Breaking News:

Cerpen

Cerpen Tribun Jabar Minggu Ini: Dua Kisah Unik yang Tak Berhubungan

Lelaki dalam cerita ini bukanlah seorang pengangguran, ia bekerja. Meski ia memiliki pekerjaan, penghasilannya sangat rendah.

Cerpen Tribun Jabar Minggu Ini: Dua Kisah Unik yang Tak Berhubungan
Istimewa
Bamby Cahyadi

Begini kelanjutan ceritanya.

Pada suatu hari 7 tahun kemudian. Lelaki brengsek yang menjadi ayah dari Betina yang baru saja berulang tahun ke-7 terlibat keributan serius dengan istrinya, ibu Betina. Ayah Betina mengejar dan memukuli ibu Betina dengan sebuah linggis. Akibat hantaman linggis dan berusaha menangkis batang linggis, beberapa jari ibunya patah. Melihat kejadian itu, Betina mencoba menolong ibunya dengan menghajar kepala ayahnya dengan sebuah botol bir kosong. Botol bir pecah. Ayahnya tak sempat mengelak mendapat serangan mendadak seperti itu, kepala lelaki itu terasa berdentam-dentam. Linggis dalam genggaman ayahnya lepas, lantas dengan cekatan Betina mengambil linggis itu, ia hantamkan ujung linggis itu ke kepala ayahnya dengan sangat keras hingga meretakkan tengkorak ayahnya. Betina tidak membunuh ayahnya, tetapi akibat hantaman linggis Betina butuh waktu yang cukup lama bagi ayahnya bisa pulih dan hidup normal kembali.

Betina terdiam untuk waktu yang cukup lama, menatap mata ayahnya dengan sorot yang keras, tajam, dan penuh kebencian sebelum ayahnya pingsan dengan kepala berlumuran darah. Betina menoleh ke arah ibunya yang terduduk dan bertemu pandang dengan mata perempuan malang itu. Ia mendekati ibunya dengan linggis masih di genggaman dan menarik tangan ibunya membantunya berdiri. Mereka beranjak dari halaman belakang rumah menuju tepi jalan yang berdebu. Tampak beberapa tetangganya berkerumun di sebuah teras rumah lain, bergunjing. Tak ada yang peduli.

Betina dan ibunya pergi tanpa arah. Mulailah ibu dan anak itu menjalani babak kehidupan tak menentu di pinggiran Jakarta.

Tanpa sepengetahuan Betina, untuk mendapatkan biaya hidup dan membayar bilik kontrakan di bawah jembatan dekat rel kereta api ke arah Bekasi, ibunya menjajakan dirinya sebagai pelacur kepada sopir-sopir truk kontainer yang biasa mangkal di Cakung. Tak perlu tempat khusus, cukup di kabin truk untuk memuaskan nafsu berahi para sopir yang memang membutuhkan penyaluran dengan tarif terjangkau.

Menjelang tutup tahun, kehidupan yang berat bagi Betina dan ibunya tak tertahankan lagi. Beruntung ibunya memiliki kampung halaman di sebuah desa kecil di Jawa Timur. Berbekal uang hasil melacur, ibunya membeli tiket kereta api. Dan pergilah mereka ke sebuah kota kecil di Jawa Timur. Tujuan mereka adalah rumah kakek dan nenek Betina untuk pulang. Sebuah keputusan yang sangat berat bagi ibunya, pulang. Karena 12 tahun yang lalu, ibu Betina kabur dari rumah pergi ke Jakarta.

**

Tulang pipi lelaki tua itu tampak seperti dipahat, dan kulitnya yang berwarna hitam itu tampak berkilau, ketika Betina dan ibunya mencapai ambang pintu rumah. Lelaki itu adalah ayah dari ibunya, kakek dari Betina. Alis lelaki itu tampak berwarna sedikit gelap daripada rambutnya, yang berwarna keperakan itu. Rambutnya terlihat berwarna putih mengkilap di bawah cahaya matahari senja. Sambil menyunggingkan senyum yang tulus, lelaki itu mengusap kepala Betina dan meminta mereka untuk masuk ke rumah.

“Mana Ibu?”

Nada suara lelaki tua itu terdengar tercekat. “Ibumu wafat 7 tahun yang lalu, Nak,” ujarnya lirih. Gelombang kesedihan menerpanya saat ia mengingat hal-hal yang pernah ia alami di rumah ini saat kanak-kanak dulu hingga remaja.

Halaman
1234
Penulis: Hermawan Aksan
Editor: Hermawan Aksan
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved