Harga Kedelai Melonjak, Ukuran Tahu Sumedang Bakal Lebih Kecil Dibanding Sebelumnya

Sejumlah pengusaha tahu di daerah Kabupaten Sumedang saat ini tengah berupaya untuk mempertahankan produksinya s

Penulis: Hilman Kamaludin | Editor: Ichsan
tribunjabar/hilman kamaludin
Harga Kedelai Melonjak, Ukuran Tahu Sumedang Bakal Lebih Kecil Dibanding Sebelumnya 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Hilman Kamaludin

TRIBUNJABAR.ID, SUMEDANG - Sejumlah pengusaha tahu di daerah Kabupaten Sumedang saat ini tengah berupaya untuk mempertahankan produksinya setelah harga kedelai mengalami kenaikan yang cukup signifikan.

Agar usahanya tetap bertahan, pemilik pabrik tahu ini sudah menyiapkan dua opsi untuk mempertahankan produksi supaya tidak sampai rugi dan usahanya tetap berjalan agar makanan khas Sumedang ini tetap ada dan tidak sampai langka.

Pemilik Pabrik Tahu Sari Asih asal Kecamatan Pamulihan, Deni Mulyawan (45), mengatakan, dampak dari kenaikan harga kedelai itu, membuat produksi tahu menurun, sehingga untuk menyiasati supaya tidak rugi, pengusaha harus menyiapkan strategi yang tepat.

"Solusinya kemungkinan ukuran diperkecil harga tetap dan solusi kedua, ukuran tetap tapi harga naik. Nanti, akan diputuskan setelah ada permintaan dari pedagang," ujar Deni saat ditemui Tribun Jabar di pabriknya, Minggu (3/1/2021).

Dua pilihan tersebut, kata Deni, akan diputuskan dalam kurun waktu dua hari kedepan setelah pihaknya mendapat laporan dari para pedagang tahu terkait kondisi penjualan di setiap pasar.

Baca juga: Sebulan Gratis, Warga Berdesakan Masuk ke Air Terjun Buatan Bojongsari Indramayu, jadi Kerumunan

"Kemungkinan kalau harga naik bakal dikisaran 8-10 persen dari harga awal Rp 32 ribu per papan. Kalau ukurannya tergantung para pedagang yang akan menjual," katanya.

Ia mengatakan, dua opsi itu salah satunya bakal diambil karena dampak dari kenaikan kedelai itu, omzet penjualan tahu ke pedagang pasar sudah mengalami penurunan sebesar 40 persen sejak satu bulan yang lalu.

Hingga saat ini, kata dia, harga kedelai itu sudah tembus Rp 9.400 per kilogram, padahal harga awalnya hanya Rp 7.400 per kilogram, sehingga pihaknya harus mengeluarkan modal yang lebih besar.

"Tapi sampai saat ini permintaan pasar naik, cuma pabrik tidak bisa memenuhi kebutuhan mereka karena produksinya sudah menurun. Kalau kita tetap memenuhi kebutuhan pedagang, harus mengeluarkan modal yang lebih besar," ucap Deni.

Hal senada dikatakan pemilik pabrik tahu Sari Hantap Apep Saeful Rohman (60). Dia juga kemungkinan bakal memperkecil ukuran tahu dengan harga tetap atau ukuran tetap, tetapi harga dinaikan supaya usahanya tidak sampai gulung tikar.

Baca juga: Pandemi Covid-19, Wisatawan ke Pangandaran Menurun, Penyedia Kamar Kecil Pun Kena Dampaknya

"Nanti kita lihat saja pilihan konsumen dari dua pilihan itu. Terakhir, saya menjual ke pedagang Rp 30 ribu per ancak sebelum kedelai naik, sekarang harganya jadi Rp 34 ribu per ancak," kata Apep.

Ia mengaku, saat harga kedelai naik, pendapatannya menurun hingga 50 persen. Kendati demikian, pabriknya tetap melakukan produksi karena permintaan pasar tetap tinggi dan ia juga harus menggaji 6 orang karyawannya.

"Kalau harga per bijinya, kemarin itu mulai dari Rp 200-Rp 400 tergantung ukurannya," ucapnya.

Kedua pedagang ini berharap agar harga kedelai kembali normal, supaya produksi tahu di Sumedang tetap berjaya. Namun, jika harganya tetap naik, mereka berharap Pemkab Sumedang harus segera memberikan solusi yang terbaik.

Sumber: Tribun Jabar
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved