Breaking News:

Kondisi Atlet PON Jabar Naik Signifikan Setelah Ada Pelonggaran PSBB, Jalani 3 Pola Progam Latihan

Pandemi Covid-19 sangat memengaruhi atlet Jawa Barat yang disiapkan bertarung di Pekan Olahraga Nasional (PON) XX/2021 di Papua.

Istimewa
Koordinator Satuan Pelaksana (Satlak) Jabar Juara, Yunyun Yudiana (kanan), saat konferensi pers di Ruang Kominfo KONI Jabar, Jalan Pajajaran Bandung, Rabu (9/9/2020). 

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Pandemi Covid-19 sangat memengaruhi atlet Jawa Barat yang disiapkan bertarung di Pekan Olahraga Nasional (PON) XX/2021 di Papua. Kondisi atlet sempat menurun karena program latihan tidak bisa berjalan dengan semestinya.

Kini, Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Jawa Barat mengklaim kondisi para atlet naik signifikan setelah ada pelonggaran pembatasan sosial berskala besar (PSBB).

“Sekitar bulan Juli, saat pemerintah melonggarkan PSBB, kami mulai dengan tiga pola program latihan. Yaitu ada yang tetap work from home, ada yang desentralisasi, dan ada yang sentralisasi. Pada mulanya kondisi mereka ada penurunan yang cukup signifikan. Namun, kemudian setelah kembali berlatih, terjadilah peningkatan lagi,” kata Koordinator Satuan Pelaksana (Satlak) Jabar Juara, Yunyun Yudiana, di Ruang Kominfo KONI Jabar, Jalan Pajajaran Bandung, Rabu (9/9/2020), dalam rilis yang diterima Tribun.

Menurut Yunyun, yang juga ketua umum Pengprov Asosiasi Bola Tangan Indonesia (ABTI) Jabar, para atlet yang WFH adalah mereka yang berada di zona merah penyebaran virus corona. Sekarang yang desentralisasi itu cabor yang diprediksi emasnya tidak terlalu banyak, tapi personelnya banyak. Contohnya sepak bola, bola voli, basket, bola tangan, dan hoki.

Sedangkan yang sentralisasi ditetapkan cabor yang kecenderungan dan prediksi meraih medali emas banyak dengan nomor pertandingan banyak, namun personelnya sedikit.

“Keinginan kami semua cabor bisa sentralisasi tapi ada konsekuensi besar yang harus ditanggung. Kemudian ongkos untuk sentralisasi itu sangat besar dan ketika hampir 60 persen anggaran dikembalikan kepada Pemprov Jabar untuk penanggulangan Covid menjadi pemikiran kami untuk mencari solusi agar atlet tetap dibina,” kata Yunyun.

Adanya dana yang harus dikembalikan ke pemerintah, Yunyun mengatakan, berefek pada kurangnya dana untuk uang saku sebesar Rp 600 juta.

“Alhamdulillah setelah kami berdiskusi, proses tiga pola latihan itu bisa dilakukan sampai Desember. Itu pun untuk uang saku masih kekurangan Rp 600 juta. Artinya, kami KONI Jabar, harus berpikir luar biasa. Dari mana untuk menutup kekurangan tersebut. Kenapa saya bicara biaya, di dunia manapun bicara soal prestasi itu erat kaitannya dengan ongkos,” katanya.

Drive-In Senja, Menonton Bioskop dari Dalam Mobil Hari Pertama di Bandung, Tiket Habis

Mengenai latihan, Yunyun mengatakan, tetap diterapkan protokol kesehatan kepada atlet.

"Bahkan Pak Gubernur memerintahkan kepada KONI Jabar untuk melakukan swab test kepada atlet dan pelatih, dan KONI harus koordinasi dengan gugus tugas. Ada kekhawatiran di sini, karena peningkatan Covid sekarang fluktuatif luar biasa, dan tanpa gejala,” kata Yunyun.

Outbreak Covid-19 di Indramayu Diprediksi November, Bertepatan Menjelang Pesta Demokrasi

Dijanjikan Deposito Emas, Pendaftar Paguyuban Tunggal Rahayu Garut Harus Bayar Sejumlah Uang

Oleh karena itu, KONI Jabar tetap memberikan layanan kepada para atlet supaya kondisi para atlet tetap sehat. KONI Jabar sudah menerjunkan langsung tim kesehatan untuk melayani para atlet, termasuk tim psikologi.

“Kami tetap berikan pedoman kesehatan kepada para atlet dan pelatih. Supaya mereka tetap dalam keadaan baik,” katanya. (*)

Penulis: Giri
Editor: Giri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved