Selasa, 9 Juni 2026

Dibutuhkan, Donor Plasma Darah Masih Rendah, Ridwan Kamil Minta Ini Kepada Kepala Daerah dan ASN

Donor plasma darah penyintas Covid-19 masih rendah, Gubernur dorong kepala daerah dan ASN penyintas Covid-19 mendonor untuk terapi pasien Covid

Tayang:
tribunjabar/ahmad imam baehaqi
ilustrasi donor plasma darah- Donor plasma darah penyintas Covid-19 masih rendah, Gubernur dorong kepala daerah dan ASN penyintas Covid-19 mendonor untuk terapi pasien Covid 

Pencanangan Gerakan Nasional Pendonor Plasma Kovalesen oleh Wapres menunjukkan terapi ini efektif dan menjadi pilihan saat ini. 

“Jika memang tidak efektif sepertinya mustahil pemerintah lakukan ini. Terapi plasma kovalesen memang dalam taraf uji klinis di seluruh negara di dunia,” jelas Ariani. 

Menurut Ariani, saat ini minat penyintas COVID-19 untuk mendonorkan plasma darahnya masih rendah, sementara permintaan sangat tinggi. Sejak berdiri 25 Desember 2020, Komunitas Pendonor Plasma sudah memfasilitasi 241 penyintas.

Namun saat ini permintaan plasma darah terus meningkat, sementara tidak semua PMI melayani donor plasma darah.

Baca juga: Kala Suami Pergoki Istri Selingkuh di Dalam Kamar dengan Pria Idaman Lain, Bawa Polisi untuk Gerebek

Jika ada, tidak membuka pendaftaran secara sukarela tapi berdasarkan permintaan dari rumah sakit. Jika tidak ada permintaan, maka PMI tidak akan mencari pendonor.

Di satu sisi, stok plasma darah antardaerah tidak merata. 

“Padahal sebetulnya antar-PMI dapat saling mengirim plasma darah jika ada kebutuhan,” ungkapnya.  

Menurut Ariani, minat penyintas COVID-19 mendonorkan plasma darahnya rendah disebabkan beberapa hal. 

“Pertama karena mereka tidak tahu. Kedua, ada yang masih ogah untuk ke PMI. Kita tidak bisa memaksa, donor sifatnya hanya sukarela, apalagi kita kasih nomor hape penyintas tanpa izin,” katanya. 

Baca juga: Yang Tersisa dari Pembunuhan Mahasiswa Telkom, Pelaku Sebut Fathan Diikuti Sosok Gaib

"Ketiga, stigma pun menjadi salah satu pertimbangan. Karena ada stigma ini penyintas banyak yang merasa malu atau tidak mau ditampilkan jika mendaftar (jadi pendonor plasma), nanti takut dikucilkan,” katanya. 

Rendahnya donor plasma pun dapat disebabkan banyak penyintas yang sebetulnya sudah bersedia jadi pendonor, tapi setelah dites kesehatan ternyata tidak memenuhi syarat.

Contohnya, saat positif yang bersangkutan terkategori orang tanpa gejala, atau perempuan yang pernah hamil.

“Perempuan yang pernah hamil itu punya antigen HLA dan HNA, kalau plasma darahnya didonorkan akan terjadi penolakan dari penerima,” jelas Ariani.

Ariani menyambut baik ide bahwa kepala daerah dan pejabat publik penyintas COVID-19, mau mendonorkan plasma darahnya. “Baik banget itu. Pejabat publik bisa jadi influencer,” ungkapnya.

Baca juga: Kakek Perkosa Cucunya, Anak Perempuan 11 Tahun Hamil, Kesakitan Sebelum Meninggal Dipangkuan Ibu

TERAPI PLASMA DARAH

Sumber: Tribun Jabar
Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved