Breaking News:

SLB Al Barkah, Samarang, Garut, Merasa Bangga Bisa Bekerja Sama dengan Puka

SRI Lestari, Kepala SLB Al Barkah, Samarang, Kabupaten Garut merasa kerja sama denga Puka (Pulas Katumbiri) ikut membantu mengeksplorasi kemampuan sis

Istimewa
Puka Tim 

SRI Lestari, Kepala SLB Al Barkah, Samarang, Kabupaten Garut merasa kerja sama denga Puka (Pulas Katumbiri) ikut membantu mengeksplorasi kemampuan siswa disabilitas, terutama disabilitas tuna rungu.

"Saya merasa bangga dan mengapresiasi sekali kerja sama dengan Puka. Khususnya dalam vokasional memayet," kata Sri dalam video di saluran Youtube mililik Puka.

Dia berharap SLB dan Puka bisa tetap bersinergi bekerja sama untuk mengoptimalkan potensi anak-anak disabilitas khususnya tuna rungu yang berada di SLB Al Barkah.

"Ke depannya lagi mungkin, anak-anak yang menjadi alumni bisa terus bekerja sama membangun kreativitas bersama Puka" katanya.

Selama ini, kata Desi Nuranisa (27), founder dan CEO Puka, perusahaannya dan SLB yang bekerja sama saling menguntungkan.

Menurut Desi, mereka mendapatkan pelajaran dari guru, bagaimana menghandel anak itu bagaimana.

"Treatmen-nya dan lain-lainnya. Kadang anak itu tantrum kami harus mengikuti juga. Guru itu ibarat patner, kami sama-sama belajar," katanya.

Adapun guru-guru, kata Desi, belajar bagaimana bisnis itu, seperti membuat perencanaan bisnis, mengenal produk yang bagus, dan lain-lain. "Kami memag saling menguntungkan," katanya.

Menurut Rafiati Kania (27), Co Founder dan COO Puka, produki orang-orang disabilitas tersebut mereka jual.

Mereka, kata Rafi, mendapat semacam upah setelah barang-barang terjual. Upah tersebut dibagikan melalui guru di SLB yang bersangkutan.

Kerajinan Tangan Bisnis Utama Puka yang Menjaring Orang Disabilitas Jadi Mitra

Untuk memudahkan, Puka menujuk guru di setiap SLB untuk mencatat produk yang dibuat para siswa atau alumnus.

"Nanti akhir bulan setoran berdasarkan penjualan. Kalau sudah terkumpul, nanti guru membagikan ke anak-anak yang dimasukan ke tabungan karya yang bisa diambil setiap pembagi rapor," kata Rafi.

Menurut Rafi, Puka melatih guru di SLB yang bekerja sama, yang sebenarnya sudah punya dasar kerajinan tangan. Lalu, katanya, Puka modivikasi produknya.

"Awalnya karya mereka hanya jadi pajangan. Mereka memproduski lampion, bantal, mereka jual ke orang tua dan tidak ada sisi keunikannya. Kami memodivikasinya itu dengan media yang lebih menjual," katanya. (januar ph)

Editor: Januar Pribadi Hamel
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved