Breaking News:

Cerpen

Ia Ingin Membunuh Bayangannya

SUDAH ia putuskan rancung mata parangnya sebagai jalan penyelesaian. Tidak ada lagi yang bisa mencegahnya.

Ilustrasi Cerpen Ke Mana Domba Pergi 

Oleh Pangerang P. Muda

SUDAH ia putuskan rancung mata parangnya sebagai jalan penyelesaian. Tidak ada lagi yang bisa mencegahnya. Setelah seharian mengasah sampai tangannya kebas, dicobanya ketajaman mata parang itu pada pelepah daun nyiur yang tersandar di pohon kelapa. Sekali tebas, pelepah itu terpotong dua.

Menghindar dari tempat bernaung menuju area terbuka, kepada hitam tanah yang membentuk bayangannya ia berujar, "Setelah mengikutiku hampir empat puluh tahun, kali ini, akan kuperlihatkan kepada kamu hukuman yang pantas bagi orang yang lancung. Lihat parang ini, seharian mengasahnya kupikir hasilnya akan setimpal." Lalu ia berbalik, berjalan keluar dari kawasan kebun kelapa.

Langkah mendugas membuat bayangannya terpontang-panting mengikuti. Seturut lingsir matahari ke barat, bayangannya memanjang dan seakan merayap di atas alang-alang, sesekali pula terantuk batang-batang pohon. Sedikit serong ke arah belakang bahu kirinya, ia jeling bayangannya itu. Mengimbangi murka yang melanyak dadanya, ia hendak tersenyum, tapi malah ringis yang melekukkan bibirnya. Sempat muncul keinginan melepas saja bayangannya, tidak lagi terus menempel di kedua kakinya agar ia bisa terbebas dari bisikan-bisikan bayangan itu.

Kelebat ingatannya pada suatu sengat siang membuatnya berpikir muasal masalah memang datang dari bayangannya. Ketika itu ia sedang menyandarkan punggung pada tiang gulang-gulang, mengaso serampung menyantap jatah makan siang. Setelah pupus tiga perempat batang rokok yang ia isap, embus angin yang mengelus-elus membuat pelupuk matanya terkatup; namun antara terlelap dan tidak ia malah merasa melihat bayangannya melata keluar dari bawah rumah kebun. Bayangannya itu kemudian merangkak, merapat ke telinganya lalu berkusu-kusu tentang sebuah rahasia. Di hari-hari lain, biasanya saat sedang berkeliling menyiangi area kebun kelapa yang ia jaga, bayangannya yang terus memepet terus pula merepet tentang hal serupa.

Keluar dari kawasan kebun, langkah sedikit ia perlekas. Murka di dadanya kian berdetak-detak. Hampar lapang tanah menuju perkampungan membuatnya bisa bergerak semakin cepat, tapi tanah belecak yang disisa injakan kaki-kaki sapi seusai tiris hujan subuh tadi membuatnya tersungkur. Bayangannya ikut terjatuh, merapat ke tanah, dan tidak mengaduh sakit seperti dirinya.

Memelas menatap bayangannya, ia merasa sedang menatap nasibnya, membuatnya makin mengasihani dirinya. Meski awalnya tidak percaya pada bisik bayangannya dengan menyamakan sebagai embus angin yang sedang bersuling belaka, tapi karena bisikan itu terus diulang-ulang, pada akhirnya membuat ia mengantepi. Sempat menyabar-nyabarkan diri, namun kemarahan akibat cemburu rupanya bisa serupa murup api—serasa mulai membakar dadanya, sampai kemudian ia mengambil parangnya lalu mengasah setajam-tajamnya. Parang bersarung itu sekarang sedang terayun-ayun pada ikatan di pinggangnya, mengiringi gegas langkahnya menuju perkampungan.

"Kamu bilang kamu yang tahu kelakuannya. Nah, jadi lihat sendiri nanti akibat yang pantas bagi si bejat lancung seperti Pak Abuhul itu," sergahnya, tanpa menoleh ke arah bayangannya yang ia ajak bicara.

Sebelum sampai di pinggir kampung, rumahnya sudah terlihat. Bila orang ingin meninggalkan perkampungan menuju kawasan perkebunan kelapa, sisa dua rumah setelah rumahnya yang terakhir dilewati. Berhenti untuk mengatur napas, tidak juga menoleh ia mencomel, "Apa pula yang membuat Ijah bisa tergoda? Atau seperti katamu, karena aku mandul, dan sembilan tahun menikah tidak juga bisa membuahi rahimnya? Atau seperti yang aku duga: Ijah tak kuat godaan melihat Pak Abuhul selalu ringan hati menjinjing oleh-oleh ke rumah? Tak sungkan pula memberinya lembaran uang, yang katanya sebagai bonus atas kerajinanku mengurusi kebun kelapanya yang berhektar-hektar itu meski aku sudah digajinya? Dasar Abuhul bangsat mata keranjang! Itu hanya dalih, karena ada maunya...." Ia menoleh dan melihat bayangannya berkeping-keping, ternaungi gerak daun-daun pohon sukun.

"Di saat aku sedang sibuk merawat dan menjagai kebunnya, dia malah sibuk pula merayu dan menjagai istriku. Jahanam! Keduanya keparat! Ijah juga keparat, mau saja meladeni...." Saat itulah ia melihat Abuhul, majikannya itu, menuruni tangga rumah panggungnya.

Halaman
123
Editor: Hermawan Aksan
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved