Kuliner Bandung

Cara Pembuatan Opak Ketan Kuliner Tradisional Khas Desa Linggar yang Enak dan Berkualitas

Camilan berbentuk lingkaran bertekstur renyah itu umumnya memiliki dua jenis varian saja, yakni opak manis dan opak asin.

Penulis: Fasko dehotman | Editor: Seli Andina Miranti
Tribun Jabar/Fasko Dehotman
Sajian Opak Linggar berbahan ketan yang diolah dengan cara dibakar. 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Fasko Dehotman

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Desa Linggar, Kecamatan Rancaekek, Kabupaten Bandung, dikenal sebagai sentra produksi camilan tradisional opak.

Opak di daerah sana menggunakan bahan dasar ketan dan santan, yang kemudian diolah dengan cara dibakar.

Camilan berbentuk lingkaran bertekstur renyah itu umumnya memiliki dua jenis varian saja, yakni opak manis dan opak asin.

Baca juga: Dulu dianggap Musuh Koperasi, Menkop Minta LPDB Dukung Koperasi Berkembang dengan Logo Baru

Seiring perkembangan zaman, opak khas Desa Linggar ada yang diolah menggunakan bahan barbeque dan jetruk kelapa.

Pemilik Kedai Berkah Hasanah, Nur Hasanah menuturkan, Opak Linggar terbuat dari beras ketan yang ditanak, kemudian ditumbuk hingga halus, lalu diberi santan kelapa.

"Perbandingan antara beras dan air santan adalah satu banding satu yang artinya untuk satu liter beras ketan membutuhkan satu buah kelapa," ujar Nur kepada Tribun Jabar, ditemui di kedai miliknya, Jalan Rancaekek, Sukadana, Kabupaten Bandung, beberapa waktu lalu.

Nur Menambahkan, untuk membuat Opak Linggar yang berkualitas, harus melalui beberapa tahapan.

Pertama, beras ketan dipilih agar tidak bercampur dengan beras lainnya.

Kedua, beras ketan dicuci dan dibuat nasi lalu ditumbuk.

Baca juga: Postingan Rizki DA dan Nadya Mustika Bikin Adem, Tanda Akur Setelah Sempat Dikabarkan Retak?

Ketiga, setelah halus masukkan air santan yang telah mengental.

Keempat, lalu haluskan kembali hingga rata dan baru dicetak kemudian dijemur.

Menurut Nur, proses penjemuran Opak Linggar ini sebaiknya dilakukan jangan sampai terlalu kering.

"Kerena jika terlalu kering akan membuat Opak menjadi jelek ketika dibakar. Bahkan bentuknya akan menjadi kurang rata dan retak-retak,"

Agar hasil opak bagus, opak yang masih agak basah dibakar dengan api yang tidak terlalu panas, namun juga tidak terlalu dingin.

"Kalau panasnya kurang maka opak kurang mengembang dan warnanya tidak menguning," jelas Nur.

Baca juga: Band Mocca Rilis Album Ke-6, Day by Day, Jadi Persembahan Manis di Tengah Badai Pandemi

Sumber: Tribun Jabar
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved