Suami Sakit, Santi Gadaikan HP Anaknya untuk Makan, Datangi Ketua Komisi C DPRD: Saya Sedih dan Malu

Santi Marisa datang untuk meminta bantuan sekolah anaknya karena ponsel yang biasanya digunakan untuk daring sudah digadaikan.

Editor: Hermawan Aksan
Kompas.com
Santi Marisa (33) bersama putri sulungnya, Cantika Aurelia Ahmad (8), saat mengunjungi ruangan Fraksi PDIP di kantor DPRD Kota Surabaya, Senin (15/2/2021). 

TRIBUNJABAR.ID - Seorang ibu rumah tangga di Surabaya, Santi Marisa (33), nekat mendatangi rumah Ketua Komisi C DPRD Kota Surabaya, Baktiono, pekan lalu.

Santi datang untuk meminta bantuan sekolah anaknya karena ponsel yang biasanya digunakan untuk daring sudah digadaikan.

Ia mengaku terpaksa menggadaikan satu-satunya barang berharga agar bisa makan.

Baca juga: Tip Sebelum, Saat, dan Setelah Gempa Bumi, Peristiwa yang Belakangan Sering Terjadi di Indonesia

Baca juga: Jelang Bulan Ramadhan, Inilah Doa-doa yang Bisa Dipanjatkan Doa Umur Panjang Sampai ke Bulan Puasa

"Saya awalnya ke Pak Baktiono. Kan itu dekat rumah saya di Jalan Rangkah. Saya bilang ke Pak Baktiono, saya mau minta bantuan buat anak sekolah daring. Soalnya HP saya enggak ada, tak gadaikan," kata Santi.

Setelah menemui Baktiono, Santi diminta untuk menemui staf ahli Fraksi DPI-P di kantor DPRD Kota Surabaya.

"Di sana saya dikasih makan, dibantu juga nebus HP saya," ujar Santi.

Santi juga dijanjikan bantuan sejumlah buku untuk menunjang pendidikan anak Santi.

"Nanti masalah-masalah seperti buku, kalau kita enggak bisa beli juga bisa dibantu katanya. Jadi, anak saya ini masih belum tahu dapat bantuan mitra warga atau apa," kata dia.

Santi Marisa (33) bersama putri sulungnya, Cantika Aurelia Ahmad (8), saat mengunjungi ruangan fraksi PDIP di kantor DPRD Kota Surabaya, Senin (15/2/2021).
Santi Marisa (33) bersama putri sulungnya, Cantika Aurelia Ahmad (8), saat mengunjungi ruangan fraksi PDIP di kantor DPRD Kota Surabaya, Senin (15/2/2021). (Kompas.com)

Santi lalu mendapatkan uang Rp 400.000 untuk menebus ponselnya yang digadaikan di koperasi simpan pinjam.

Santi terpaksa menjual ponsel yang digunakan anaknya belajar karena ia tak lagi memiliki harta berharga lagi untuk dijual.

Perempuan berusia 33 tahun itu memiliki dua anak, NAA (5) dan kakaknya, CAA (8).

NAA masih TK dan CAA sudah duduk di bangku SD.

Suami Santi adalah Ahmad Toha Muarif (35), seorang kuli bangunan dengan penghasilan tak menentu.

Namun, beberapa bulan terakhir, Toha tak bisa bekerja karena kecelakaan.

Halaman
1234
Sumber: Kompas
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved