Breaking News:

Peringatan Dini, Bila Rasakan Getaran Lebih Dari 15 Detik, Segera Jauhi Pantai, Ini Penjelasannya

Peringatan dini tsunami hanya alat bagi masyarakat yang tidak terjangkau oleh bunyi sirine peringatakan dini dan warning alam jadi alternatif utama

Penulis: M RIZAL JALALUDIN | Editor: Siti Fatimah
Image by Elias Sch. from Pixabay
Ilustrasi gelombang tsunami- Peringatan dini tsunami hanya alat bagi masyarakat yang tidak terjangkau oleh bunyi sirine peringatakan dini dan warning alam jadi alternatif utama 

TRIBUNJABAR.ID, SUKABUMI - Wilayah Pantai Selatan Jawa Barat, khususnya Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi memiliki risiko bencana tsunami yang tinggi karena wilayahnya yang berhadapan langsung dengan sumber gempa megathrust di Samudra Hindia, Selatan Jawa. 

BMKG mencatat, berdasarkan kajian potensinya, sumber gempa ini memiliki magnitudo tertarget 8,7 dan dapat memicu tsunami di Pantai Palabuhanratu dengan estimasi ketinggian di atas 3 meter.

Kepala Balai Wilayah II BMKG, Hendro Nugroho mengatakan, sebagai langkah antisipasi dan mitigsi bencana, BMKG selalu siap memberikan informasi gempa bumi dan peringatan dini tsunami yang cepat dan akurat. 

Baca juga: Siang Ini Pukul 13.00 WIB, Jenderal Anak Buah Kapolri Jenderal Idham Aziz Diperiksa Komnas HAM

Peringatan dini tsunami yang disebarluaskan oleh BMKG akan diterima oleh pemerintah daerah, para pemangku kepentingan dan masyarakat melalui beragam moda diseminasi seperti WRS, aplikasi android WRS mobile dan Info BMKG, SMS, Email, Fax, Website, dan Media Sosial.

"Dalam rangka upaya mitigasi bencana tsunami yang bertujuan memperkecil risiko bencana yang mungkin terjadi, maka perlu ada upaya konkrit dalam mengurangi kerentanan dan meningkatkan kapasitas masyarakat dalam menghadapi bencana tsunami," ujarnya di Palabuhanratu, Senin (14/12/2020).

Baca juga: Tiga Anggota FPI Tersangka Kasus Kerumunan Malah Minta Ditahan tapi Kata Polisi Tidak akan Ditahan

Untuk itu, kata dia, para pemangku kepentingan bidang kebencanaan perlu terus meningkatkan kemampuan, sarana dan prasarana dalam menghadapi tsunami

Beberapa upaya yang dapat dilakukan adalah dengan membangun kesiapsiagaan masyarakat dalam merespon peringatan dini tsunami dari BMKG, pemasangan sirene tsunami, penyiapan jalur dan rambu evakuasi, serta membangun tempat evakuasi sementara.

Baca juga: Bukan Narkoba Ini yang Ditemukan Saat Razia Kamar Narapidana di Lapas Warungkiara Sukabumi

Dalam upaya merelisasikan upaya tersebut di atas, maka BMKG menyelenggarakan Workshop "Penguatan Subsistem Pendukung Peringatan Dini Tsunami pada 14-16 Desember 2020 di Hotel Grand Inna Samudra Beach Pelabuhanratu.

Hendro menjelaskan, tujuan kegiatan workshop ini adalah agar masyarakat dapat meningkatkan kapasitasnya dalam  pemahaman tentang pentingnya respon peringatan dini tsunami dari BMKG.

Baca juga: Penjual Tempe Mendoan Ini Disebut Mirip Syahrini, Videonya Viral, Kini Ia Ingin Ketemu Syahrini Asli

"Memahami konsep evakuasi mandiri dan ikut berpartisipasi dalam proses pembangunan sistem mitigasi tsunami di daerahnya, dengan secara terlibat dalam penyusunan rencana evakuasi dan penyusunan prosedur tetap dalam merespon peringatan dini tsunami," katanya.

Kegiatan ini  juga sebagai penguatan sub sistem, kita memasang peringatan dini tsunami disini, jadi masyarakat harus mendukung, merawat, terus pemetaan jalur evakuasi.

"Di Desa Citepus ada tiga lokasi, terus dari BNPB ada 8 lokasi," katanya.

Baca juga: Ulang Tahun Pertama Sebagai Istri Sule, Nathalie Holscher Dapat Kejutan, Anak-anak Ikut Rayakan

Ia menambahkan, peringatan dini tsunami hanya sebagai alat, bagi masyarakat yang tidak terjangkau oleh bunyi sirine peringatakan dini, Hendro mengatakan, warning alam bisa menjadi alternatif utama sebagai peringatan dini.

"Jadi, peringatan dini itu hanya sebagai alat, kalau warning itu tidak sampai kepada masyarakat jadi manfaatkan warning alam
Jadi kita bergoyang merasakan getaran lebih dari 15 detik segera jauhi pantai. Edukasi ini harus terus menerus, peringatan dini tsunami ini hanya alat, jadi kalau dengar jauhi wilayah ini," pungkasnya.

Diketahui, workshop yang disertai penerapan protokol kesehatan terkait pandemi Covid-19 itu diikuti oleh Pemerintah Desa Citepus, Palabuhanratu, BPBD Kabupaten Sukabumi, BPBD Jawa Barat, pemangku kepentingan kebencanaan dan wakil kelompok masyarakat.

Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved