Petani Jahe di Langkaplancar Pangandaran, Panen Lebih Awal daripada Busuk akibat Cuaca Ekstrem
Petani Jahe di Langkaplancar, Kabupaten Pangandaran, memilih panen lebih awal daripada busuk
Laporan Kontributor Tribunjabar.id, Pangandaran, Padna
TRIBUNJABAR.ID, PANGANDARAN - Petani Jahe di Langkaplancar, Kabupaten Pangandaran, memilih panen lebih awal daripada busuk akibat cuaca ekstrem.
Karena cuaca ekstrem, seringnya turun hujan deras yang hampir setiap hari mengakibatkan tanaman jahe membusuk dan mati.
Untuk menghindari dari kerugian yang lebih parah, maka petani Jahe di Desa Pangkalan, Kecamatan Langkaplancar, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat terpaksa memanen tanaman jahe lebih awal.
Seorang petani jahe, Mang Dain mengaku, panen ini dilakukan, untuk menghindari kerugian yang disebabkan banyaknya tanaman jahe yang busuk.
Makanya, tanaman jahe miliknya dipanen lebih awal, karena ditakutkan mati dan membusuk.
Baca juga: Susah Payah jadi Pemulung untuk Biayai Anak Kuliah, Sang Anak Malah Membunuh Bayinya Sendiri
"Mendingan dipanen lebih awal, meskipun usia tanamnya belum tua, karena masih masa perkembangan," kata Dian, saat ditemui wartawan di lokasi kebunnya, Minggu (24/1/2021).
Ia mengatakan, kebanyakan petani jahe di Langkaplancar mengeluh akibat tanaman jahenya membusuk.
"Membusuk ini, dikarenakan tanah terlalu lembab akibat diguyur hujan yang turun menerus," ucapnya.
Meskipun panen lebih awal, tapi pasar masih ada yang mau menerima jahe yang usianya belum terlalu tua.
"Untuk harganya, lumayan tinggi mungkin karena pasokan yang masih langka," kata ia.
Dain mengaku, harga jahe gajah di pasaran saat ini mencapai Rp 30 ribu sampai Rp 35 ribu per kilogramnya.
Baca juga: Wakil Bupati Pangandaran dan Istri Positif Covid-19, Suami Pulang dari Bandung, Istri dari Sumbawa
Sedangkan, untuk harga jahe merah dikisaran Rp. 50.000 sampai Rp.60.000 per kilogramnya.
"Ya, lumayan lah daripada mati membusuk karena cuaca," ucapnya.
Menurut Dian, untuk mengatasi kesulitan mencari benih buat musim tanam tahun berikutnya, ia dan para petani jahe lainnya, tidak menjual semua hasil panennya.