Selasa, 12 Mei 2026

Soal Kajian Tsunami 20 Meter, Sukabumi Andalkan 2 Alat Pendeteksi

Di sini, Tribunjabar.id tidak akan membahas mengenai kesiapan BPDB. Melainkan bagaimana dengan alat pendeteksi tsunami BMKG.

Tayang:
Penulis: M RIZAL JALALUDIN | Editor: Ravianto
https://eona17.files.wordpress.com
Seismograf 

Laporan Kontributor Kabupaten Sukabumi M Rizal Jalaludin

TRIBUNJABAR.ID, SUKABUMI - Hasil kajian Institut Teknologi Bandung (ITB) mengenai tsunami setinggi 20 meter, masih jadi perbincangan di masyarakat.

Belum lama ini BPBD menyebutkan, wilayah Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, menjadi salah satu wilayah yang paling parah terdampak, apabila tsunami 20 meter itu benar-benar terjadi.

Di sini, Tribunjabar.id tidak akan membahas mengenai kesiapan BPDB. Melainkan bagaimana dengan alat pendeteksi tsunami BMKG.

Seismometer, alat deteksi gempa bumi.
Seismometer, alat deteksi gempa bumi. (istimewa/Dok BMKG Palabuhanratu)

Fungsional PMG (Pengamat Meteorologi dan Geofisika) ahli, Andy Rachmadan. Ia mengatakan, di kantor BMKG Palabuhanratu terdapat dua alat pendeteksi gempa, yakni sensor seismograf dan Intensity meter.

"Alat pendeteksi gempa bumi yang ada di kantor BMKG Palabuhanratu Sensor Seismometer dan Intensitymeter. Untuk sistem analisa guna mendapatkan parameter gempabumi (magnitude, lokasi, waktu, dan potensi tsunami atau tidak) di kantor kami tidak ada. Yang ada di kantor BMKG Bandung," ujarnya, Sabtu (10/10/2020).

"Sistemnya sama yang membedakan nanti outputnya. Kalau seismoter outputnya berupa parameter gempabumi. Kalau intensity meter outputnya berupa tingkat guncangan yang kita kenal dengan MMI (Modified Mercalli Intensity)," jelasnya.

Ia menjelaskan, cara kerja Seismometer yakni, saat guncangan gempa terjadi akan menghasilkan gelombamg seismik yang bergerak ke segala arah, gelombang tersebut ditangkap oleh beberapa sensor seismometer (min. 3).

"Gelombang yang ditangkap tersebut dianalisa menggunakan program seiscomp3, didapatkan parameter gempabumi (waktu kejadian, lokasi, magnitude, apakah berpotensi tsunami atau tidak)," terangnya.

Sementara itu, sistem Intensity meter bekerja saat guncangan gempa terjadi menghasilkan gelombang seismik yang bergerak ke segala arah.

"Gelombang tersebut ditangkap oleh sensor intensitymeter, lalu didapatkan tingkat guncangan dari gempa tersebut dalam satuan MMI," ujarnya

Lebih lanjut ia menjelaskan, alat deteksi tsunami sama dengan alat deteksi gempa bumi.

"Karena tsunami merupakan efek lanjutan dari gempabumi dengan magnitudo besar. BMKG mempunyai sistem yaitu InaTEWS (Indonesia Tsunami Early Warning System). Sistem ini berfungsi untuk memberikan peringatan tsunami kepada masyarakat apabila terjadi tsunami," katanya.

"Untuk mendukung sistem ini diperlukan sensor-sensor seismometer yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Sensor yang ada di Palabuhanratu merupakan salah satu sensor yang mendukung sistem InaTEWS tersebut," pungkasnya.* (M Rizal Jalaludin)

Sumber: Tribun Jabar
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved