Breaking News:

Anak Kesulitan Belajar, Orangtua Malah Emosi dan Membunuh, Komnas PA Minta Hukuman Seumur Hidup

Ketua Komnas PA Arist Merdeka Sirait mengatakan, pasutri di Lebak yang menghilangkan secara paksa hak hidup anak kandungnya itu harus mendapatkan huku

ist
Kepolisian dan warga Desa Cipalabuh, Kecamatan Cijaku, Kabupaten Lebak, Banten melakukan pengangkatan jenazah yang diduga korban pembunuhan, Sabtu (12/9/2020). 

Laporan Kontributor Kabupaten Sukabumi M Rizal Jalaludin

TRIBUNJABAR.ID, SUKABUMI - Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) Republik Indonesia, angkat bicara terkait kasus pembunuhan terhadap anak yang sedang belajar online oleh kedua orangtuanya di Kabupaten Lebak, Banten, beberapa waktu lalu.

Diketahui, Suami Istri (Pasutri) berinisial IS (27) dan LH (26) itu menguburkan anaknya yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD) Kelas 1, di Tempat Pemakaman Umum Gunung Kendeng, Cijaku, Lebak.

Ketua Komnas PA Arist Merdeka Sirait mengatakan, pasutri di Lebak yang menghilangkan secara paksa hak hidup anak kandungnya itu harus mendapatkan hukuman setimpal.

"Pasutri yang membunuh anak sendiri dengan cara menganiaya, membunuh dan menguburkan secara tidak layak patut mendapat hukuman yang setimpal dengan perbuatannya. Mengingat kedua pelaku adalah orangtua kandung korban yang seyogyanya menjaga dan melindungi anak," ujar Arist dalam keterangan pers yang diterima Tribunjabar.id, Rabu (16/9/2020).

"Berdasarkan UU RI Nomor 35 Tahun 2014 tentang perubahan atas UU RI NOmor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, pasutri ini terancam 20 tahun pidana penjara ditambah sepertiga dari hukuman pidana, pokoknya menjadi pidana seumur hidup," tegas Arist.

Menurutnya, tidak ada toleransi bagi yang melakukan pembunuhan terhadap anak, terlebih dilakukan oleh orang tuanya.

"Dalam kondisi dan situasi apapun korban, siapapun pelakunya dan sampai kapan pun, tidak ada alasan dan toleransi terhadap perampasan hak hidup seseorang apalagi terhadap anak kandung sendiri dengan cara menganiaya, menyiksa, dan mengakibatkan meninggal dunia. Oleh karenanya, Pasutri IS (27) dan LH (26) patut dijerat dengang pidana seumur hidup," ujar Arist kembali menegaskan.

Ia mengungkapkan, menurut keterangan polisi korban yang berusia 8 tahun itu menunjukkan ada bekas luka lebam di bagian kepala.

Luka itu diduga akibat hantaman benda tumpul, dan setelah itu pelaku menguburkan jasad anak perempuan usia 8 tahun tersebut secara tidak layak di TPU Gunung Kandang Lebak, Banten.

Halaman
1234
Penulis: M RIZAL JALALUDIN
Editor: Ravianto
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved