Breaking News:

Virus Corona di Jabar

Jabar Miliki 1 Zona Berisiko Tinggi, Jumlah Kecamatan Zona Hijau Turun

Jika awalnya Jabar tidak memiliki zona merah atau zona berisiko tinggi, kini Jabar memiliki 1 zona risiko tinggi, yaitu Kota Depok.

Penulis: Muhamad Syarif Abdussalam | Editor: Ravianto
ANTARA FOTO/Asprilla Dwi Adha
Sejumlah rangkaian kereta rel listrik terpakir di Dipo Depok, Jawa Barat, Senin (23/3/2020). 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Muhamad Syarif Abdussalam

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Sebanyak 9 kabupaten dan kota di Jawa Barat masuk dalam zona risiko sedang penyebaran Covid-19 dan 1 lainnya masuk dalam zona risiko tinggi.

Sedangkan 17 kabupaten dan kota sisanya masih dalam status risiko rendah, bahkan lebih dari 50 persen kecamatan di 7 kabupaten di antaranya masuk dalam zona hijau.

Anggota Divisi Perencanaan Riset dan Epidemiologi pada Gugus Tugas Percepatan Penanggulangan Covid-19 Jawa Barat, dr Bony Wiem Lestari, mengatakan perkembangan tersebut adalah hasil kajian mengenai penyebaran Covid-19 dari rentang periode 27 Juli sampai 2 Agustus.

Jika awalnya Jabar tidak memiliki zona merah atau zona berisiko tinggi, kini Jabar memiliki 1 zona risiko tinggi, yaitu Kota Depok.

Kemudian ada 9 zona risiko sedang atau zona oranye, yakni Kabupaten Bandung, Kabupaten Bandung Barat, Kabupaten Bekasi, Kabupaten Bogor, Kabupaten Purwakarta, Kabupaten Subang, Kota Bandung, Kota Bekasi, dan Kota Bogor.

"Sedangkan sisanya yang lain masih termasuk ke dalam zona kuning atau risiko rendah," kata Bony di GOR Saparua Kota Bandung, Jumat (7/8).

Bony mengatakan jumlah kecamatan zona hijau atau yang tidak pernah tersentuh kasus Covid-19 di Jabar pun kian berkurang.

Pada 26 Juli tercatat, kecamatan yang masuk zona hijau berjumlah 247 Kecamatan.

Tapi pada 5 Agustus jumlahnya menurun menjadi 228 kecamatan.

"Sehingga total persentase kecamatan zona hijau di Jawa Barat itu ada sekitar 36 persen. Tapi ada 7 kabupaten yang persentase zona kecamatan hijaunya itu di atas 50 persen, yaitu Kabupaten Tasikmalaya, Sumedang, Garut, Ciamis Cianjur, Sukabumi, dan Majalengka," katanya.

Bony mengatakan Gugus Tugas masih melakukan analisis lebih lanjut di 7 kabupaten ini terkait analisis kependudukan, kemudian sarana prasarana, dan juga konektivitas internet, terkait persiapan dari pembukaan sekolah secara tatap muka kembali.

Bony menjelaskan indikator yang dipakai untuk menentukan zona risiko tersenut adalah menggunakan 3 aspek, yakni aspek epidemiologi surveilans, kesehatan masyarakat, dan pelayanan kesehatan.

Jika dijabarkan, bisa mencapai 14 indikator, antara lain laju positif, laju probable, laju kesembuhan, laju kematian, laju yang sembuh daripada yang positif, jumlah tempat tidur tempat isolasi, jumlah tempat tidur di rumah sakit rujukan, jumlah spesimen yang diperiksa PCR, positivity rate, laju insidensi, dan kematian per 100.000 penduduk.

"Jadi angka reproduksi efektif kita gunakan untuk triangulasi. Indikator ini kami ukur secara rutin setiap minggu dan bisa juga dicek di website bersatu melawan covid di covid.co.id. Jadi di situ untuk Jawa Barat dan juga seluruh provinsi di Indonesia bisa dilihat," katanya. (Sam)

Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved