Breaking News:

Eksklusif

EKSKLUSIF: Bisnis Pernak-pernik Pilkada Mati Suri, Pengusaha Konfeksi Bandung Gigit Jari

jutaan kaus partai yang biasanya mereka dapatkan pada setiap momen pilkada, tak lagi mereka terima

EKSKLUSIF: Bisnis Pernak-pernik Pilkada Mati Suri, Pengusaha Konfeksi Bandung Gigit Jari
Deni Denaswara
ilustrasi. Dua pekerja menyelesaikan order pesanan di salah satu konfeksi di Jalan Cibeunying, Bandung.

TRIBUNJABAR.ID - Momentum pemilihan kepala daerah (pilkada) tak lagi menjadi masa panen raya bagi para pengusaha konfeksi di Sentra Kaos dan Sablon Suci, Kota Bandung.

Pesanan ribuan bahkan jutaan kaus partai yang biasanya mereka dapatkan pada setiap momen pilkada, tak lagi mereka terima pada momen Pilkada Serentak 2020.

Terbukti, hingga bergulirnya tahap pendaftaran pasangan calon ke Komisi Pemilihan Umum (KPU), pekan lalu, belum ada satupun permintaan pemesanan kaus atau atribut kampannye pilkada, baik dari partai politik maupun calon kepala daerah.

Jajang Sutiono (48), pengusaha konfeksi kaus sablon Blitz T-Shirt, mengaku pemesanan kaus memang merosot sejak pandemi Covid-19 terjadi.

Ini pula yang membuatnya pesimistis meski momen Pilkada 2020 sudah di depan mata.

"Hingga saat ini, kami belum ada order atribut kampanye, apalagi sekarang itu situasinya berbeda jauh sejak adanya pandemi. Sekarang ini enggak ada lagi istilah kebut-kebutan untuk dapat order pesanan langsung kaus pilkada dari orang pertama, karena untuk bisa ikut jadi bagian dari produksi saja, misalnya untuk jahit, sablon, atau packing, sudah susah sekali.

Sekarang sudah dimonopoli pelaku usaha besar yang punya modal kuat, yang bisa kasih harga minim, jauh dari harga normal," ujarnya saat ditemui di tempat usahanya di Sentra Kaos dan Sablon Suci, Jalan PHH Mustapa, Kamis (3/9/2020).

Jajang mengatakan, panen raya pilkada di Sentra Kaos dan Sablon Suci, terakhir mereka rasakan pada Pemilihan Gubernur pada 2018.

Saat itu mereka masih mendapat seribuan pieces (potong) kaus kampanye.

"Itu sebenarnya juga jauh dari jumlah minimal order kaus kampanye yang biasanya lima ribu hingga 10 ribuan pieces. Tapi, akhirnya tetap kami ambil dari pada enggak dapat sama sekali. Bagaimana pun usaha ini harus jalan, pegawai juga harus dibayar. Makanya kami paksakan ambil. Tapi untuk pilkada sekarang ini, jangankan 1.000 pieces, untuk dapat bagian dari produksi saja, sekarang mah sudah susah," ujarnya.

Halaman
123
Penulis: Cipta Permana
Editor: Agung Yulianto Wibowo
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved