Breaking News:

Ribuan Pekerja Industri Kulit di Sukaregang Sempat Dirumahkan Selama Tiga Bulan akibat COVID-19

Asosiasi Penyamak Kulit Indonesia (APKI) Garut mencatat, ribuan pekerja industri kulit sempat dirumahkan selama tiga bulan akibat pandemi.

Penulis: Firman Wijaksana
Editor: Januar Pribadi Hamel
TRIBUN JABAR/FIRMAN WIJAKSANA
Perajin aksesoris G-Dors Wallet Custom, Sanjay Muhammad Ahsan (32) menunjukkan masker berbahan baku kulit sapi hasil buatannya di galeri miliknya Kampung Sukaregang, Kelurahan Kota Wetan, Kecamatan Garut Kota, Jumat (9/10). 

Asosiasi Penyamak Kulit Indonesia (APKI) Garut mencatat, ribuan pekerja industri kulit sempat dirumahkan selama tiga bulan akibat pandemi.

Kebijakan itu juga diambil sesuai arahan pemerintah untuk mencegah penyebaran COVID-19.

Wakil Ketua APKI Kabupaten Garut, Sukandar, mengatakan, para pekerja yang dirumahkan mulai dari industri penyamakan, kerajinan kulit, dan toko penjual produk kulit.

Ia memperkirakan, 70 persen pekerja telah dirumahkan.

"Ada sekitar 10 ribu pekerja di industri kulit ini. Tinggal 30 persen yang masih bekerja menyelesaikan pesanan," ucap Sukandar, Jumat (9/10).

Saat ini kondisinya sudah mulai berangsur pulih. Hampir 100 persen pekerja sudah mulai kembali walau harus dibagi beberapa shift.

Di pusat industri kulit Sukaregang, terdapat 200 pengusaha. Sejak wabah COVID-19, aktivitas industri produk kulit di Garut terganggu.

Pesanan kulit berkurang dan produk yang ada tak bisa dikirim ke luar kota.

"Barang yang mau dikirim ke Bandung dan Surabaya ditunda.

"Otomatis pembayaran juga ditunda dan pengusaha tak punya pendapatan. Efeknya ke para pekerja," katanya.

Pengusaha sempat memilih untuk menghentikan produksi untuk sementara. Sekaligus sebagai upaya menghentikan penyebaran virus corona.

Sukandar berharap adanya perhatian dari pemerintah. Terutama untuk membantu agar sentra kulit Sukaregang bisa kembali bergeliat.

Sentra Perajin Kulit Sukaregang Mulai Menggeliat di Tengah Pandemi COVID-19 yang Masih Merebak

"Kami sudah ikut aturan pemerintah dengan menghentikan sebagian aktivitas. Sekarang tinggal pemerintah memberi perhatian ke pekerja yang dirumahkan," ujarnya.

Sukandar menyebut, saat ini memang sudah ada bantuan modal UMKM dari pemerintah. Namun besarannya belum bisa mendongkrak usaha produk kulit.

"Paling membantu sekarang itu bagaimana caranya produk yang dibuat itu bisa dijual. Harus ada upaya dari pemerintah agar kembali menggeliatkan produk lokal," ucapnya. (firman wijaksana)

Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved