Terkait Janda Makin Marak, Bupati Bandung Angkat Bicara Soal Meningkatnya Perceraian saat Pandemi

Bupati Bandung, Dadang M Naser, mengatakan ada beberapa yang menjadi anekdot saat lockdown (akibat adanya pandemi Covid-19).

Penulis: Lutfi Ahmad Mauludin | Editor: Dedy Herdiana
Tribun Jabar/Lutfi Ahmad Mauludin
Dadang, di Gedung Moh Toha, Soreang, Kabupaten Bandung, Rabu (26/8/2020). 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Lutfi AM

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Peningkatan angka perceraian yang melahirkan janda dan duda baru di Kabupaten Bandung terjadi saat memasuki adaptasi kebiasaan baru (AKB) akibat adanya pandemi Covid-19.

Seperti yang telah diberitakan sebelumnya, pada bulan Juli terdapat 1.102 kasus perkara yang masuk ke Pengadilan Agama Soreang, sedangkan sebelum adanya pandemi biasanya perbulan terdapat sekitar 800 kasus.

Bupati Bandung Dadang M Naser, mengatakan ada beberapa yang menjadi anekdot saat lockdown (akibat adanya pandemi Covid-19).

UPDATE Bandung Kebanjiran Janda, Hari Ini Gugat Cerai Tercatat Puluhan Kasus, Bagi Gono Gini Pun Ada

KISAH Dua Calon Janda Muda Gugat Cerai Suami, Kesal Diselingkuhi dan Tak Dinafkahi, hingga Soal KDRT

Ribuan Wanita di Bandung Jadi Janda Baru, Ini Penjelasan Psikolog Penyebab Banjir Perceraian

"Ketika di- lockdown angka kelahiran meningkat, jumlah ibu hamil meningkat," ujar Dadang, di Gedung Moh Toha, Soreang, Kabupaten Bandung, Rabu (26/8/2020).

Namun, kata Dadang, tidak kurang juga terdapat pertengkaran karena pendapatan (berkurang).

"Itu bukan di kita saja ( Kabupaten Bandung) di berbagai tempat juga," kata Dadang.

Seribu Pasangan Bercerai Setiap Bulan di Indramayu

Cerita Nurhalimah Ibu Muda Usia 19 Tahun di Indramayu Gugat Cerai Suami, Tak Tahan Jadi Korban KDRT

Dadang mengungkapkan, dengan begitu, peran ulama harus turun tangan memberikan nilai-nilai religi agar (masyarakat) tetap sabar dalam menghadapi bencana seperti ini.

"Tidak mengambil jalan pintas, seperti gugat cerai, atau terjadi perceraian," tuturnya.

Menurut Dadang, logikanya di Kabupaten Bandung terdapat sekitar 3,7 juta jiwa.

"Ketika ada permasalahan ini (banyak perceraian) seolah-olah menonjol, itupun jadi bagian perhatian kami," ucapnya.

Sumber: Tribun Jabar
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved