Breaking News:

WhatsApp Mulai Ditinggalkan Karena Aturan Baru Privasi, Telegram Kebanjiran 25 Juta Pelanggan Baru

Tetapi sebuah perusahaan dapat menggunakan data tersebut untuk tujuan pemasarannya sendiri, seperti iklan di Facebook.

Telegram Messenger 

Pada Selasa lalu, Telegram menjadi aplikasi terpopuler nomor dua di App Store, naik dari nomor 13 seminggu sebelumnya.

Beberapa pengguna yang beralih ke Telegram dan Signal mempermasalahkan kebijakan privasi WhatsApp yang baru.

Nyonya Sophia Ong (39), seorang guru swasta berpindah ke Telegram dalam seminggu terakhir.

Beberapa grup telah bermigrasi ke Telegram, walaupun dia masih mempertahankan akun WhatsApp-nya karena relasinya masih banyak menggunakan WA.

"Saya agak kesal, tapi beralih juga pada akhirnya karena tidak ada yang namanya makan siang gratis," katanya, mengacu pada aplikasi WhatsApp yang gratis.

Aplikasi Telegram
Aplikasi Telegram (News07trends)

Pengacara teknologi di Withers KhattarWong, Jonathan Kok mengatakan perubahan WhatsApp tidak mungkin melanggar UU Perlindungan Data Pribadi.

Sebab, menurutnya, WhatsApp sebelumnya telah memberi tahu penggunanya soal perubahan ini.

Jonathan mencatat, WhatsApp telah berbagi data dengan Facebook selama bertahun-tahun, terutama perihal informasi teknis sejak 2014.

Namun Jonathan mengakui, bahwa kebijakan dapat berubah di masa depan untuk memungkinkan WhatsApp memonetisasi data pengguna dengan langsung beriklan ke mereka.

Adapun WhatsApp saat ini tidak mengizinkan iklan.

Pengguna yang khawatir soal privasi dan ingin keluar dari WhatsApp kemungkinan besar juga perlu berhenti menggunakan Facebook, karena ada beberapa pembagian data.

"Bahkan jika Facebook memiliki semua informasi ini dan ingin menggunakannya, mereka tidak melalui WhatsApp untuk melakukannya, mereka akan menggunakannya di akun Facebook," kata Jonathan Kok.

(Tribunnews/Ika Nur Cahyani)

Editor: Ravianto
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved