Demo Aksi Tolak UU Cipta Kerja
Perusuh Rata-rata Berusia 15-20 Tahun, Kapolrestabes Bandung: Bukan Massa Mahasiswa dan Buruh
Pada unjuk rasa kemarin, yang ditangkap sebanyak 209 orang, 13 orang di antaranya reaktif Covid-19.
Penulis: Mega Nugraha | Editor: Agung Yulianto Wibowo
Laporan Wartawan Tribun Jabar, Mega Nugraha
TRIBUNJABAR.ID - Selama tiga hari berturut-turut, yaitu Selasa (6/10/2020) sampai Kamis (8/10/2020), aksi unjuk rasa menolak UU Cipta Kerja di Kota Bandung ricuh.
Kericuhan dilakukan massa yang mengenakan pakaian hitam.
• Polisi dan Personel TNI Menyusuri Sejumlah Titik di Kota Bandung, Besok Siap Mengawal Aksi
• Berapi-api, Mahasiswi Ini Meminta Pendemo untuk Duduk Tenang, Massa Menurut, Situasi pun Kondusif
• PWI Cianjur Kecam Perampasan Handphone Plus Penghapusan Foto dan Video, Besok Aksi Solidaritas
"Yang pasti bukan massa mahasiswa atau buruh," ujar Kapolrestabes Bandung Kombes Ulung Sampurna Jaya di Gedung DPRD Jabar, Kamis (8/10/2020).
Selama tiga hari, unjuk rasa diikuti massa buruh yang tergabung dalam berbagai organisasi serikat pekerja dan massa mahasiswa yang saat melakukan aksinya selalu menggunakan jas almamater masing-masing kampus.
Lalu ada massa berpakaian hitam-hitam, tidak berjas almamater atau tidak berseragam identitas organisasi buruh.
Massa berpakaian hitam-hitam ini juga tidak membawa bendera.
Sejak aksi dua hari lalu, polisi menangkap massa perusuh itu.
Pada unjuk rasa kemarin, yang ditangkap sebanyak 209 orang, 13 orang di antaranya reaktif Covid-19.
Berdasarkan dari data yang ada, massa perusuh ini rata-rata berusia 15 tahun hingga 20 tahun.
"Jadi pelaku kerusuhan sejak dua hari lalu hingga hari ini itu berasal dari kelompok massa yang sama," ucap Ulung.
Ditanya memastikan mereka dari kelompok Anarko, ia tidak bisa memungkirinya.
"Ya bisa Anarko, bisa dari massa yang lain," ucap dia.
Melihat kebiasaan perusuh sejak dua hari lalu itu, pola membuat rusuhnya selalu sama.
Yakni, memprovokasi polisi lalu menyusup ke massa mahasiswa yang berjaket almamater.
"Iya, mereka memancing, memprovokasi, melempari dengan batu dan sebagainya. Itu sejak sejak hari pertama unjuk rasa minggu ini."
"Lalu, saat massa mahasiswa dan buruh sudah bubar, mereka masih bertahan melawan polisi. Saat kami tangkap, mereka ada yang bawa batu, bawa ketapel," ucap Ulung. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/kapolrestabes-bandung-kombes-ulung-sampurna-jaya-di-gedung-dprd-jabar.jpg)