Breaking News:

Waspada Longsor Sampah, TPA Cibeureum Sumedang Overload, Dampak Buruk Menanti

Walhi Jabar menilai bakal ada dampak buruk terkait TPA Sampah Cibeureum salah satunya bisa terjadi longsor sampah seperti di Leuwigajah Cimahi

Wartakota/Ichwan Chasani
ilustrasi TPA- Walhi Jabar menilai bakal ada dampak buruk terkait TPA Sampah Cibeureum salah satunya bisa terjadi longsor sampah seperti di Leuwigajah Cimahi 

TRIBUNJABAR.ID, SUMEDANG - Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Jabar menilai bakal ada dampak buruk terkait Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sampah Cibeureum di Desa Cibeureum Wetan, Kecamatan Cimalaka, Kabupaten Sumedang yang saat ini kondisinya sudah overload atau melebihi kapasitas.

Direktur Eksekutif Walhi Jabar, Meiki W Paendong mengatakan, ancaman dari kelebihan kapasitas di TPA tersebut akan menganggu estetika lingkungan dan berdampak terhadap kesehatan warga.

"Bahkan berdampak pada ekosistem atau kondisi lingkungan di wilayah sekitar, karena bisa merembet juga ke masyarakat akibat sampah semakin tercecer, ujarnya saat dihubungi Tribun Jabar melalui sambungan telepon, Minggu (21/2/2021).

Baca juga: Dinding Menara RTH Jatibarang Indramayu Aplek-Aplekan Tiap Hujan Deras, Pedagang Ketakutan

Menurut Meiki, pengelolaan sampah di semua TPA, rata-rata masih menggunakan sistem sanitery landfill, open dumping, dimana sampah yang sudah dibuang ke TPA itu ditimbun dengan tanah.

"Kalau pengelolaan open dumping gitu, khawatirnya semakin memperburuk kondisi lingkungan disana," kata Meiki.

Bahkan, Meiki juga menilai jika pengelolaannya tetap open dumping dan tidak tertata dengan baik, tidak menutup kemungkinan longsor sampah seperti di TPA Leuwigajah, Kota Cimahi bebrrapa tahun lalu bisa terjadi.

"Sanitery landfill itu kan ada teknisnya juga, tidak ditumpuk begitu saja. Jadi ada pola-pola tertentu untuk menghindari longsor, tapi kalau pengelolaannya buruk, ya tidak menutup kemungkinan," ucapnya.

Baca juga: Diduga Ditabrak dari Belakang, Sebuah Minibus di Majalengka Loncat dari Tol Cipali ke Jalan Arteri

Ia mengatakan, untuk menghindari semua dampak buruk itu, Pemkab Sumedang harus memiliki pola pengelolaan sampah sejak dari sumber sebenarnya atau mengganti pengelolaan tidak lagi dengan sistem kumpul angkut lalu buang.

Menurutnya, jika pola pengelolaan sampah masih tetap seperti itu, masalah penanganan sampah tidak akan selesai.

"Mau seluas apapun TPA, kalau sistemnya seperti itu nantinya akan selalu kelebihan kapasitas. Jadi, harus ada solusi pengurangan sampah sejak dari sumbernya, seperti sampah rumah tangga, dan sampah pasar," kata Meiki.

Selain pengelolaan dari sumber sampah, Meiki juga menyarankan harus ada pengelolaan di TPA, seperti sampah organik dikomposkan, dan sampah kering yang masih punya nilai ekonomis dipisah.

Baca juga: VIDEO-Curah Hujan Tinggi, Hati-hati Melintasi Tol Cipularang, Ini Pesan Kepala Induk PJR Cipularang

Dengan cara seperti itu, kata dia, nantinya bisa mengurangi beban TPA, karena sampah yang dibuang ke TPA tinggal sampah-sampah yang residu atau tidak bisa dikelola dan tidak menghasilkan lagi nilai ekonomis.

"Tentunya di TPA pun harus ditimbun dan ada sistem pemilahan lagi. Kalau selama ini cara seperti itu tidak berjalan," ucapnya.

Sementara untuk jangka pendeknya, menurut Meiki, TPA itu harus dilakukan perluasan jika pengelolaannya masih menggunakan sanitery dumping dan open dumping meskipun harus membutuhkan lahan.

"Menurutnya saya percuma juga, kalau perluasan lahan, tapi sistem di sumbernya tidak diubah karena nantinya bakal ada penambahan terus. Jadi, mau sampai kapan kalau pengelolaannya masih seperti itu, kumpul, angkut buang," kata Meiki.

Penulis: Hilman Kamaludin
Editor: Siti Fatimah
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved