Senin, 18 Mei 2026

Mengintip Acara Ngagondang, Budaya Sunda Zaman Dulu di Pangandaran

Ngagondang merupakan kegiatan orang Sunda, ketika menumbuk padi di lisung (lesung) dengan

Tayang:
Penulis: Padna | Editor: Ichsan
tribunjabar/padna
Mengintip Acara Ngagondang, Budaya Sunda Zaman Dulu di Pangandaran 

Laporan Kontributor Tribunjabar.id, Padna

TRIBUNJABAR.ID, PANGANDARAN - Ngagondang merupakan kegiatan orang Sunda, ketika menumbuk padi di lisung (lesung) dengan menggunakan halu (alu).

Hasil terpaan halunya menghasilkan suara berirama merdu saling bersahut-sahutan, itulah Ngagondang.

Seperti yang dikatakan seorang budayawan Pangandaran, Ma'arif, pada zaman dulu caranya Ngagondang itu biasanya pegangan padi Gedengan.

Kemudian di bibir ujung lubang lisung diinjak oleh kaki satu pasangan pegondang sambil padinya ditempa tempa oleh halunya.

"Biasanya, setelah si padi ditempa langsung terlepas dari Gendengan, dengan sendirinya padi akan bergeser ke pasangan pegondang ke dua di sebelahnya," kata Ma'arif saat ditemui wartawan di rumah pasir Kiara Parigi, Sabtu (6/2/2021).

Tak Terduga, Begini Sikap Gading Marten ke Gisel yang Tersandung Kasus Video Syur, Sebut Soal Wijin

Setelah ditempa, lanjut ia, si padi pun bergeser ke pasangan pegondang ketiga, begitu juga sampai ke pegondang ke empat.

"Di si pegondang kelima, padi sudah banyak yang terlepas dari kulitnya," ucapnya.

Kemudian dipindah dan dimasukan ke lubang berdiamter 30 cm, dan ditempanya untuk lebih dibersihkan dari kulit padinya.

Pasangan pegondang ke lima, mengambil padi hasil tempaan yang kemudian ditampi memakai nyiru (alat pemisah antara dedak sekam dengan padi).

Biasanya, menempa padi sekitar dua atau tiga sangga dengan cara Ngagondang.

Dan itu akan mengajak para saudara serta tetangga yang di satu lisung itu bisa melibatkan 4 pasangan sampai delapan pasangan pegondang.

"Cuma tergantung panjangnya lisung tersebut," kata Ma'arif.

Antisipasi Penyebaran Covid-19, Personel Satlantas Polres Cirebon Kota Jalani Rapid Test Antigen

Banyaknya jumlah sangga'an padi yang ditutu (ditekan), itu tergantung berapa benyak beras yang dibutuhkan untuk satu bulan kedepannya.

Nah, Kalau kegiatan ngagondang di acara orang yang akan hajatan atau pernikahan, itu biasa melibatkan sekitar 10 atau 15 pegondang, dengan disebut rampak Gondang.

Rampak Gondang diacara sepert ini kadang panitia hajat memberikan hadiah kepada pegondang yang dianggap terbaik ke satu ke dua dan ke tiga.

Untuk persiapan acara hajatan biasanya membutuhkan banyak beras, maka setelah tenda hajatan berdiri atau sebelum hari H Hajatan, selama satu Minggu para tetangga dan handai taulan membantu (ka'ajak) mengerjakan apapun demi kebutuhan si punya hajat (gotong royong).

Ngagondang asal kosakatanya dari Nga - Gon-Dang, yang berarti Nga nya itu NgaHariring - Gon nya bunyi-bunyian dari hasil Nakol (mukul-mukul) dan Dang nya atau Lisung dengan suara Dang ding dung, brak bruk brak, tak dak ding dung break, dipadu oleh paduan suara saling bersahutan.

Sebelum tahun tujuh puluhan, Lisung adalah alat tradisional penumbuk padi orang Sunda waktu dulu, sebelum adanya heller padi.

Kata-kata Imlek 2021, Cocok Buat Ucapan Tahun Baru Imlek, Kirim ke Keluarga Besar hingga Teman

Di Lisung dengan menggunakan halu (alu), lalu menumbuk padi pocongan atau gedengan untuk dijadikan beras.

Lisung merupakan alat yang terbuat dari kayu keras (glondongan), dan diameter antara 40-50 cm. 

Dengan panjang antara satu setengah sampai tiga meteran, dipapas dan dipahat menyerupai perahu kayu pada jaman dulu. 

Di ujung yang agak kecil, biasa dibuat seperti kepala naga dan di ujung sebelahnya yang lebih besar (bongkot).

Dan dibuat lubang bulat berdiameter sekitar 35 cntmtr, yang ke bawahnya mengecil sebesar halu berdiameter sekitar 10 cm. 

Kemudian di lisung itu ada lubang memanjang berbentuk seperti selokan air (lesung).

Dengan lebar atas mulai dari sekitar 30 cm makin mengecil ke ujung mengikuti besaran nya kayu, dan lebar bawah 25, kedalaman 30 cm, dan itu tempat padi ditumbuk pakai halu.

Ukuran bentuk Lisung, meskipun di satu lisung di tempa oleh lima pasangan pegondang, akan mendapatkan bunyi Nada yang berbeda beda.

Jadi Lisung itu, selain alat kerja menggiling padi, juga berfungsi sebagai alat musik.

Jaman dulu, khusus orang-orang yang kurang mampu, bisa menjadi pekerja yang panggilannya "Tukang Nutu".

Jika seseorang membutuhkan beras yang banyak, biasanya meminta bantuan kepada tetangga dan saudara.

"Biasanya dengan kalimat ajakan, Isuk di abdi urang Nutu sambil Ngagondang, dongkao nya? (besok di saya menggiling padi sambil hiburan bernyanyi ria (Ngagondang), datang yah?)," ucap Ma'arif sambil mempraktikan.

Ini Dia Joy, Anjing yang Senang Dibonceng Motor Oleh Pemiliknya, Kini Tengah Viral dan Jadi Ikon

Karena itu, kata ia, menjadi kebiasaan bersama, dan sudah membudaya, maka banyak orang yang datang untuk Ngagondang.

Namun sekarang, budaya Sunda dengan ngagondang sudah punah. Malahan kebanyakan orang Sunda tidak tahu nama ngagondang. 

Sumber: Tribun Jabar
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved