Breaking News:

VIDEO Meski Ular Koros Bisa Jadi Pakan King Kobra, Pawang Ular Pilih Lepasliarkan Anakan Ular Koros

Sebanyak tujuh butir telor ular koros yang berhasil menetas, tidak lantas membuat pawang ular di Kuningan ini menjadikan anakan ular tersebut jadi pak

Penulis: Ahmad Ripai | Editor: yudix

Laporan Kontributor Kuningan, Ahmad Ripai

TRIBUNCIREBON.COM,KUNINGAN - Sebanyak tujuh butir telor ular koros yang berhasil menetas, tidak lantas membuat pawang ular di Kuningan ini menjadikan anakan ular tersebut jadi pakan King Kobra.

"Iya, ular koros atau ular sawah baru netas. Dan ini bisa juga jadi makanan King Kobra, tapi saya pilih lepasliarkan sajalah," ungkap Rinto alias Rentul sang pawang ular saat memberikan keterangan kepada Tribuncirebon.com disela kegiatan penetasan ular koros tadi, di rumahnya Desa Windujanten, Kecamatan Kadugede, Jum'at (26/2/2021).

Pawang ular muda di Kuningan ini mengatakan, pelepasliar ular koros ini di lakukan sebagai penebusan kesalahan. Pasalnya, ular koros yang biasa hidup di habitat persawahan menjadi titik sasaran penangkapan yang biasa lakukan untuk memenuhi kebutuhan King Kobra miliknya.



"Iya, saya lepasliarkan. Biar ular itu besar secara alami dan kalau besar juga saya tangkap untuk pakan King Kobra.

Kebiasaan, tangkap ular koros itu biasa dilakukan untuk pakan King Kobra yang ada di penangkaran saya," ungkapnya.

Rentul menyebut karakter penetasan ular itu rata - rata sama sekitar 3 bulan. "Iya mau ular jenis apapun waktu penetasan dari awal keluar telur itu memakan waktu selama tiga bulan," ungkapnya.

Mengenai cara penangkaran yang biasa di lakukan, ini semua menggunakan teknik alami tanpa peralatan atau pendukung lainnya.



"Cara alami untuk telur ini. Istilah inkubator juga dilakukan hanya menggunakan wadah yang beralaskan pasir di tutup rapat. Seperti wadah ini terlihat tadi saja," ungkap Rentul lagi.

Diberitakan sebelumnya, masih ingat dengan si Covid.Julukan King Kobra di Kuningan yang mirip Garaga Panji Petualang, akhir -akhir ini mengalami keprihatinan kondisi tubuhnya.

Rinto alias Rentul sekaligus pawang ular pemilik si Covid saat ditemui dirumahnya, Desa Windujanten, Kecamatan Kadugede, Kuningan, Jawa Barat.

Mengaku bahwa kondisi kesehatan si Covid memang memprihatinkan akibat mengidap penyakit. Hal itu muncul akibat kondisi lingkungan dan cuaca yang terjadi beberapa waktu terakhir tak menentu.

"Kondisi si Covid di musim cuaca pancaroba sangat memprihatikan. Selain matanya kurang bercahaya, berat badannya pun mengalami penurunan dan ini jelas mengidap penyakit," ungkap Rentul kepada Tribuncirebon.com, Selasa (23/2/2021).

Rentul menyebut derita penyakit yang dirasakan si Covid itu, tidak lain mengalami sariawan dan terkena serangan cacing dalam tubuhnya. Sehingga dalam waktu tertentu saat melakukan perawatan itu harus lebih maksimal.

Namun jika sebaliknya alias tidak dilakukan perawatan ekstra, ini justru menjadi ancaman pada kelangsungan hidup yang tak lama atau cepat mati.

"Mengenai sariawan yang diketahui pada si Covid. Diketahui akibat tak nafsu makan dan terlihat dari gusi atau bagian taring King Kobra itu seperti berkerak," ujarnya.

Upaya memulihkan dari penyakit sariawan itu dalam waktu terjadwal harus rajin membersihkan kerak di sekitar gusi tersebut.

"Pembersihan kerak pada gusi, ini bisa dilakukan dengan cara manual.
Yaitu melakukan buka mulut ular dengan alat dan melakukan pembersihan kerak pada gusi tersebut," ujarnya.

Alasan pembersihan kerak pada gusi King Kobra, kata Rentul, adanya taring itu merupakan salah satu organ penyerta ketika melakukan pemangsaan.

Karena dengan bentuk taring mirip kail, itu sebagai pembantu untuk mendorong mangsa agar cepat masuk dalam tubuh.

"Cara kerja selain sebagai alat pemangsa, taring yangnmemiliki bentuk seperti kail, itu untuk menarik dan mendorong mangsa saat di makan agar cepat terurai dalam tubuh ular," ungkapnya.

Hal ini tidak jauh dari kebiasaan ular phyton yang sama memiliki taring saat memakan mangsa.

Terlepas melakukan pembersihan gusi pada sekitar taring King Kobra, masih kata Rentul, tindakan bedah tubuh pada King Kobra pun harus dilakukan. Pelaksanaan itu semata untuk mengeluarkan cacing dalam perut King Kobra tersebut.

"Prakteknya biasa, perut King Kobra kita bedah dengan alat, setelah terbuka kita lakukan pembersihan pada perut ular, untuk mengeluarkan cacing - cacing dalam perutnya," ujarnya.

Bentuk cacing dalam perut King Kobra, kata Rentul, ini mirip dengan lendir atau biasa disebut dengan nama lamad.

"Nah, saat perut terbuka. Lamad itu harus dibersihkan total, karena kandungan lamad itu terdapat cacing yang merusak pencernaan King Kobra.

Istilah dalam kehidupan kita, cacingeunlah," ungkapnya.

Usai melakukan bedah pada tubuh King Kobra dan di pastikan bersih dari cacing. Luka akibat operasi ringan biarkan dan itu akan rapat saat terjadi pergantian kulit.

"Jadi ketika sudah bedah perut King Kobra tadi. Paling kita berikan tempat bersih dan si King Kobra akan menutup rapat bekas operasi kecil tadi melalui ganti kulit," ujarnya.

Menyinggung soal bayi King Kobra, sisa dari kegiatan pelepas liar di hutan, kata Rentul mengaku bahwa jumlah anak King Kobra hasil penangkaran mandiri tinggal satu ekor.

"Iya sekarang anak King Kobra tinggal satu ekor. Dan empat ekor lainnya mati akibat kondisi cuaca terjadi selama ini," ungkapnya.

Pawang ular yang juga petugas keamanan di perumahan Cigadung ini mengatakan, usaha perawatan hingga tetap dilakukan terhadap lima ekor King Kobra dengan ukuran dan bobot berbeda.

"Ada lima ekor King Kobra berikut si Covid. Empat ekor lainnya sehat dan masih nafsu makan biasa," ujarnya.

Mengenai ular lainya, kata Rentul, dalam sepekan ini berhasil melakukan penetas telur ular pucuk alias ular pohon.

"Ada enam ekor bayi ular pucuk dan siap dilepasliarkan," katanya.

Sekedar informasi, Rinto alias Rentul, sang pawang ular di Kuningan ini merilis puluhan Baby King Kobra di hutan lebat di luar daerah Kuningan.

"Ada 30 ekor Baby King Kobra di lepas liar di hutan lepas tetangga daerah Kuningan," ungkap Rentul saat menyampaikan usai pelepasan anak - anak King Kobra tadi, Minggu (13/2/2021).

Rentul menyebut total Baby King Kobra hasil penangkaran mandiri itu ada sebanyak 40 ekor.

"30 ekor kami lepas dan 15 ekor Baby King Kobra itu sama teman komunitas reptil dan sisanya ada lima ekor masih di rumah," ujar Rentul yang juga warga Desa Windujanten, Kecamatan Kadugede, Kuningan.

Alasan perilisan atau pelepas liar ular tersebut, kata dia, ini di anggap sudah cukup mental dalam hidup di alam hutan bebas. Apalagi usia dua pekan terakhir dari penetasan itu sudah pernah ganti kulit.

"Iya, kalau ular patokan udah ganti kulit itu di anggap mampu bertahan hidup di habibat aslinya," ujarnya. (*)

Anakan Ular Koros Netas di lokasi Penangkaran Ular Desa Windujanten, Kecamatan Kadugede
Artikel ini telah tayang di tribunjabar.id dengan judul VIDEO Meski Ular Koros Bisa Jadi Pakan King Kobra, Pawang Ular Pilih Lepasliarkan Anakan Ular Koros, https://jabar.tribunnews.com/2021/02/27/video-meski-ular-koros-bisa-jadi-pakan-king-kobra-pawang-ular-pilih-lepasliarkan-anakan-ular-koros.
Penulis: Ahmad Ripai
Video Editor: Wahyudi Utomo
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved