Breaking News:

Virus Corona

Vaksin Bukan Obat, Tetap Terapkan Protokol Kesehatan Cegah Covid-19

Tetap mengenakan masker terutama saat keluar rumah, rajin mencuci tangan pakai sabun, dan menjaga jarak serta menghindari kerumunan.

Tribun Jabar/Nazmi Abdurrahman
Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bandung menggelar simulasi pertama penyuntikan vaksin Covid-19 di halaman Puskesmas Balai Kota, Rabu (23/12/2020). 

JAKARTA, TRIBUN - Sebanyak 1,8 vaksin Covid-19 kembali tiba di Tanah Air, Kamis (31/12/2020). Tambahan vaksin ini membuat jumlah vaksin Covid-19 yang sudah ada di Indonesia menjadi 3 juta vaksin. Vaksin sebelumnya tiba di Tanah Air pada 6 Desember lalu.

Vaksin dibawa dari Cina menggunakan pesawat Garuda Indonesia. Vaksin tiba di Bandara Soekarno-Hatta sekitar pukul 12.00 WIB.

Kehadiran vaksin Covid-19 sangat dinanti karena dianggap dapat segera menangani pandemi yang sudah berlangsung sekitar 10 bulan ini.

Namun Tim Komunikasi Komite Penanganan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional meningatkan bahwa vaksin Covid-19 bukanlah obat. Vaksin Covid-19, seperti dikutip dari situs Satgas Penanganan Covid-19, vaksin Covid merupakan bentuk pencegahan yang berfungsi mendorong pembentukan kekebalan tubuh spesifik pada penyakit covidy agar terhindar dari tertular atau kemungkinan sakit berat.

Oleh karena itu, sekalipun vaksin sudah ada, protokol kesehatan tetap harus dijalankan. Tetap mengenakan masker terutama saat keluar rumah, rajin mencuci tangan pakai sabun, dan menjaga jarak serta menghindari kerumunan. Sebab, vaksin baru efektif dalam menangani pandemi saat sebagian besar orang sudah mendapatkan vaksin.

Menurut Emanuel Goldman, profesor mikrobiologi di Rutgers University, seperti dikutip Kompas.com, mengatakan jika banyak orang diberi vaksin dan vaksin tersebut mampu menangkal virus, pengendalian pandemi dengan cara herd immunity atau kekebalan kelompok, besar kemungkinan tidak akan terjadi hingga tahun depan.

"Bila sebagian penduduk divaksinasi, dan beban kasus turun ke tingkat yang sangat rendah, baru kita akan dapat bernapas lega tanpa masker," ujarnya.

Namun, virus, ujarnya, mungkin memiliki cara lain dan membuat vaksin menjadi kurang efektif. Oleh karena itu, kata Goldman, para peneliti harus tetap waspada dalam melacak setiap perubahan pada virus karena semakin sedikit induk yang bisa menjadi tempat pelarian virus.

"Pesan besarnya adalah kita memiliki alat tambahan dalam bentuk vaksin untuk memerangi Covid-19, tetapi itu belum cukup," terang Dr Anthony Fauci, direktur National Institute of Allergy and Infectious Diseases. "Mudah-mudahan saat negara dan dunia mendapat vaksinasi besar-besaran, virus ini akan mundur tanpa tempat tujuan karena semua orang terlindungi."

Di Indonesia, vaksinasi rencananya baru akan dimulai pada tahun depan. Para tenaga kesehatan yang berada di garda depan penanganan Covid-19 mendapat kesempatan pertama pemberian vaksin. Baru setelah itu masyarakat luas.

Pelaksanaan vaksinasi bertahap Covid-19 akan dilakukan setelah mendapat persetujuan dari Badan POM, berdasarkan hasil uji klinik di luar negeri atau Indonesia.

Selama vaksin yang aman dan efektif belum ditemukan, upaya perlindungan yang bisa kita lakukan adalah disiplin 3M: memakai masker dengan benar, menjaga jarak dan jauhi kerumunan, serta mencuci tangan pakai air mengalir dan sabun. (*)

Penulis: Arief Permadi
Editor: Arief Permadi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved