Breaking News:

Cerpen

Cerpen Tribun Jabar Minggu Ini: Dua Kisah Unik yang Tak Berhubungan

Lelaki dalam cerita ini bukanlah seorang pengangguran, ia bekerja. Meski ia memiliki pekerjaan, penghasilannya sangat rendah.

Cerpen Tribun Jabar Minggu Ini: Dua Kisah Unik yang Tak Berhubungan
Istimewa
Bamby Cahyadi

Oleh Bamby Cahyadi

Upaya Mencari Penghasilan Tambahan

Upaya menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) diartikan sebagai usaha kegiatan yang mengarahkan tenaga, pikiran untuk mencapai suatu tujuan. Upaya juga berarti usaha, akal, ikhtiar untuk mencapai suatu maksud, memecahkan persoalan mencari jalan keluar.

**

Lelaki dalam cerita ini bukanlah seorang pengangguran, ia bekerja. Meski ia memiliki pekerjaan, penghasilannya sangat rendah sehingga ia merasa patut mencari penghasilan tambahan. Apalagi istrinya saat ini tengah menganggur akibat hamil tua dan terdampak PHK. Lelaki ini bekerja diperusahaan Alih Daya yang dikenal sebagai penyediaan jasa tenaga kerja bidang kebersihan.

Semula istrinya bekerja juga dengan status karyawan PKWT—perjanjian kerja waktu tertentu—di sebuah perusahaan pemintal benang, pekerjaan mengubah serat kapas menjadi benang. Tentu dengan status PKWT, istrinya terikat kontrak kerja suka-suka dari perusahaan pemintal benang itu, namanya juga kontrak dengan waktu tertentu, bisa hanya 1 bulan, 3 bulan, syukur-syukur sampai 1 tahun. Ketika kontrak itu berakhir, berakhir sudah amunisi untuk dapur mengebul.

Sialnya, perusahaan tempat ia bekerja pun tidak mengikutsertakan dirinya menjadi peserta BPJS Kesehatan sehingga ia harus berpikir mati-matian untuk membiayai persalinan istrinya kelak yang tinggal beberapa minggu lagi.

Bulan Desember adalah bulan yang basah. Namun hatinya sangat bergelora saat berteduh di sebuah halte menunggu hujan reda. Ia menemukan sebuah koran yang tergeletak begitu saja. Semula ia hanya iseng untuk membunuh waktu menunggu hujan dengan membaca berita-berita di halaman depan koran. Namun, hujan tak kunjung berhenti, bahkan makin menderas, mau tidak mau ia melahap halaman demi halaman koran tersebut.

Hingga pada sebuah halaman ia membaca, ”Kita pernah mendengar seorang pilot Singapore Airlines yang hidup sejahtera, tiba-tiba tergerak hatinya untuk berhenti bekerja dan kemudian membuka rumah yatim di Timor Timur. Ia berusaha mencukupi hidup bersama di rumah yatim tersebut dan bahkan mengembangkan pertanian di daerah yang tadinya gersang. Seluruh keluarga, termasuk anak-anaknya, kecuali yang sudah harus berkuliah di tempat lain, bekerja dan hidup bersama di lokasi itu.”

Ia menuntaskan membaca seluruh tulisan itu dengan penuh gairah. Apalagi ia juga membaca kutipan kata-kata bijak di pojok kanan atas koran tersebut, ”Cara terbaik untuk memperkirakan masa depan adalah dengan menciptakannya,” begitu kata Abraham Lincoln.

Pembaca yang baik hati, Anda mengira ia akan memutuskan berhenti bekerja seperti seorang pilot dari maskapai Singapore Airlines itu. Tidak. Justru sebaliknya, dalam benaknya mendadak tumbuh ide cemerlang dari otaknya yang tadinya keruh seperti sungai yang belum dinaturalisasi. Ia akan mencari penghasilan tambahan. ”Inilah jalan keluar yang paling terhormat,” batinnya penuh semangat.

Sebelum hujan benar-benar reda, ia bergegas meninggalkan halte, menerabas hujan agar secepatnya sampai di rumah dan menemui istrinya yang sedang menantinya. Keesokan harinya ia datang ke sebuah perusahaan lokal yang kini mengglobal dengan frasa yang dibuat para pengiklan baik dalam bentuk visual maupun verbal yang mengungkapkan betapa pentingnya manfaat dari perusahaan itu. Frasa itu berbunyi: ”Pasti Ada Jalan”.

Ya, lelaki dalam cerita ini tengah mengantar Anda dengan sepeda motornya menuju suatu tujuan yang Anda inginkan dengan nyaman dan selamat meski sesekali ia melanggar aturan berlalu lintas, setelah ia membersihkan beberapa toilet di sebuah apartemen di kota Anda di mana ia bekerja. Tentu ia bekerja dengan menjalankan protokol kesehatan agar terhindar dari infeksi virus Covid-19 yang belum juga tuntas hingga cerita ini usai. ***

Nama yang Tak Bermakna

Coba Anda bayangkan, di sebuah rumah kecil di tepi sebuah jalan kota Jakarta yang penuh debu dan para tetangga yang sibuk bergunjing, seorang perempuan usia tiga puluhan melahirkan bayinya. Ayah si bayi dikenal sebagai lelaki peminum, tukang mabuk, pemain judi dan tukang main perempuan. Di tempat lain baru saja lelaki itu meniduri seorang PSK belia di sebuah ruko kosong dengan gairah. Tidak ada yang lebih nikmat dari kelakuan lelaki yang menyetubuhi perempuan berkali-kali. Mereka memekik ketika mencapai pelepasan. Di tempat lain bayi yang baru saja keluar dari rahimnya ibunya menangis keras ketika lubang hidungnya menghirup udara kota yang panas dan pengap untuk pertama kali.

Kelahiran si bayi dihadang dengan setumpuk masalah. Yang pertama ibu si bayi tidak bisa membayar biaya persalinan kepada bidan yang menolongnya, beruntung si bidan adalah seorang yang mengerti tentang kehidupan orang-orang susah macam perempuan ini. Bahkan bidan yang berhati mulia itu memberikan beberapa lembar uang dan obat-obatan kepada perempuan yang baru saja melahirkan itu.

Masalah kedua adalah bahwa ibu si bayi, perempuan yang baru saja melahirkan ini, hanyalah seorang istri simpanan dari seorang lelaki brengsek yang tak tahu diri, yang pada waktu bersamaan sedang menggertakkan gigi ketika merasakan tubuh perempuan pekerja seks yang sedang bersamanya bergetar hebat, mencapai klimaks meraung penuh kenikmatan.

Masalah ketiga adalah kenyataannya bayi yang baru saja lahir seorang bayi perempuan, padahal ia sangat berharap bayi yang terlahir seorang bayi laki-laki. Perempuan yang baru saja melahirkan ini jelas saja tidak siap menyediakan nama kepada anaknya itu.

Apalah arti sebuah nama, pikir perempuan itu. Lalu diberi namalah si bayi itu: Betina. Kelak ia, atau siapa pun, bisa memanggil anaknya; Beti atau Tina. Terserah.

**

Begini kelanjutan ceritanya.

Pada suatu hari 7 tahun kemudian. Lelaki brengsek yang menjadi ayah dari Betina yang baru saja berulang tahun ke-7 terlibat keributan serius dengan istrinya, ibu Betina. Ayah Betina mengejar dan memukuli ibu Betina dengan sebuah linggis. Akibat hantaman linggis dan berusaha menangkis batang linggis, beberapa jari ibunya patah. Melihat kejadian itu, Betina mencoba menolong ibunya dengan menghajar kepala ayahnya dengan sebuah botol bir kosong. Botol bir pecah. Ayahnya tak sempat mengelak mendapat serangan mendadak seperti itu, kepala lelaki itu terasa berdentam-dentam. Linggis dalam genggaman ayahnya lepas, lantas dengan cekatan Betina mengambil linggis itu, ia hantamkan ujung linggis itu ke kepala ayahnya dengan sangat keras hingga meretakkan tengkorak ayahnya. Betina tidak membunuh ayahnya, tetapi akibat hantaman linggis Betina butuh waktu yang cukup lama bagi ayahnya bisa pulih dan hidup normal kembali.

Betina terdiam untuk waktu yang cukup lama, menatap mata ayahnya dengan sorot yang keras, tajam, dan penuh kebencian sebelum ayahnya pingsan dengan kepala berlumuran darah. Betina menoleh ke arah ibunya yang terduduk dan bertemu pandang dengan mata perempuan malang itu. Ia mendekati ibunya dengan linggis masih di genggaman dan menarik tangan ibunya membantunya berdiri. Mereka beranjak dari halaman belakang rumah menuju tepi jalan yang berdebu. Tampak beberapa tetangganya berkerumun di sebuah teras rumah lain, bergunjing. Tak ada yang peduli.

Betina dan ibunya pergi tanpa arah. Mulailah ibu dan anak itu menjalani babak kehidupan tak menentu di pinggiran Jakarta.

Tanpa sepengetahuan Betina, untuk mendapatkan biaya hidup dan membayar bilik kontrakan di bawah jembatan dekat rel kereta api ke arah Bekasi, ibunya menjajakan dirinya sebagai pelacur kepada sopir-sopir truk kontainer yang biasa mangkal di Cakung. Tak perlu tempat khusus, cukup di kabin truk untuk memuaskan nafsu berahi para sopir yang memang membutuhkan penyaluran dengan tarif terjangkau.

Menjelang tutup tahun, kehidupan yang berat bagi Betina dan ibunya tak tertahankan lagi. Beruntung ibunya memiliki kampung halaman di sebuah desa kecil di Jawa Timur. Berbekal uang hasil melacur, ibunya membeli tiket kereta api. Dan pergilah mereka ke sebuah kota kecil di Jawa Timur. Tujuan mereka adalah rumah kakek dan nenek Betina untuk pulang. Sebuah keputusan yang sangat berat bagi ibunya, pulang. Karena 12 tahun yang lalu, ibu Betina kabur dari rumah pergi ke Jakarta.

**

Tulang pipi lelaki tua itu tampak seperti dipahat, dan kulitnya yang berwarna hitam itu tampak berkilau, ketika Betina dan ibunya mencapai ambang pintu rumah. Lelaki itu adalah ayah dari ibunya, kakek dari Betina. Alis lelaki itu tampak berwarna sedikit gelap daripada rambutnya, yang berwarna keperakan itu. Rambutnya terlihat berwarna putih mengkilap di bawah cahaya matahari senja. Sambil menyunggingkan senyum yang tulus, lelaki itu mengusap kepala Betina dan meminta mereka untuk masuk ke rumah.

“Mana Ibu?”

Nada suara lelaki tua itu terdengar tercekat. “Ibumu wafat 7 tahun yang lalu, Nak,” ujarnya lirih. Gelombang kesedihan menerpanya saat ia mengingat hal-hal yang pernah ia alami di rumah ini saat kanak-kanak dulu hingga remaja.

Di kota kecil yang teduh, lelaki tua yang merupakan kakek Betina berusaha memberikan kehidupan baru yang lebih baik bagi anak dan cucunya. Lelaki tua itu menyekolahkan gadis kecil itu dan berniat mengganti namanya cucunya. Tetapi Betina menolak.

“Namamu itu tidak elok, Nak,” begitu kakeknya berucap.

“Kakek bisa panggil aku Tina, aku suka namaku,” ujarnya

Lelaki tua itu hanya bisa tertegun. Tapi dalam hatinya ia berkata, “Nama Betina itu tidak memiliki makna, apalagi keanggunan seorang wanita, cucuku!”

**

Ya, Anda baru saja membaca dua kisah unik yang jelas-jelas tak ada hubungannya.

***

Apartemen Kalibata City, 12-12-2020

Bamby Cahyadi lahir di Manado, 5 Maret 1970. Ia menulis berbagai tema cerita pendek di koran, majalah, tabloid, dan media daring. Telah menerbitkan 4 kumpulan cerita pendek. Kesehariannya Bamby bekerja di industri food and beverages (F&B). Meraih gelar Bachelor of Hamburgerology dari Hamburger University Sydney, Australia.

Penulis: Hermawan Aksan
Editor: Hermawan Aksan
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved