Lima Gempa Kecil Tercatat selama Dua Hari di Sukabumi, Diduga Berasal dari Sesar Cipamingkis
Gempa-gempa tektonik ini diduga bersumber dari Sesar Cipamingkis yang menerus ke laut.
Penulis: Muhamad Syarif Abdussalam | Editor: Seli Andina Miranti
Laporan Wartawan Tribun Jabar, Muhamad Syarif Abdussalam
TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG -Sebanyak lima aktivitas gempa bumi di laut selatan Jawa Barat tercatat di website Indonesia Tsunami Early Warning System, pada 2-3 Oktober 2020.
Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyatakan aktivitas gempa di laut selatan Jawa Barat tersebut memiliki magnitudo atau kekuatan kecil di bawah Magnitudo 4.
Berdasarkan data tersebut, gempa terjadi pada Jumat (2/10) pukul 12.12 WIB dengan kekuatan M 3,0 dan pada 16.53 WIB dengan kekuatan M 3,4. Sedangkan pada Sabtu (3/10), terjadi pada 13.16 WIB dengan kekuatan M 3,7, pada pukul 17.46 dengan kekuatan 3,7 M, dan pada 22.37 gempa terjadi dengan kekuatan 3,6 M.
• Dirgahayu ke-75 TNI, Ini Sejarah Singkat 5 Oktober Jadi HUT TNI, Berkaitan Erat dari Dibentuknya BKR
Kepala Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Daryono bahkan lewat akun media sosialnya menyatakan terjadi tujuh kali gempa pada dua tanggal tersebut, yakni lima gempa sebelumnya ditambah gempa berkekuatan M 3,2 pada pukul 11.15 WIB dan gempa M 2,3 pada 17.01 WIB, Jumat (2/10).
Melalui akun media sosialnya tersebut, Daryono mengatakan gempa-gempa tektonik ini diduga bersumber dari Sesar Cipamingkis yang menerus ke laut. Lokasinya berada di Samudra Hindia, Selatan Cipamingkis, Sukabumi, Jawa Barat.
Kepala Stasiun Geofisika Kelas I Bandung BMKG, Tony Agus Wijaya, mengatakan aktivitas gempa di laut selatan Jawa Barat ini adalah gempa dengan magnitudo atau kekuatan kecil, di bawah Magnitudo 4, tidak dirasakan dan tidak berdampak terhadap manusia, tidak menimbulkan tsunami.
• Ular King Kobra Garaga Sempat Memprihatinkan, Apakah Masih Ada di Rumah Panji Petualang?
"BMKG terus memonitor semua aktivitas gempa dengan seismograf," kata Tony melalui ponsel, Minggu (4/10/2020).
Mengenai kemungkinan terjadinya gempa susulan yang lebih besar, Tony mengatakan sampai saat ini di seluruh dunia belum ada ilmu dan pengetahuan yang dapat memprediksi atau meramal kejadian gempa.
"Setiap sumber gempa memiliki karakter atau sifat masing-masing, dan tidak secara langsung saling berkaitan, karena ada faktor jarak, jenis lapisan batuan bumi, dan mekanisme tektonik," ujarnya.
Hal yang diperlukan, katanya, adalah pengurangan risiko bencana, dengan langkah mitigasi, yaitu peningkatan kapasitas masyarakat dengan sosialisasi.
"Saat gempa kuat terjadi, lindungi tubuh dari reruntuhan bangunan, kemudian keluar ruangan ke tempat terbuka terdekat. Jika di dekat pantai, segera menjauh dari pantai," tuturnya.
• Harus Sabar Dijalani, Mahfud MD Sebut Patuhi Protokol Kesehatan Vaksin Alami Hilangkan Corona