Penggemar Tempe Mendoan! Ini Sejarah Gorengan Setengah Matang Asal Banyumas
Tempe kemudian dilumuri dengan bumbu dan tepung, tak lupa dicampurkan irisan daun bawang.
TRIBUNJABAR.ID - Tempe mendoan selalu diburu penggemarnya.
Tempe yang digoreng garing dan bertekstur renyah ini cocok untuk camilan di sore atau malam hari.
Apalagi ditemani cabai rawit hijau atau sambal kecap manis dan kopi atau teh.
Tempe mendoan, adalah sajian varian tempe yang terkenal dan banyak disukai.
Berasal dari Banyumas, tempe mendoan merupakan makanan olahan dari fermentasi atau peragian dari kacang kedelai (soybean cake).
Tempe kemudian dilumuri dengan bumbu dan tepung, tak lupa dicampurkan irisan daun bawang.
Lalu digoreng sebentar dalam minyak panas.
Sebagaimana tempe yang cenderung menjadi lauk makan sementara mendoan lebih sebagai makanan ringan.
Cita rasanya hampir sama dengan tempe pada umumnya, tapi lebih tipis dengan ketebalan bahan mentah sekitar 3 inci.
Teksturnya pun tidak krispi melainkan lebih empuk dan kenyal dari adonan tepung yang digoreng setengah matang.
Namun, di balik ciri khasnya yang unik, bukan tanpa alasan tempe mendoan digoreng setengah matang.
Sejarah mendoan
Melansir dari artikel Kompas.com, dari namanya, "mendoan" berasal dari teknik masaknya.
Dalam bahasa Jawa Banyumas mendo memiliki arti setengah matang.
Maka mendoan adalah asli Banyumas ditilik dari cara membuat dan memasaknya, serta penamaan bahasanya.
Mendoan digoreng setengah matang karena dulunya dibuat sebagai olahan cepat saji.
Hal ini bertujuan untuk mempersingkat waktu pembuatan dan tidak menghabiskan waktu untuk menunggu tempe goreng menjadi sangat kering.
Mendoan muncul bersamaan dengan tempe yang merupakan makanan berbahan baku kedelai yang banyak tumbuh di seputar Asia Tengah wilayah Cina dan Indocina.
Lalu kedelai dibawa oleh masyarakat Asia Tengah ketika bermigrasi ke tenggara.
Makanan ini bukan sekadar kudapan nikmat untuk menemani minum teh, tetapi juga sebagai ujung tombak pariwisata Kabupaten Banyumas.
Mendoan juga sudah lama disantap oleh masyarakat Banyumas.
Makanan khas Banyumas tersebut ternyata sudah ada sejak lebih dari satu abad lalu.
Namun, mulai menjadi komuditas ekonomis dan dikelola secara komersial dalam dunia kepariwisataan sejak awal 1960-an.
Hal ini bersamaan dengan munculnya pusat oleh-oleh sawangan dan kripik Nyoya Sutrisno yang mengolah bentuk lain dari mendoan yang kering atau disebut dengan nama kripik.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/tempe-mendoan.jpg)