Breaking News:

Angka Penularan Di Bandung 0,81 Tapi Penularan Meningkat, Ini Kata Ahli Epidemiolog

Data laman Pusicov Kota Bandung, Rabu 16 September 2020, jumlah pasien positif aktif mencapai 233 orang, jumlah ini meningkat dari 23 Agustus 2020

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Wali Kota Bandung, Oded M Danial mengklaim jika angka reproduksi penularan Covid-19 berada diangka 0,81, masuk dalam zona orange dan relatif masih terkendali kasus penyebarannya. 

Namun fakta dilapangan yang terjadi saat ini, angka pasien aktif Covid-19 terus meningkat, seiring dengan masifnya pengetesan yang dilakukan Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bandung. 

Berdasarkan data dari laman pusat informasi Covid-19 (Pusicov) Kota Bandung, Rabu 16 September 2020, jumlah pasien positif aktif mencapai 233 orang, jumlah ini meningkat dari 23 Agustus 2020 yang saat itu hanya ada 71 orang. 

Sementara itu, Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Jawa Barat, Dr. Eka Mulyana SpOT mengatakan, yang dimaksud R0 merupakan angka reproduksi atau potensi penularan dari penyakit Covid-19.

PSBM di Kota Cimahi, kalau Berkerumun akan Ditegur, jika Melawan Bakal Dipidanakan

R0 bisa meningkat akibat banyak faktor, salah satunya perilaku masyarakat yang abai dengan protokol kesehatan seperti tidak memakai masker hingga jaga jarak.

"Tolak ukurnya R0 (angka reproduksi) apakah masih di atas satu atau masih di bawah satu, kalau di atas satu masih terjadi penularan dari orang ke orang jadi resikonya masih ada," ujar Eka, saat dihubungi, Rabu (16/9/2020).

"Sekarang, kalau R0 nya dibawah satu tapi di lapangan masih banyak yang tidak pakai masker dan angka penularannya masih tinggi, kemungkinan R0-nya masih di atas satu," tambahnya. 

Tren Penularan Covid-19 Bandung Kembali Tinggi, IDI : Perketat Penerapan Protokol Kesehatan

Menurutnya, pemerintah Kota Bandung harus memastikan apakah saat ini angka reproduksinya sudah benar-benar di bawah satu atau di atas satu.

Sebab, kalau angka reproduksinya di bawah satu, seharusnya sudah tidak ada lagi penularan. 

"Kita harus realistis agar datanya akurat dan juga bisa diverifikasi, jadi kita melihatnya kondisi di lapangan, karena ini yang bicara ahli epidemiologi," ucapnya. 

Penulis: Nazmi Abdurrahman
Editor: Siti Fatimah
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved