Agro Jabar, Menuju Jabar Lumbung Pangan Nasional
Jawa Barat merupakan provinsi yang memiliki banyak objek unggulan di bidang perkebunan, selain itu dikenal sebagai kawasan subur dengan kekayaan yang
TRIBUNJABAR.ID - Jawa Barat merupakan provinsi yang memiliki banyak objek unggulan di bidang perkebunan, selain itu dikenal sebagai kawasan subur dengan kekayaan yang melimpah dan keindahan alamnya. Pengakuan pulau Jawa, terutama Jawa Barat sebagai daerah yang memiliki kekayaan alam terbesar dan terindah di dunia, diantaranya muncul dari pihak Inggris pada zaman kolonial Belanda.
Pulau Jawa terkaya di Dunia, terutama Jawa Barat merupakan sebuah “taman yang sangat besar“ karena lahan yang subur, panorama sangat indah, dengan suasana nikmat. Sumber Daya Alam (SDA) yang melimpah, dikelilingi pegunungan, hamparan, pemandangan sawah yang menakjubkan, beragam buah-buahan dan aneka pangan lainnya. Perkebunan di Jawa Barat mengalami perkembangan yang sangat pesat, secara umum masih potensial ke depan sebagai andalan perekonomian Nasional.
Salah satu perusahaan yang begitu peduli terhadap perkembangan perkebunan di Jawa Barat adalah PT. Agro Jabar sebagai Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Provinsi Jawa Barat yang bergerak di bidang Pertanian, Perkebunan, Perikanan, Kehutanan, dan Usaha Lainnya di Bidang Agro.
“Agro Jabar sangat optimis, dapat mewujudkan Jabar sebagai lumbung pangan nasional. Karena, Jawa Barat mempunyai potensi sumber daya alam (SDA) yang berlimpah, serta SDM yang unggul disertai perguruan tinggi terbaik di Indonesia,” tutur Direktur Operasional PT. Agro Jabar Djamal Alfan pada acara media gathering yang dipandu moderator Fauzan Azima di Tebu Hotel Jl. L.L.R.E. Martadinata Kota Bandung, Kamis (5/11/20).
Acara yang mengambil tema ”Bangkit Optimisme Menuju Jabar Lumbung Pangan Indonesia” di hadiri Corporate Secretary (Corsec) Agro Jabar Nenny R Nawawi, Natasha dan Anita. Marketing Communication (Marcomm) M. Teja Iqbal dan Asep Syaiful Ahmad serta Tim Media.
Dikatakan Djamal, program yang dilaksanakan oleh Agro Jabar sejalan dengan program dari Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil, bahwa Pemerintah Provinsi Jawa Barat siap wujudkan kemandirian pangan. “Untuk mewujudkan hal tersebut, kami lakukan melalui strategi perlindungan lahan pertanian yang berkelanjutan dan peningkatan kesadaran semua pihak. Untuk terus konsisten mempertahankan predikat lumbung pangan nasional. Dalam pelaksananya tentunya berkolaborasi dengan semua stake holder. Sehingga perlu keseriusan, kekompakan, serta komitmen para pemangku kepentingan sektor pertanian dan perkebunan. Apalagi eksistenya sangat berkaitan dengan perputaran perekonomian, mulai perdesaan, perkotaan dan dunia,” ungkap Djamal.
Menurutnya, pencapaian kemandirian pangan dilaksanakan secara bertahap, terutama untuk komoditas strategis dengan memperhatikan potensi, dalam rangka upaya membangun kemandirian pangan, juga dilakukan melalui pengendalian tata niaga produk pertanian mulai dari produksi pertanian, distribusi sampai kepastian pasarnya melalui penyediaan benih unggul .
“Kami memiliki tanggung jawab untuk mensejahterakan masyarakat lokal, bukan bersaing dengan masyarakat. Kami hadir bersanding dan mendorong masyarakat untuk memperbesar usaha rakyat, dengan pola kemitraan yang saling menguntung dan saling percaya.
Dari sekian banyak potensi bisnis unggulan, baru ada 4 (empat) jenis tanaman yang paling di minati dunia industri, antara lain lemon, jahe, stevia dan kopi. Komoditi unggulan inilah yang kita sinergikan dengan para petani, agar dapat tetap memenuhi kebutuhan industri dalam negeri. Namun sejujurnya saya sampaikan, baik dari kualitas maupun kuantitas belum dapat memenuhi kebutuhan pasar karena berbagai hal,” ungkapnya.
Djamal mengatakan, untuk dapat memenuhi kebutuhan pasar industri, yang paling utama adalah pihaknya melakukan pembinaan terhadap para petani. Karena, animo masyarakat pedesaan sangat kurang untuk menjadi petani. Bahkan bisa jadi, 10 tahun yang akan datang kita bisa kehilangan petani. “Hal ini, karena mereka tidak memiliki kepastian pendapatan. Sehingga menjadi petani bukanlah suatu kebanggaan. Namun sekarang alhamdulillah, bahkan menjadi produk unggulan. Lemon di daerah Cikajang, Kab. Garut, sudah menjadi pilihan petani. Ada 1.300 hektare dengan hasil panen mencapai 28.600 ton/tahun,” sambungnya.
Ia menambahkan, peranan Agro Jabar sebagai salah satu BUMD Jabar adalah, selain membangun kepercayaan dengan para pelaku pasar pada dunia industri sekaligus dapat meningkatkan kesejahteraan para petani. “Kami hanya perlu memberikan pembuktian kepada mereka melalui pembinaan yang intensif. Mereka Kami berikan bibit, pupuk, obat-obatan dan membeli kembali hasil panennya dengan harga yang memadai,” tuturnya.
“Untuk dapat terus memenuhi kebutuhan pasar, Agro Jabar telah membentuk asosiasi petani sebanyak 4.000. Meskipun secara real baru aktif sekitar 500 – 1.000, tapi sudah terlihat bagus. Mereka sudah tertarik menjadi petani plasma karena ada kepastian penghasilan. Alhamdulillah dari program kemitraan dengan para petani disini mereka dapat hidup lebih baik. Peran serta aktif dari masyarakat sangat luar biasa dalam melaksanakan kerja sama dengan PT Agro Jabar. Siapa pun boleh jadi mitra dan kami hanya menawarkan komoditi yang sudah jelas pasarnya” pungkas Djamal.*
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/direktur-operasional-pt-agro-jabar-djamal-alfan.jpg)