Breaking News:

Cerpen

Perkutut di Pangkuan Laksmita

Telah berhari-hari Laksmita mengamati perkutut itu. Jinak, perkutut itu senantiasa berkeliaran di sekitar telapak kaki Laksmita.

ILustrasi Cerpen Doa doa Har 

Perkutut itu selalu berkicau bila Broto terdiam, memikirkan gerakan tari yang sedang ia ciptakan. Selalu muncul gerakan baru setelah kicau perkutut itu. Hari ini Broto berpuasa, seharian ia tak melihat perkutut itu makan dan minum. Benarkah perkutut itu ikut juga puasa? Sore hari, Broto berbuka dan ia melihat perkutut itu mulai makan dan minum. Broto melihat, ketika mematuk-matuk jewawut, sepasang mata perkutut itu tampak tajam. Tetapi tidak menakutkan. Ditenggelamkan paruhnya yang panjang dan melengkung tipis itu pada tempat air, minum. Terlihat perkutut itu berkicau sambil mengangguk-anggukkan kepala yang kecil, dengan ekor panjang yang berjingkat-jingkat. Ki Broto menemukan gerakan-gerakan tari, dari seluruh penampilan dan perilaku perkutut itu. Selalu saja ia menemukan gerakan tari yang tak pernah disadarinya, tak pernah direncanakan dengan kesadarannya. Ia menemukan gerakan yang tak sadar dari seluruh pengamatan dan suara kicau perkutut itu.

Menjelang pagi Ki Broto selesai menemukan gerak tari "Sang Hyang Memedi Sawah" yang mengusir wabah burung-burung pipit dan hama sawah. Ia didampingi beberapa orang penabuh lesung, yang mencari irama tetabuhan sesuai dengan gerakan-gerakan tari Broto. Gerakan-gerakannya kadang meloncat, menghardik burung-burung, menakut-nakuti serupa gerakan memedi.

Tarian itu dengan pakaian dari akar pohon, jerami, dan daun-daun pisang kering. Tarian yang diciptakan Broto diikuti penari-penari pedepokan. Begitu juga ketika pergelaran tari "Sang Hyang Memedi Sawah" diperagakan di pedepokan secara kolosal, dengan begitu banyak tamu berdatangan, memuji-muji Broto. Tetapi Broto tetap saja tegang, seperti masih ingin menyempurnakan gerak tari itu.

**

SELAMA perkutut itu berada di sangkar pendapa rumah Broto, di halaman sekitar pedepokan terdengar kicau perkutut bersahut-sahutan. Mereka berkicau bersamaan, menjelang fajar dini hari. Kicauan itu merayakan rekah matahari. Kadang mereka berkicau bersamaan, dari sudut-sudut kebun, di dahan-dahan pohon, terlindung lebat dedaunan. Menjelang siang perkutut-perkutut itu seperti lenyap meninggalkan kebun, kembali ke hutan lereng Merapi. Senyap. Tetapi tidak. Perkutut-perkutut itu terbang bersamaan, hinggap di pelataran, di sekitar sangkar perkutut sanggabuwana di pendapa rumah Broto. Mereka seperti menghormati sang pangeran putra mahkota, dan setelah itu kembali terbang ke dahan-dahan pohon, lenyap dari pandangan. Dari dahan-dahan pohon itu tak ada lagi suara kicau perkutut. Broto, yang sedang melatih tari untuk pergelaran di sebuah hotel, tak lagi memperhatikan perilaku perkutut itu. Ia sibuk. Lagi pula, ia lebih memikirkan istrinya, menanti kelahiran anak pertama. Sudah waktunya Laksmita melahirkan.

**

TAK lagi memperhatikan perkutut, Broto mesti mengantar Laksmita ke rumah sakit. Lepas Isya, Laksmita merasakan perutnya mulas, menahan rintihan sepanjang malam. Broto menahan kecemasan, gugup, meski ia mencoba menenangkan diri. Lewat tengah malam ia merasa tenteram, setelah mendengar suara bayi, kencang, dari ruang bersalin. Ia lebih tenteram lagi ketika perawat mempertunjukkan padanya bayi lelaki dengan mata terpejam, mulut mungil, rambut tipis.

Ketika Broto mengantar Laksmita dan bayi lelakinya pulang ke pedepokan, semua orang menyambut bayi lelaki yang tampan. Mereka juga lebih takjub memandangi wajah Laksmita yang lebih bercahaya. Laksmita belum melihat perkututnya sepulang dari rumah sakit.

Menjelang matahari rekah, Laksmita menggendong bayinya ke pendapa, berdiri di bawah kurungan perkutut. Tengadah. Tak ada lagi perkutut itu dalam sangkar. Pintu sangkar setengah terbuka. Ia lepas. Laksmita turun ke pelataran. Tak terdengar lagi kicau perkutut yang biasanya bertengger di dahan-dahan pohon. Laksmita merasa kehilangan sasmita, mimpi-mimpi, dan kemampuannya melihat suatu peristiwa yang belum terjadi. Tapi tiap kali memandang wajah bayinya, Laksmita merasa tenteram. Ia kini memiliki masa depan: anak lelaki yang akan menjaganya.

***

S. Prasetyo Utomo, lahir di Yogyakarta, 7 Januari 1961. Menyelesaikan program doktor Ilmu Pendidikan Bahasa Unnes pada 9 Maret 2018 dengan disertasi Defamiliarisasi Hegemoni Kekuasaan Tokoh Novel Kitab Omong Kosong Karya Seno Gumira Ajidarma. Menulis cerpen, esai sastra, puisi, novel, dan artikel di Horison, Kompas, Suara Pembaruan, dll.

Editor: Hermawan Aksan
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved