Breaking News:

Virus Corona di Jabar

Daftar 7 Kabupaten di Jabar yang Kecamatan Zona Hijaunya di Atas 50 Persen, Daerah Mana Saja?

Berli mengatakan ratusan tenaga kesehatan tersebut selama ini bertugas di puskesmas sampai rumah sakit di kabupaten dan kota di Jawa Barat.

Editor: Ravianto
ISTIMEWA
Kegiatan di Puskesmas Ciawi, Kabupaten Tasikmalaya, belum lama ini. Puskesmas Ciawi memutuskan menutup ruang rawat setelah ada pasien dinyatakan positif Covid-19. 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Muhamad Syarif Abdussalam

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat, Berli Hamdani, mengatakan terdapat 242 tenaga kesehatan di Jawa Barat yang terkonfirmasi positif Covid-19, sampai Kamis (13/8).

Berli mengatakan ratusan tenaga kesehatan tersebut selama ini bertugas di puskesmas sampai rumah sakit di kabupaten dan kota di Jawa Barat.

"Tenaga kesehatan yang dinyatakan positif Covid-19 sampai saat ini masih isolasi mandiri, sebanyak 242 tenaga kesehatan," kata Berli saat dihubungi, Kamis (13/8).

Menurut Berli keterisian ruang rawat isolasi di Rumah Sakit di Jawa Barat pun kini mencapai 34,50 persen.

Padahal beberapa pekan sebelumnya dinyatakan angka keterisian ruang isolasi di semua rumah sakit di Jawa Barat mencapai 27 persen.

"Kapasitas tampung rumah sakit di Jawa Barat masih cukup, dan siap ditambah bila terjadi peningkatan," ucap Berli yang juga menjabat sebagai Wakil Sekretaris Gugus Tugas Percepatan Penanggulangan Covid-19 Jawa Barat tersebut.

Klaster-klaster baru penyebaran Covid-19 di Jawa Barat kembali bermunculan seiring dengan pelonggaran Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dan memasuki Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB). Masyarakat pun diminta untuk benar-benar melakukan protokol kesehatan pencegahan Covid-19 untuk menghindari penularan yang kian serius ini.

Anggota Divisi Perencanaan Riset dan Epidemiologi pada Gugus Tugas Percepatan Penanggulangan Covid-19 Jawa Barat, dr Bony Wiem Lestari, mengatakan sejak relaksasi PSBB di Jabar dilakukan pada 26 Juni lalu, sangat terlihat tren peningkatan kasus baru dan penambahan risiko zonanya.

Peningkatan kasus ini, katanya, harus diwaspadai bersama karena peningkatan jumlah zona berisiko sedang dan tinggi ini terjadi antara lain dengan ditemukannya kasus dan klaster penyebaran terbaru.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved