Breaking News:

Cerpen

Mulut Mulut Mangap-Mangap

Mulut-mulut tertempel di dindingmu. Berbagai ukuran, berbagai bentuk, berbagai corak. Ada yang cokelat, ada yang hitam, ada yang bergincu

Penulis: Hermawan Aksan
Editor: Hermawan Aksan
Ilustrasi cerpen Kumis Raisa 

Lalu temanmu pulang, kamu memikirkan sarannya dengan gamang. Benar saja, besok harinya sebuah mulut baru datang, diantar kurir dengan paket tercepat. Kau membuka bungkusannya dengan hati-hati, dan tampaklah sebuah mulut yang mangap-mangap seperti biasa.

Kau memandang mulut itu, menghitung berapa kali mulut itu terbuka. Lalu berpikir apakah suara yang dikeluarkannya? Lalu muncul rasa penasaran yang luar biasa, hingga sedetik kemudian, kau merasa bahwa pendapat temanmu benar. Maka kau membuka laci meja, mengambil sepasang telinga yang sudah lama kausimpan di sana. Kau memasangnya dengan hati-hati. Sempat agak susah karena kau sudah lama tak memasang telinga.

Tapi akhirnya bisa. Kau pun mendengar suara keluar dari mulut yang baru datang itu. Kau tersenyum. Ternyata mulut yang ini sedang bernyanyi. Sebuah lagu yang sangat kauhafal ketika muda.

Kau pun bergegas ke kamarmu, mengambil gitar, menyetemnya, dan mulai memetik satu per satu senarnya mengikuti nyanyian mulut itu: Surti berlari kayak kesurupan / dan si Tejo ngelamun / menahan konaknya.

Demikian. Pada sore yang temaram itu, dari rumahmu terdengar suara nyanyian yang ditingkahi suara gitar. Sementara tanpa kau tahu, jutaan mulut terus menuju rumahmu, mengantre di pintu masuk dan jalan-jalan. Semua menunggu untuk kaudengarkan. Atau kaujahit selama-lamanya.

***

Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved