Breaking News:

Ada yang Menangis Terkena Tembakan, Ada Pula yang Tertawa saat Laskar FPI Baku Tembak dengan Polisi

"Sebelum ada tembakan, ada suara yang itu kelihatan menikmati pergulatan itu, ketawa-ketawa,” terang Taufan dalam diskusi daring, Minggu (17/1/2021).

KOMPAS.COM/FARIDA
Ilustrasi: Satu dari 58 adegan rekontruksi penembakan anggota FPI di rest area tol Jakarta-Cikampek Km 50, Karawang, Jawa Barat, Senin (14/12/2020) dini hari. 

TRIBUNJABAR.ID, JAKARTA - Ketua Komnas HAM, Ahmad Taufan Damanik, menyebutkan sempat ada suara tawa Laskar Front Pembela Islam (FPI) sebelum baku tembak dengan anggota kepolisian terjadi.

Tak hanya itu, dari voice note Laskar FPI yang dimiliki Komnas HAM, Taufan mengatakan sempat ada keinginan untuk menyerang balik.

Dikutip Tribunnews dari Kompas.com, Taufan mengatakan pernyataan serang balik itu diucapkan setelah ada Laskar FPI terkena tembakan.

“Setelah ada tembakan dan ada yang menangis terkena tembakan, “serang balik”, ada."

"Sebelum ada tembakan, ada suara yang itu kelihatan menikmati pergulatan itu, ketawa-ketawa,” terang Taufan dalam diskusi daring, Minggu (17/1/2021).

Kapolda Metro Jaya Irjen Pol. Fadil Imran bersama Ketua Komnas HAM Ahmad Taufan Damanik menjawab pertanyaan wartawan usai dimintai keterangan di Menteng, Jakarta, Senin (14/12/2020). Selain Kapolda Metro Jaya, Komnas HAM juga menggali keterangan Direktur Utama PT Jasa Marga Subakti Syukur Imran terkait tewasnya enam orang Laskar FPI. TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN
Kapolda Metro Jaya Irjen Pol. Fadil Imran bersama Ketua Komnas HAM Ahmad Taufan Damanik menjawab pertanyaan wartawan usai dimintai keterangan di Menteng, Jakarta, Senin (14/12/2020). Selain Kapolda Metro Jaya, Komnas HAM juga menggali keterangan Direktur Utama PT Jasa Marga Subakti Syukur Imran terkait tewasnya enam orang Laskar FPI. (TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN)

Diketahui, dari hasil penyelidikan mendalam, Komnas HAM menyebutkan ada indikasi pelanggaran HAM dalam tewasnya empat dari enam Laskar FPI yang terlibat baku tembak dengan polisi.

"Terdapat empat orang yang masih hidup dalam penguasaan petugas resmi negara yang kemudian juga ditemukan tewas," ujar Komisioner Komnas HAM, Choirul Anam, dalam konferensi pers, Jumat (8/1/2021).

"Peristiwa tersebut merupakan bentuk dari peristiwa pelanggaran hak asasi manusia," kata Anam, dilansir Kompas.com.

Terkait hal ini, Taufan Damanik menyebutkan tidak ada indikasi pelanggaran HAM berat.

Hal ini ia sampaikan saat bertemu Presiden Joko Widodo (Jokowi) ketika memberikan berkas berisi kesimpulan investigasi pada Kamis (14/1/2021) lalu.

"Kami menyampaikan sebagaimana sinyalemen di luar banyak beredar bahwa ini dikatakan atau diasumsikan sebagai pelanggaran HAM berat, kami tidak menemukan indikasi ke arah itu," jelasnya, dikutip dari Kompas.com.

Halaman
1234
Editor: Ravianto
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved