Breaking News:

Pergerakan Tanah di Sukabumi

PVMBG Ungkap Penyebab Pergerakan Tanah di Nyalindung Sukabumi, Kesimpulan: Warga Harus Direlokasi

PVMBG yang sudah melakukan penelitian menyarankan agar warga di Kampung Ciherang, Nyalindung, Kabupaten Sukabumi, direlokasi.

Penulis: M RIZAL JALALUDIN | Editor: taufik ismail
TribunJabar.id/M Rizal J
Kondisi Kampung Ciherang di Nyalindung, Kabupaten Sukabumi, yang terdampak pergerakan tanah. 

Laporan Kontributor Tribunjabar.id Kabupaten Sukabumi M Rizal Jalaludin

TRIBUNJABAR.ID, SUKABUMI - Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) melakukan penelitian di lokasi pergerakan tanah di Kampung Ciherang, Desa Cijangkar, Kecamatan Nyalindung, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, beberapa waktu lalu.

Rekayasa Madya PVMBG, Imam Santosa mengatakan, pihaknya telah mengeluarkan hasil penelitian sementara.

"Jadi dari hasil penelitian kajian kemarin itu kami bisa mengeluarkan hasil sementara sebelum ada laporan resmi. Itu yang sangat masif itu retakan-retakan dan juga amblesan itu bisa sampai dua meter, lebarnya itu bisa satu sampai tujuh meter, dan itu arahnya hampir searah semua arah timur laut barat daya, itu dari rekahan," ujarnya via telepon, Senin (15/2/2021).

Baca juga: Warga Kasomalang Heboh, Temukan Sejumlah Benda Mirip Granat Belakang Dapur Rumah

Baca juga: Ashanty Sekeluarga Positif Covid-19, Istri Anang Sempat Memprihatinkan, Arsy Sedih Sampai Nangis

Ia menjelaskan, hasil penelitian pergerakan tanah di Kampung Ciherang itu dikarenakan lokasi itu berada di atas batuan vulkanik.

"Dan memang kalau kami tinjau pengontrol gerakan tanah itu ada beberapa, ke satu kontrol litologi secara geologi bahwa memang Kampung Ciherang itu berada di atas batuan vulkanik yang kami sebut breksi vulkanik itu. Nah, itu di atas breksi vulkanik itu banyak tanah-tanah pelapukan tanah yang warna merah atau cokelat tua," jelasnya.

Menurutnya, tanah tersebut lebih kedap air, sehingga diprediksi pemicu gerakan tanah itu akibat curah hujan dan air berlebih yang masuk ke dalam retakan yang ada sebelumnya.

"Nah, itu yang di atas bidang gelincir batuan breksi vulkanik yang lebih kedap terhadap air. Memang pemicunya tentu saja curah hujan yang cukup tinggi, air yang berlebih, berlimpah, tapi memang penataan drainase, selokan-selokan juga enggak bagus di Kampung Ciherang itu, air melimpah ke mana-mana, dia masuk ke retakan-retakan yang sudah ada sebelumnya," terangnya.

"Jadi makanya dia fenomenanya bisa berupa gerakan tanah tipe lampat, ini kan tipe lambat gerakan rayapan ini sebetulnya," ujarnya.

Imam mengatakan, dikhawatirkan tipe lambat tersebut berkembang menjadi cepat yang dapat menimbulkan kerusakan lebih parah.

"Tapi di bagian bawah kami juga temukan gerakan tanah yang tipe cepat, nah, itu yang kami khawatirkan, kan, tipe lambat bisa berkembang ke tipe cepat, (pelan tapi pasti) betul," ucapnya.

Imam menambahkan, berdasarkan keterangan warga, pergerakan tanah itu sudah terjadi berulang kali.

Sehingga menurutnya, warga di lokasi Kampung Ciherang itu harus direlokasi.

"Karena menurut sejarah, kami ngobrol sama orang-orang kampung di sana sudah berulang, dari zaman dulu dari tahun 1946, 2001, itu sudah beberapa kali memang di Kampung Ciherang ini sudah begitu. Terakhir bahwa kesimpulan kami bahwa perlu direlokasi di sana," ujarnya.

Baca juga: Tiga Curug di Kota Bandung Ini Bisa Menjadi Pilihan Saat Ingin Main Air dalam Suasana Tenang

Baca juga: Tidak Sedikit, Banjir yang Rendam 18 Kecamatan di Subang Akibatkan Kerugian Mencapai Rp 421 Miliar

Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved