PLN Cikarang Jadi Magnet Bisnis Data Center di Asia Tenggara
Cikarang sedang menjadi primadona baru. Berbagai perusahaan data center antre untuk mendaftar menjadi pelanggan PLN, dan menjalankan bisnisnya di
TRIBUNJABAR.ID - Cikarang sedang menjadi primadona baru. Berbagai perusahaan data center antre untuk mendaftar menjadi pelanggan PLN, dan menjalankan bisnisnya di Indonesia.
Setidaknya sembilan perusahaan Data Center baik nasional maupun internasional yang telah dan akan mendaftar menjadi pelanggan PLN Cikarang. Tak tanggung-tanggung, mereka semua mendaftar untuk menjadi pelanggan Tegangan Tinggi, yang dilayani langsung dari transmisi 150 kilo Volt (kV). Daya yang dibutuhkan pun tergolong besar, ada yang bermohon di 30 Mega Volt Ampere (MVA), 64 MVA, 80 MVA, 105 MVA, hingga 150 MVA. Total kebutuhan daya listrik untuk sembilan perusahaan data center tersebut adalah 519 MVA.
Manajer PLN Unit Pelaksana Pelayanan Pelanggan (UP3) Cikarang, Ahmad Syauki menyatakan daerah Cikarang, khususnya kawasan Deltamas memang sangat tepat untuk dijadikan lokasi perusahaan yang membutuhkan listrik dengan kapasitas besar dan kehandalan yang prima. “Selain karena lokasinya yang strategis, di mana ada akses langsung dengan tol Jakarta – Cikampek, sistem kelistrikan di Cikarang juga sangat kuat. Kami didukung oleh dua Gardu Induk Tegangan Tinggi, enam buah Interbus Transformer yang masing-masing berkapasitas 500 MVA, dan tiga Subsistem, yaitu Subsistem Cibatu 1-2, Cibatu 3-4, dan Deltamas”, urai Ahmad Syauki. Ia juga menambahkan bahwa satu di antara perusahaan Data Center internasional tersebut telah selesai proses pemasangan dan penyalaan listriknya sejak Agustus dan September lalu. “Sekarang perusahaan tersebut sudah mulai beroperasi”, katanya.
Tidak hanya perusahaan data center, wilayah PLN Cikarang juga diminati oleh pabrik kendaraan, termasuk yang memproduksi kendaraan listrik. “Kami sangat bersemangat untuk ikut berkontribusi, dan bersama-sama dengan para pelanggan kami, menjadi bagian dari industri 5.0”, kata Ahmad Syauki. Dengan daya mampu subsistem yang memasok listrik ke Cikarang sebesar 1.560 MW, sedangkan beban puncak siang adalah 720 Mega Watt (MW) dan beban puncak malam adalah 706 MW, maka ketersediaan listrik di Cikarang masih berlimpah. "Jadi jangan ragu untuk berinvestasi di Cikarang, PLN siap dukung dengan sistem kelistrikan yang kuat", tegas Ahmad Syauki.
Sampai dengan Oktober 2020, jumlah pelanggan industri di PLN Cikarang adalah 930 dengan kapasitas daya terpasang 1.562,8 MVA. Angka ini tidak berbeda jauh dengan Oktober tahun 2019 di mana jumlah pelanggan industri saat itu adalah 916, dengan daya terpasang 1.541,9 MVA. Meski terdampak kondisi Covid19 di mana pendapatan PLN Cikarang dari sektor pelanggan industri menurun dari Rp 429,7 Milyar di Oktober tahun lalu menjadi Rp 393,9 Milyar di Oktober 2020, namun angka pendapatan dalam 3 bulan terakhir cukup menggembirakan. “Sejak Agustus 2020 pemakaian listrik pelanggan industri terus meningkat, mulai dari 339,9 Giga Watt hour (GWh) hingga kini mencapai 371,4 GWh. Sehingga pendapatan kami dari pelanggan industri pun naik dari Rp 356,6 Milyar di bulan Agustus, kini menjadi Rp 393,9 Milyar”, ujar Ahmad Syauki. Menurutnya angka ini menunjukkan bahwa aktivitas industri di daerah Cikarang kini sudah mulai bergeliat kembali.
Saat ini PLN Cikarang mengelola total 949.764 pelanggan dengan daya terpasang sebesar 1.562,8 MVA. Berdasarkan data proyeksi PLN, pelanggan PLN Cikarang akan bertambah menjadi 989.316 di tahun 2021, hingga mencapai 1.139.215 di tahun 2025. Adapun daya terpasangnya diprediksi sebesar 3.173,8 MVA di 2021, dan menyentuh angka 3.881 MVA di 2025.
Renewable Energy Certificate
Menurut General Manager PLN UID Jawa Barat, Agung Nugraha, berbagai upaya yang dilakukan PLN dalam memenuhi kebutuhan listrik pelanggan bisnis dan industri di Jawa Barat adalah wujud dukungan PLN untuk menjadikan provinsi Jawa Barat sebagai destinasi wisata dan investasi. Tujuannya adalah untuk menggerakkan kembali perekonomian Jawa Barat pada khususnya dan Indonesia pada umumnya. "Karena secara kelistrikan sendiri, PLN Jawa Barat menyumbang 20% dari pendapatan PLN secara nasional", ujar Agung.
Agung menambahkan, bahwa fokus PLN saat ini tidak hanya berhenti pada penyediaan listrik yang handal dan berkualitas. Selain menjaga dan meningkatkan kualitas kelistrikan kawasan-kawasan industri baik yang sudah mapan seperti wilayah Bekasi, Cikarang, dan Karawang, maupun pembangunan Gardu Induk dan Transmisi yang terus digenjot untuk menyuplai kawasan industri baru di sekitaran wilayah Pelabuhan Patimban, Bandara Kertajati, Indramayu, hingga Cirebon, PLN juga sangat concern untuk mengembangkan pembangkit listrik ramah lingkungan.
Sebagai bentuk dukungan terhadap penggunaan Green Energy, PLN terus berupaya mengembangkan pembangkit Energi Baru Terbarukan di Jawa Barat. Sampai dengan saat ini, jumlah pembangkit energi baru terbarukan di wilayah kerja PLN Jawa Barat memiliki Bauran Energi sebesar 47% dari total pembangkit beroperasi, yang terdiri dari PLTA, PLTSa, PLTS dan PLTP, dan masih terdapat potensi lain yaitu PLTSa Legok Nangka dengan kapasitas 19 MW dan PLTSa Cikelor dengan kapasitas 5 MW. Selain itu, ada juga potensi PLTB di Ciemas Pelabuhan Ratu Sukabumi dengan kapasitas 150 MW.
Bahkan saat ini, bagi pelanggan yang menginginkan pengakuan atas penggunaan listrik dari sumber energi terbarukan, PLN telah menghadirkan Layanan Sertifikat Energi Terbarukan atau Renewable Energy Certificate (REC). REC merupakan instrumen yang merepresentasikan atribut terbarukan dari setiap MWH listrik yang diproduksi oleh pembangkit energi terbarukan. Satu unit REC merepresentasikan satu MWh. Beberapa pelanggan industri di PLN Jawa Barat telah menyatakan ketertarikannya untuk membeli REC yang berstandar internasional dari PLN ini.
PLN berharap adanya REC dapat mendorong pertumbuhan pembangkit EBT untuk memenuhi target bauran nasional sebesar 23 persen pada tahun 2025, serta sebagai tanggung jawab PLN untuk menyediakan listrik yang ramah lingkungan. Hal ini sejalan dengan program pemerintah Jawa Barat yang sedang berupaya mengajak masyarakat untuk mengubah gaya hidup. Karena gaya hidup yang ramah lingkungan akan mencegah kebencanaan dan menyelamatkan bumi, bagi generasi saat ini dan generasi mendatang.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/pln-cikarang.jpg)