Breaking News:

Sorot

Beras Plastik Misterius, Kasus di Cianjur Belum Tuntas, Muncul Lagi di Purwakarta

Kita berharap kasus beras plastik di Cianjur dan Purwakarta ini sebuah ketidaksengajaan. Namun tentu harus dibuktikan, bukan berdasar dugaan-dugaan...

Penulis: Arief Permadi | Editor: Arief Permadi

Oleh Arief Permadi, Jurnalis Tribun Jabar

BELUM tuntas kasus beras plastik di Kabupaten Cianjur, kasus serupa terjadi di Kabupaten Purwakarta. Seperti di Kabupaten Cianjur, beras plastik di Kabupaten Purwakarta pun tercampur dalam paket beras bantuan dari Kementerian Sosial melalui Program Keluarga Harapan (PKH). Di Purwakarta, beras bantuan bahkan tak cuma tercampur plastik, tapi juga kuning dan sudah bau.

Sejauh ini, belum diketahui apakah keduanya memiliki kaitan. Satu-satunya yang terang, butiran plastik sama-sama tercampur dalam beras bantuan dari Kemensos. Siapa dalangnya dan apa motifnya masih benar-benar gelap, termasuk untuk temuan di Kabupaten Cianjur yang sudah lebih sepekan ditangani kepolisian bahkan kejaksaan setempat, dan menjadi atensi Menteri Sosial Juliari Batubara, yang dengan tegas menyebut bahwa kasus ini ditangani Bupati Cianjur.

Meski terjadi jauh di pelosok Cianjur Selatan, dan belakangan juga ditemukan di Desa Sukamaju, Kecamatan Sukatani, di Purwakarta, kasus beras plastik ini sejatinya bukan skala daerah. Bagaimana pun, PKH adalah program nasional. Jika biji plastik bisa "tercampur" dalam beras bantuan di dua kabupaten, ini berarti kasus serupa mungkin juga terjadi di kota dan kabupaten lain, namun mungkin tidak terungkap.

Di Tanah Air, kasus beras plastik bukan yang pertama. Mei 2015, hal serupa juga dilaporkan terjadi di Bekasi. Kasusnya terungkap menyusul unggahan seorang warganet yang menyebutkan keluarganya sakit perut setelah menyantap nasi yang diduga berasal dari beras plastik.

Disperindag Kota Bekasi yang segera turun tangan kemudian meminta uji sampel beras di Laboratorium Sucofindo, Cibitung. Hasilnya di luar dugaan, beras tersebut ternyata memang beras plastik.

Namun, Badan POM, Laboratorium Forensik, Laboratorium Kementerian Perdagangan, dan Kementerian Pertanian, yang juga melakukan pengujian, menyatakan sebaliknya. Kapolri saat itu, Jenderal Badrodin Haiti, kemudian menegaskan hal yang sama: hasil pengujian ulang dengan menggunakan sampel yang masih tersisa di Sucofindo, negatif beras plastik.

Tak hanya di Indonesia, pada tahun yang sama beras plastik juga pernah dilaporkan ditemukan di Cina. Setahun kemudian, beras plastik juga ditemukan di Nigeria, dan belakangan ditemukan di Ghana. Di Nigeria beras plastik yang ditemukan dalam 100-an karung beras ini langsung disita pemerintah. Saat itu, pejabat Bea Cukai setempat menyebut, beras palsu itu rencananya akan dijual di pasar pada musim belanja Natal hingga akhir tahun.

Begini Awal Penemuan Kasus Beras Plastik di Purwakarta, Bantuan PKH dari Kemensos

Berbeda dengan di Nigeria, keberadaan beras plastik di Ghana kemudian dibantah pemerintah setempat. Otoritas pengawasan makanan Ghana mengumumkan bahwa beras plastik yang ramai dibicarakan di negeri itu hanya sebuah rumor.

Seperti halnya di Ghana, sekalipun tak mungkin, jauh di dalam hati, kita masih berharap, "beras plastik" yang belakangan kembali ditemukan di Tanah Air ini juga hanya sebuah rumor. Kita berharap ini sebuah ketidaksengajaan. Namun tentu harus dibuktikan, bukan berdasar dugaan-dugaan, atau semata untuk membuat masyarakat tenang.

Terungkap atau menguapnya kasus ini tergantung kinerja para penyidik di kepolisian. Hanya waktu yang bisa menjawab. (*)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved