Breaking News:

Usaha Jasa Pernikahan Mulai Bangkit, Komunitas Wedding Organizer Segera Membentuk Badan Hukum

perputaran uang pada acara pernikahan dinilai tinggi. Rata-rata dalam sehari ada 100 acara pernikahan dengan dana Rp 100 juta per acara.

DOKUMENTASI
ILUSTRASI Wedding Festival 

Laporan wartawan Tribun Jabar, Firman Wijaksana

TRIBUNJABAR, GARUT - Pengusaha jasa pernikahan (wedding organizer) di Kabupaten Garut perlahan mulai bangkit seiring diizinkannya pesta pernikahan. Selama lebih dari tiga bulan banyak pengusaha yang gigit jari karena pembatalan pesta pernikahan.

Ketua Komunitas Wedding Garut (KWG), Budi Kurniadi, mengatakan, para penyedia jasa pesta pernikahan sudah bisa memulai aktivitasnya. Meski begitu, ada perbedaan penyelenggaraan dibanding sebelum masa pandemi Covid-19.

“Ada 200 pelaku usaha yang tergabung di KWG ini, dari katering, dekorasi, perias, MC, wedding organizer, hingga kesenian tradisional,” ucap Budi ditemui di salah satu kafe di Jalan Otista, Kecamatan Tarogong Kidul, Rabu (12/8/2020).

Meski diterpa pandemi, Budi mengaku para pengusaha jasa pernikahan ini masih bisa bertahan. Menurutnya, industri jasa pernikahan pada masa pandemi Covid-19 akan bisa menyesuaikan.

Kalangan wedding organizer juga sudah melakukan simulasi pernikahan di masa adaptasi kebiasan baru (AKB). Penerapan protokol kesehatan sudah dilaksanakan. Tak hanya saat simulasi namun juga mulai diterapkan di pesta pernikahan di Garut.

Setelah terjadinya pandemi ini, Budi menyadari KWG harus bisa mempunyai legalitas hukum agar bisa membantu anggotanya. Pasalnya, untuk bisa berhubungan dengan pihak eksternal dibutuhkan badan hukum yang jelas.

“Kalau komunitas kan hanya untuk internal. Sedangkan sekarang kami baru terasa butuh dengan eksternal. Itu tidak bisa dilakukan kalau hanya komunitas. Makanya, sekarang akan dibentuk badan hukum KWG,” katanya.

Pembentukan badan hukum juga bisa meningkatkan profesionalitas anggota. Karena pengusaha jasa pernikahan merupakan sebuah profesi.

“Kami juga akan mengatur soal persaingan harga antarvendor. Ini yang banyak dikeluhkan. Maka butuh kode etik yang bisa jadi pegangan yang akan dibentuk pada Kongres 31 Agustus ini,” ujarnya.

Pengurus KWG, Cecep Safa'atul Barkah, menyebut, perputaran uang pada acara pernikahan dinilai tinggi. Rata-rata dalam sehari ada 100 acara pernikahan dengan dana Rp 100 juta per acara.

“Jadi jangan diremehkan pesta pernikahan ini. Sebenarnya bisa membantu UMKM lainnya. Makanya kami ingin dibadan hukumkan biar datanya lebih valid,” ucap Cecep.

Menurutnya, perekonomian warga terutama pelaku UMKM sangat terbantu dengan adanya acara pernikahan. Perputaran uang pun diupayakan tetap berada di Garut. (*)

Penulis: Firman Wijaksana
Editor: Darajat Arianto
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved