Pesawat Sriwijaya Air Hilang

Penyelam Pencari Puing Sriwijaya Air SJ-182 Terombang-ambing di Tengah Laut, Tinggi Gelombang 2 M

CUACA buruk memang menjadi hambatan utama upaya pencarian para korban jatuhnya Sriwijaya Air SJ-182.

Editor: Ravianto
Tribunnews/Jeprima (Tribunnews/Jeprima)
Foto udara dari pesawat CN 295 milik TNI AU saat melakukan proses pencarian pesawat Sriwijaya Air SJ 182 yang jatuh di sekitar perairan Kepulauan Seribu, Jakarta Utara, Minggu (10/1/2021). Dari udara terlihat tim SAR gabungan mencari serpihan dan korban pesawat Sriwijaya Air SJ 182 serta terlihat tumpahan minyak yang diduga bahan bakar Sriwijaya Air SJ 182. 

TRIBUNJABAR.ID, JAKARTA - ANGIN berembus sangat kencang hampir sepanjang hari di perairan Kepulauan Seribu, Rabu (13/1). Duduk di secoci, para penyelam hanya bisa menunggu.

Terombang-ambing di tengah lautan.

CUACA buruk memang menjadi hambatan utama upaya pencarian para korban jatuhnya Sriwijaya Air SJ-182.

Tim SAR Gabungan dari Detasemen Jalamangkara (Denjaka) TNI AL menemukan serpihan pesawat Sriwijaya Air di antara pulau Laki dan Pulau Lacang Perairan Kepulauan Seribu, Jakarta, Minggu (10/01/2021) pagi.
Tim SAR Gabungan dari Detasemen Jalamangkara (Denjaka) TNI AL menemukan serpihan pesawat Sriwijaya Air di antara pulau Laki dan Pulau Lacang Perairan Kepulauan Seribu, Jakarta, Minggu (10/01/2021) pagi. ((Dok. Denjaka TNI AL))

Akibat cuaca buruk kemarin, nyaris tak ada yang bisa dilakukan.

"Kita juiga harus mempertimbangkan faktor keamanan para penyelam," ujar Deputi Bidang Operasi Pencarian dan Kesiapsiagaan Basarnas Mayjen TNI Bambang Suryo Aji, kemarin.

Para penyelam, ujar Bambang Suryo Aji, sudah bersiap di secocinya masing-masing di tengah laut.

"Mereka menunggu cuaca kondusif. Sehingga ketika cuaca sudah kembali kondusif, mereka dapat langsung bergerak melakukan penyelaman dan tidak membuang-buang waktu," ujarnya.

Dadan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mencatat kecepatan angin di sekitar lokasi pencarian sudah mencapai 10-15 knot.

Tinggi gelombang mencapai dua meter.

Kondisi yang berpotensi membahayakan para penyelam jika penyelaman tetap dilakukan.

Koordinator Lapangan BMKG di Posko Utama JICT II Sugarin memprediksi angin kencang dan gelombang tinggi yang terjadi sejak Rabu dini hari ini akan terjadi sampai dengan malam hari berikutnya.

“Ini akan mengganggu kegiatan operasi SAR di lokasi kecelakaan pesawat,” katanya.

Kemarin, kapal Basarnas, KN SAR Karna-246, juga terpaksa menunda keberangkatan untuk operasi Sriwijaya Air SJ-182 di perairan Kepulauan Seribu setelah terkendala ombak besar.

Deputi Bina Tenaga dan Potensi SAR Basarnas, Abdul Haris Achadi mengatakan awalnya KN SAR Karna-246 dijadwalkan berangkat dari Dermaga JICT II, Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara.

Halaman
12
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved