Breaking News:

Cerita Pendek

Cerpen Tribun Jabar Minggu Ini: Cerita Pendek yang Tidak Pernah Selesai

Kepalaku berputar-putar. Mencari kalimat pertama. Tepatnya kalimat pembuka sebagai pintu masuk ke dalam cerita.

Tribun Jabar
Ilustrasi Cerpen 

Kau menerimanya dengan senyum kecil. Kemudian mengupaskannya untukku. Sambil membereskan karung kosong, anak itu tersenyum lebar-lebar. Rona wajahnya bahagia.

Cerita itu harus aku tulis. Itu adalah pengalaman yang sangat luar biasa yang tidak mungkin terulang kembali. Tapi bagaimana aku memulainya? Sudah hampir enam puluh menit judul di layar masih berdiri sendiri. Dari tadi aku sibuk mencari kata pembuka. Aku malah melamun peristiwa yang lalu. Perlukah aku ganti judul? Dan cerita pembukanya diawali peristiwa di halte bus kota itu? Mengapa tidak? Daripada aku tidak memulainya sama sekali. Tapi? Bukankah aku akan membuat cerita cinta kita dengan utuh? Aku harus berusaha membuat kalimat pembuka yang tepat.

Kupandangi layar monitor. Jari-jariku kembali melayang di atas hamparan huruf. Aku mulai mengetik. Ini kisah cinta dua anak manusia berlainan jenis… Ah terlalu umum? Aku hapus saja. Jari-jariku menari kembali.  Ini kisah cinta bak Romeo dan Juliet... Kalimat itu telalu sederhana? Sedangkan menurut buku Proses Kreatif Menulis Cerpen, awal cerita pendek itu ibarat etalase sebuah toko harus menarik biar orang yang lewat mau berkunjung. Kutarik jari-jariku. Kubiarkan semua jari menggaruk-garuk kepala yang tak gatal. Dan perlahan-lahan mengacak-acaknya. Seandainya ada cermin. Pantulan gambarnya sedikit menyerupai peminta-minta yang kerap kali wajahnya menyapa di lampu merah Jalan Pamuka.        

Akhirnya jiwaku mengakui jika aku baru pandai membaca dan menghayal belum bisa menuangkannya ke dalam tulisan berbentuk cerita pendek. Aku berusaha menulis cerita pendek lebih karena emosi. Dadaku dikuasai amarah saat mendapat undangan pernikahanmu. Aku ingin semua orang di segala penjuru dunia mengetahui bahwa kau pernah menjalin hubungan yang sangat dekat denganku beberapa tahun ke belakang. Aku ingin menggetarkan dunia, terutama suamimu nanti bahwa kau itu mantanku. Mantan yang masih terukir indah di belakang dadaku. 

Aku positive thinking saja. Mungkin gara-gara kartu undangan pernikahan ini pula yang membuat kepalaku tidak selaras dengan jariku. Kepalaku kusut, jari-jariku kaku. Tidak bisa menjebol emosiku agar tumpah berserakan dalam lautan kata menjadi sebuah cerita pendek. Mataku melotot ke layar monitor. Judul masih belum beranak. Telunjuk kanan menekan tombol backspace. Satu per satu huruf yang membentuk rangkaian judul hilang dari layar. Kemudian jari-jari tangan kompak menekan huruf untuk menyusun judul baru. "Cerita Pendek yang Tidak Pernah Selesai". Demikian judul baru yang diperintahkan petugas yang menjaga isi kepalaku. Walau hanya judul dan namaku yang muncul di layar, aku tersenyum puas. Dan buru-buru menyimpannya dalam komputer.

***

Penulis alumnus UPI Bandung. Cerpennya pernah dimuat di beberapa surat kabar lokal.

Penulis: Hermawan Aksan
Editor: Hermawan Aksan
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved