Breaking News:

Cerpen

Cerpen Tribun Jabar Minggu Ini: Dua Kisah Unik yang Tak Berhubungan

Lelaki dalam cerita ini bukanlah seorang pengangguran, ia bekerja. Meski ia memiliki pekerjaan, penghasilannya sangat rendah.

Cerpen Tribun Jabar Minggu Ini: Dua Kisah Unik yang Tak Berhubungan
Istimewa
Bamby Cahyadi

Pembaca yang baik hati, Anda mengira ia akan memutuskan berhenti bekerja seperti seorang pilot dari maskapai Singapore Airlines itu. Tidak. Justru sebaliknya, dalam benaknya mendadak tumbuh ide cemerlang dari otaknya yang tadinya keruh seperti sungai yang belum dinaturalisasi. Ia akan mencari penghasilan tambahan. ”Inilah jalan keluar yang paling terhormat,” batinnya penuh semangat.

Sebelum hujan benar-benar reda, ia bergegas meninggalkan halte, menerabas hujan agar secepatnya sampai di rumah dan menemui istrinya yang sedang menantinya. Keesokan harinya ia datang ke sebuah perusahaan lokal yang kini mengglobal dengan frasa yang dibuat para pengiklan baik dalam bentuk visual maupun verbal yang mengungkapkan betapa pentingnya manfaat dari perusahaan itu. Frasa itu berbunyi: ”Pasti Ada Jalan”.

Ya, lelaki dalam cerita ini tengah mengantar Anda dengan sepeda motornya menuju suatu tujuan yang Anda inginkan dengan nyaman dan selamat meski sesekali ia melanggar aturan berlalu lintas, setelah ia membersihkan beberapa toilet di sebuah apartemen di kota Anda di mana ia bekerja. Tentu ia bekerja dengan menjalankan protokol kesehatan agar terhindar dari infeksi virus Covid-19 yang belum juga tuntas hingga cerita ini usai. ***

Nama yang Tak Bermakna

Coba Anda bayangkan, di sebuah rumah kecil di tepi sebuah jalan kota Jakarta yang penuh debu dan para tetangga yang sibuk bergunjing, seorang perempuan usia tiga puluhan melahirkan bayinya. Ayah si bayi dikenal sebagai lelaki peminum, tukang mabuk, pemain judi dan tukang main perempuan. Di tempat lain baru saja lelaki itu meniduri seorang PSK belia di sebuah ruko kosong dengan gairah. Tidak ada yang lebih nikmat dari kelakuan lelaki yang menyetubuhi perempuan berkali-kali. Mereka memekik ketika mencapai pelepasan. Di tempat lain bayi yang baru saja keluar dari rahimnya ibunya menangis keras ketika lubang hidungnya menghirup udara kota yang panas dan pengap untuk pertama kali.

Kelahiran si bayi dihadang dengan setumpuk masalah. Yang pertama ibu si bayi tidak bisa membayar biaya persalinan kepada bidan yang menolongnya, beruntung si bidan adalah seorang yang mengerti tentang kehidupan orang-orang susah macam perempuan ini. Bahkan bidan yang berhati mulia itu memberikan beberapa lembar uang dan obat-obatan kepada perempuan yang baru saja melahirkan itu.

Masalah kedua adalah bahwa ibu si bayi, perempuan yang baru saja melahirkan ini, hanyalah seorang istri simpanan dari seorang lelaki brengsek yang tak tahu diri, yang pada waktu bersamaan sedang menggertakkan gigi ketika merasakan tubuh perempuan pekerja seks yang sedang bersamanya bergetar hebat, mencapai klimaks meraung penuh kenikmatan.

Masalah ketiga adalah kenyataannya bayi yang baru saja lahir seorang bayi perempuan, padahal ia sangat berharap bayi yang terlahir seorang bayi laki-laki. Perempuan yang baru saja melahirkan ini jelas saja tidak siap menyediakan nama kepada anaknya itu.

Apalah arti sebuah nama, pikir perempuan itu. Lalu diberi namalah si bayi itu: Betina. Kelak ia, atau siapa pun, bisa memanggil anaknya; Beti atau Tina. Terserah.

**

Halaman
1234
Penulis: Hermawan Aksan
Editor: Hermawan Aksan
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved