin kecil magnitudenya, potensi kejadiannya akan semakin sering.
Kita akan mengatakan bahwa gempa kekuatan magnitude lebih kecil akan sering terjadi di Sesar Lembang. 
Tapi untuk kesiapsiagaan, tentunya kita tidak berbicara gempa yang kecil, tapi skenario terburuk yang akan terjadi, sehingga kita akan semakin waspada," ucapnya
Apa harapan para peneliti terkait upaya mitigasi yang dilakukan para pemangku kebijakan di pemerintah daerah, termasuk masyarakat dalam mempersiapkan diri menghadapi potensi Megathrust dari Sesar Lembang ini?
"Kami sangat berharap semua pihak dapat memahami dan bekerjasama dalam mengantisipasi terjadinya potensi gempa dari sesar Lembang.
Maka dalam konteks alur pengurangan risiko potensi bencana, bahwa kami (peneliti) bekerja di bagian hulu atau  potensi bencana, maka semaksimal mungkin kami harus memperkuat data hasil riset untuk mendetilkan dan mengestimasi potensi risiko yang akan terjadi.
Kemudian riset ini selanjutnya disampaikan kepada pemerintah dan stakeholder terkait lainnya, termasuk para organisasi relawan kebencanaan untuk dapat membuat kebijakan dan langkah strategis dari upaya menyadarkan dan mendefinisikan konsep risiko dari sebuah bencana kepada masyarakat.
Sehingga masyarakat ini dilibatkan sebagai subjek dan bukan sebagai objek dari upaya mitigasi. Inilah poin pentingnya dari bagaimana membangun sebuah strategi mitigasi bencana secara baik yang khas dengan Jawa Barat, khasnya Kota Bandung, dan khasnya Sesar Lembang," katanya. (Cipta Permana)
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved