Gempa Bumi

Mengenal Mitos dan Legenda tentang Gempa Bumi dari Berbagai Negara dan Daerah di Indonesia

Sebelum penjelasan ilmiah mengenai sebab terjadinya ditemukan, gempa sering dikaitkan dengan ragam mitos, cerita legenda, bahkan kepercaya kuno.

Penulis: Hermawan Aksan | Editor: Hermawan Aksan
Tribun Jabar/Fauzi Noviandi
Gedung sekolah yang rusak akibat gempa bumi magnitudo 5,0 di Kabupaten Sukabumi pada Selasa (10/3/2020). Sebelum penjelasan ilmiah mengenai sebab terjadinya ditemukan, gempa sering dikaitkan dengan ragam mitos, cerita legenda, bahkan kepercaya kuno. 

Namazu, makhluk mitologi berupa monster ikan lele yang hidup di bawah daratan, dipercaya masyarakat Jepang sebagai penyebab gempa.

Namazu
Namazu (Wikipedia)

Kepercayaan ini sempat dituangkan dalam ilustrasi, yang menggambarkan orang-orang menghukum sang monster atas gempa besar yang terjadi di tahun 1855.

Lahirnya Raja Baru

Pada tahun 1256 Saka atau 1334 Masehi, Jawa Timur pernah mengalami gempa besar.

Serat Pararaton, sebuah kitab naskah Sastra Jawa Pertengahan yang digubah dalam bahasa Jawa Kawi, memaknai gempa bumi itu sebagai penanda perubahan bahwa akan lahir seorang calon raja besar.

Pada masa tersebut, Hayam Wuruk—bersama Mahapatih Gajah Mada—yang nantinya jadi raja yang berhasil membawa Kerajaan Majapahit meraih kejayaan, bahkan sebagai kerajaan terbesar, lahir ke Bumi.

Trisula Poseidon

Mitologi Yunani memercayai keberadaan Poseiden yang merupakan dewa laut. Dewa ini punya nama lain, yakni pembuat gempa.

Poseidon
Poseidon (web)

Menggunakan trisula, saat murka, Poseidon akan menancapkan senjatanya dan membuat bumi berguncang.

Bumi Ditopang Tanduk Sapi

Masyarakat Sunda tempo dulu percaya bahwa bola bumi ditopang oleh tanduk seekor sapi raksasa yang berdiri di atas punggung seekor ikan paus.

Kalau ikan paus atau sapi itu bergerak, bumi pun berguncang. Kadang sapi itu sengaja menggoyangkan untuk mengetahui apakah bumi masih ada penghuninya.

Itu sebabnya penduduk bumi harus memberi tahu sapi itu bahwa di bumi masih ada manusia.

“Aya! Aya! Aya!” begitulah orang-orang berseru jika terjadi gempa. Artinya, ada, ada, ada. Maksudnya, masih ada manusia di atas bumi. (*)

Sumber: Tribun Jabar
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved