Breaking News:

Bentangan Pantai di Cianjur 70 KM, Nelayan Dilema Ramainya Pemberitaan Ancaman Tsunami 20 Meter

Selain kondisi psikis nelayan yang dilematis, ia juga menyayangkan alat 'early warning system' tsunami dalam kondisi rusak saat ini.

tribunjabar/ferri amiril mukminin
Nelayan Cidaun Cianjur 

Laporan Wartawan Tribun Jabar Ferri Amiril Mukminin

TRIBUNJABAR.ID, CIANJUR - Maraknya pemberitaan tentang potensi tsunami 20 meter di pesisir selatan Cianjur membuat kondisi psikis nelayan Cianjur sedikit terganggu. Mereka takut tapi tak punya penghasilan jika tak melaut.

Hal tersebut hampir sama dirasakan nelayan lainnya di pesisir selatan Cianjur dari wilayah Cidaun sampai Agrabinta yang membentang pantai sejauh 70 kilometer.

Anggota DPRD Kabupaten Cianjur dapil V, Rustam Efendi, mengatakan saat ini kondisi nelayan dilematis.

11 Karyawan Bank di Kuningan Terkonfirmasi Positif Covid -19, Kantor Ditutup Sementara

"Adanya kabar ini tentu sedikit banyak sudah mempengaruhi kondisi psikis para nelayan, di satu sisi kabar adanya ancaman tsunami dan di sisi lain mereka harus tetap makan dan mencari ikan ke laut," ujar Rustam, Kamis (1/10/2020).

Rustam mengatakan, selain kondisi psikis nelayan yang dilematis, ia juga menyayangkan adanya alat 'early warning system' tsunami yang dalam kondisi rusak saat ini.

Ia mendorong Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) untuk menyampaikan laporan ke Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) agar segera mengganti alat deteksi dini tsunami yang ada di wilayah peisir pantai di Cianjur Selatan.

"Di Cianjur ini, ada bentangan sepanjang 70 kilometer pesisir pantai, dengan begitu kita juga meminta BPBD untuk mendorong BNPB agar segera mengganti alat deteksi tersebut," kata Rustam.

CONTOH Ucapan Kata-kata dan Gambar Selamat Hari Kesaktian Pancasila, Cocok di WA FB IG, Belum Telat

Rutam mengimbau, masyarakat yang di pesisir pantai Cianjur Selatan agar tetap waspada terutama yang berprofesi sebagai nelayan.

"Saya imbau bagi warga yang berdomisili di sepanjang pesisir pantai tak usah panik tapi waspada," katanya.

Ia mengatakan, kondisi panik akan menimbulkan kerugian diri sendiri, dengan begitu, selalu berkoordinasi dengan aparat aparat pemerintahan dari mulai RT-RW desa dan juga Kecamatan.

"Di sisi lain, kami juga akan mendorong pihak dinas dalam hal ini BPBD terutama relawan tangguh bencana atau Retana yang sudah seharusnya senantiasa mewaspadai berbagai macam kemungkinan termasuk juga potensi potensi bencana alam seperti apa yang sekarang ini sudah diperingatkan oleh pemerintah pusat," katanya.

Rustam mengatakan, pihaknya juga akan mendorong dalam hal ini BPBD untuk segera berkoordinasi dengan pemerintah pusat atau BNPB Badan Nasional penanggulangan bencana agar sesegera mungkin mengadakan atau menindaklanjuti permohonan pergantian alat deteksi dini tsumami tersebut.

"Saat ini untuk di pesisir pantai Cianjur Selatan hanya memiliki 8 unit alat deteksi dini tsumami, sementara keadaannya sudah rusak. Jadi saya harap BNPB segera merespon," katanya.

Buruh Ancam Mogok Massal, KADIN: Mogok Kerja Jika Bukan Karena Gagalnya Perundingan adalah Tidak Sah

Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

Tribun JualBeli
© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved