Berkah Tersembunyi di Tengah Pandemi
Bisnis Akuarium Mini, Omzetnya Bisa Jutaan Rupiah Sehari
Bisnis akuarium mini menjadi berkah tersendiri di tengah pandemi Covid-19. Seiring booming-nya ikan cupang, akuarium mininya laris manis
Penulis: Arief Permadi | Editor: Arief Permadi
Laporan Arief Permadi, Jurnalis Tribun Jabar
BISNIS akuarium mini menjadi berkah tersendiri bagi Sukiyadi (46) di tengah pandemi Covid-19. Seiring booming-nya ikan cupang, akuarium mininya laris manis. Sesuatu yang sama sekali tak pernah ia sangka-sangka sebelumnya.
Ditemui di workshop Budaya Glass miliknya di Jalan Mitra Sejati Raya 9, Desa Cinunuk, Kecamatan Cileunyi, Kabupaten Bandung, Jumat (30/10), Sukiyadi baru saja selesai menata akuarium-akuarium kecil yang ia buat. Ukurannya beragam. Beberapa berukuran 10x10x15 sentimeter, sebagian lagi sedikit lebih besar, 15x15x20 sentimeter. Namun, ada juga yang berukuran lebih besar, 50x60x100 sentimeter.
"Yang lebih besar itu seringnya sesuai pesanan saja. Tergantung pelanggan mau ukuran berapa," ujarnya, sambil melirik akuarium ukuran besar yang masih kosong, yang sebelumnya ia letakkan di meja.
Bisnis akuarium ini, ungkap Sukiyadi, sebenarnya bukan bisnis utamanya. Pekerjaan utamanya adalah mengerjakan berbagai keperluan perumahan seperti kusen alumunium, kaca, baja ringan, kanopi, mebeler, pagar, dan lain-lain. Namun, karena pandemi, bisnis ini tersendat. Saat itu banyak proyek pembangunan terhenti. Akibatnya, pemesanan kusen alumunium, kitchen set, kaca, baja ringan, dan mebeler yang biasanya ramai, mendadak sepi bahkan nyaris tak ada sama sekali.
Saat itulah, ungkap Sukiyadi, akuarium mini menjadi penyelamat. Ia masih ingat betul, saat itu menjelang akhir bulan April. "Kebetulan, bisnis ikan cupang juga lagi booming. Para penggemar ikan cupang banyak mencari akuarium-akuarium berukuran kecil karena ikan cupang tak bisa disatukan dengan ikan cupang lainnya," ujarnya.
Memanfaatkan bahan-bahan kaca yang sudah telanjur dibeli namun belum sempat dipakai karena proyeknya terhenti, Sukiyadi pun mulai membuat akuarium-akuarium kecil ini. Ia membuatnya beberapa saja karena masih coba-coba. Namun, tidak disangka, peminatnya ternyata sangat banyak. "Orang-orang setiap hari datang dan membeli," ujarnya.
Satu akuarium mini, kata Sukiyadi, ia jual dengan harga Rp 15 ribu hingga Rp 20 ribu. "Sehari rata-rata laku 20-an. Omzetnya, ya tinggal dikalikan saja," ujar Sukiyadi sambil tersenyum lebar.
Setiap hari Minggu, Sukiyadi juga membawa puluhan akuarium mininya ke pasar kaget di kompleks tetangga, sekitar 500 meter dari rumahnya. "Di pasar mingguan itu lakunya lebih banyak lagi. Sekali dagang, saya bisa bawa pulang antara Rp 1 juta hingga Rp 1,2 jutaan. Cukup untuk biaya hidup sehari-hari dan sekolah anak-anak," ujarnya.
Anak sulung Sukiyadi, Sukmayanti Nurwahidah (19), sudah kuliah di salah satu perguruan tinggi swasta di Kota Bandung. "Anak yang bungsu, Rahman Nugroho, baru 15 tahun. Sekarang sudah kelas tiga SMP. Sepasang, satu perempuan, satu laki-laki," ujar pria asal Yogyakarta, yang sejak 15 tahun lalu menetap di Bandung itu. "Kalau istri saya, Ernayati, kelahiran Sulawesi. Di Bandung sama sama merantau," ujarnya.
Seperti Hobi
Meski baru beberapa bulan menekuni bisnis akuarium mini, Sukiyadi mengaku, bukan hal sulit baginya untuk membuat akuarium kaca yang bagus dan presisi. Material kaca, baginya juga bukan sesuatu yang asing.
"Sebab, saya 'main kaca' itu sebenarnya sudah lama banget, sejak masih sekolah. Kebetulan, waktu di Yogyakarta, saya sekolahnya di Sekolah Menengah Industri, ambil jurusan Kriya Kaca. Jadi ini rasanya seperti hobi, tapi menghasilkan uang," ujarnya.
Baca juga: Nih Enam Tips Membersihkan Akuarium, Biar Kinclong dan Ikannya Tetap Sehat
Sejauh ini, kata Sukiyadi, kebanyakan pembeli akuarium mininya berasal dari Kompleks Griya mitra, tempatnya tinggal, dan dari kompleks-kompleks yang ada di sekitarnya. Namun, itu pun sudah banyak. "Mungkin karena yang buat akuarium mini itu sedikit, sementara yang bisnis dan suka ikan cupang itu banyak banget. Jadinya keperluan akuariumnya juga banyak," ujarnya.
Namun, selain membuatnya gembira, banyaknya pelanggan yang datang ke workshop-nya untuk membeli akuarium, diakui Sukiyadi, kadang juga membuatnya khawatir karena bagaimana pun pandemi Covid-19 ini belum berakhir. Terlebih, selain terdiri dari beragam usia, dari anak-anak hingga dewasa, pelanggannya juga terkadang lupa tak mengenakan masker, atau memakai masker tapi melorot sehingga lubang hidungnya tak tertutup.
"Kalau sudah begitu, selain menjaga jarak, saya biasanya suka mengingatkan dengan halus. Kadang sambil bercanda juga," ujarnya.
Meski pandemi Covid-19 ini membuat bisnis akuarium mininya laku keras, Sukiyadi berharap, pandemi segera berlalu.
"Saya ingin semuanya bisa kembali normal karena bagaimana pun pandemi ini merepotkan kita semua. Kita tak tahu kapan virus itu menghampiri. Kita berhadapan dengan sesuatu yang enggak kelihatan," ujarnya.
Menjaga Kewarasan
Adiardi (48), warga Cileunyi, yang sudah beberapa kali membeli akuarium mini di tempat Sukiyadi, mengaku senang membeli akuarium untuk cupangnya di sana. Bukan saja karena harganya yang relatif murah.
"Tapi, di sini juga ada garansi. Kalau bocor tingga dikembalikan. Langsung ditukar dengan yang baru," ujar Ardiadi.
Ia mengaku memelihara cupang adalah hobi yang baru sebulanan ini ia geluti. "Gara-garanya, sebenarnya anak saya. Saya akhirnya terbawa-bawa," ujarnya.
Agus Hadian (43), breeder ikan cupang, yang sudah dua tahunan ini mengembangbiakkan ikan cupang di kediamannya di Jalan Laswi, Kota Bandung, mengatakan perkembangan bisnis ikan cupang hari-hari ini memang sudah hampir tak masuk akal. Penggemarnya datang dari hampir semua kalangan.
"Bahkan orang yang tidak suka ikan pun mendadak jadi suka memelihara ikan cupang," ujarnya.
Masa pandemi, di mana orang-orang terpaksa harus lebih banyak berada di rumah, menurut Agus, memang menjadi penyebab pehobi ikan cupang tumbuh begitu pesatnya. Terlebih, dibanding jenis ikan hias lainnya, perawatan ikan cupang tidak ribet dan tak memerlukan lahan yang luas.
"Namun, pandemi, saya kira menjadi penyebab utamanya. Pandemi dengan segala kesulitannya membuat banyak orang stres. Memelihara cupang menjadi upaya untuk menjaga kewarasan," ujarnya.
Di tengah pandemi, kata Agus, booming cupang ini menjadi semacam berkah tersembunyi bagi banyak sekali orang. "Bukan saja bagi para peternak dan penjual ikan cupang, tapi juga semua usaha yang berkaitan dengan itu, mulai dari pakan, obat-obatan ikan, hingga pembuat akuarium mini. Bayangkan, hanya dari satu hal saja, begitu banyak roda perekonomian yang bergerak," ujarnya.
Namun, seperti halnya Sukiyadi, Agus juga berharap pandemi segera berakhir dan kondisi kembali menjadi normal. "Sebab, tak ada kerinduan yang lebih besar pada hari-hari ini selain bisa kembali hidup dalam kondisi normal. Seperti sebelum pandemi." (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/sukiyadi-pengusaha-akuarium-mini.jpg)